Ina Yoon (KOR) menorehkan rekor skor dalam sejarah Women’s PGA Championship di Hazeltine National Golf Club setelah menyelesaikan putaran pertama yang berlangsung pada Kamis (25/6). Pegolf berusia 23 tahun tersebut membukukan skor 63 (9-under). Hasil fantastis ini membuat pegolf Korea yang baru bergabung di LPGA pada musim lalu tersebut langsung memimpin leaderboard dengan keunggulan 2 pukulan.
Keberhasilan Yoon memang tercipta pada 6 hole terakhir di lapangan golf yang didesain Robert Trent Jones. Ia sukses memasukkan bola bernilai birdie dalam 5 hole.
“Sejujurnya, saya tidak tahu. Saya hanya memukul bola golf itu dan bola itu langsung masuk ke hole—itu benar-benar, Anda tahu, pengalaman yang luar biasa,” kata Yoon. “Menurut saya, pukulan iron saya hari ini sangat bagus, begitu juga dengan putting. Saya rasa saya tidak melewatkan satu pun putt jarak dekat hari ini.”

Tidak hanya menciptakan skor terendah, Yoon pun berhasil menjaga kartu skornya dari bogey. Skor 9-under menjadi modal awal yang sangat baik bagi pegolf No. 39 Dunia itu, yang sedang mencari gelar pertama di LPGA Tour. Hasil itu pun melampaui skor harian terendah yang terukir pada KPMG Women’s PGA Championship 2019 di Hazeltine National, yang dicetak Nasa Hataoka (65). Sementara, pada U.S. Women’s Open 1966 atau 1977 di Hazeltine, tidak ada satu pegolf yang mencetak skor under-par.
“Coba saja jangan memikirkan apa-apa. Fokus pada apa yang harus kulakukan. Fokus pada prosesnya. Bagian itu, menurutku, aku melakukannya dengan sangat baik hari ini,” kata Yoon, membeberkan mental approach-nya di lapangan.
Untuk rekor skor harian terendah di KPMG Women’s PGA Championships, Yoon menyamai rekor daily score yang dibuat Nelly Korda (putaran kedua di 2021) dan Patty Sheehan (putaran ketiga di 1984) yang sama-sama menorehkan 9-under. Namun, untuk rekor skor harian terendah di seluruh event major sejak 1980, ketiga pegolf itu berada di belakang Hyo Joo Kim di the Evian Championship 2014 (61, 10-under), Mirim Lee di Women’s British Open 2016 (10-under 61), dan Lorena Ochoa di Kraft Nabisco Championship (10-under 62).

Yoon sementara memimpin leaderboard pasca-putaran pertama dengan keunggulan 2 pukulan, dari Karis Davidson (AUS) dalam event major ketiga musim ini. Pegolf Australia berusia 27 tahun tersebut menyusul ke posisi kedua usai menyelesaikan putarannya lebih dari empat jam setelah Yoon. Ia mampu mencetak 8 birdie–yang kemudian dipotong 1 bogey–dan menutup putaran pertama dengan skor 65—rekor terbaik dalam kariernya.
“Banyak pukulan yang mendarat di fairway. Banyak pukulan yang mendarat di green. Pukulan putt-ku hari ini cukup bagus. Rasanya aku benar-benar bisa memasukkan semua bola ke hole,” kata Davidson, yang telah menorehkan rekor lolos cut dalam 15 turnamen berturut-turut—menjadi rekor terpanjang ketiga yang masih aktif di tour, di bawah Korda (31) dan Celine Boutier (20). “Jadi, ini putaran yang cukup sempurna.”

Dua pegolf, Alexa Pano dan A Lim Kim, berbagi tempat di T3 dengan 67. Aline Krauter, Hye-Jin Choi, dan Megan Kang membuntuti di T5 dengan 68.
“Saya hanya berusaha turun ke lapangan dan melakukan swing yang solid,” kata Pano, yang mencetak satu eagle dan tiga birdie di sembilan hole terakhir. “Tujuan saya minggu ini hanyalah benar-benar fokus pada posisi kaki saya dan fokus pada pukulan yang sedang saya hadapi.”

Pegolf No. 1 Dunia Nelly Korda tertahan di T19. Korda yang sedang berusaha menjadi pegolf ketiga yang mampu memenangi 3 turnamen major dalam 1 musim (setelah Inbee Park di 2013 dan Babe Zaharias pada 1950) berturut-turut mencetak skor 70 (2-under), bersama 7 pegolf lainnya. Hingga hole 15, Korda sebenarnya sudah mencetak 4-under. Sayang, satu bad swing di hole 16 menyebabkan bolanya jatuh di kolam sehingga terkena penalty 1 pukulan. Ia menyelesaikan hole itu dengan double bogey.
“Aku membuatnya gagal. Sekarang ini, kamu langsung bisa merasakannya kalau pukulan itu buruk. Angin bertiup dari arah kanan, dan kurasa aku memang melakukan ayunan terlalu cepat, plus aku agak bingung memilih stik yang tepat,” kata Korda. “Itu pukulan tee yang cukup menakutkan, dan aku memang tidak terlalu suka cara aku memukulnya sejak awal.”



