Kiprah Putra Bali di Panggung Golf Dunia

Penyandang gelar Magister of Business Administration ini telah merengkuh banyak pengalaman, dan mungkin satu-satunya putra terbaik Indonesia yang bisa berbicara dan eksis, di berbagai turnamen internasional. Kepada OB Golf, pria kelahiran Denpasar 52 tahun ini berbicara banyak mengenai perjalanan hidupnya hingga akhirnya bisa berada di panggung-panggung dunia.

Anda dikenal senior dalam urusan peraturan golf. Bagaimana dengan golf Anda?

Kenal dengan golf mulai akhir SD-awal SMP. Ayah kan golfer. Biasalah, diajak-ajak main. Awal-awal SMA dah nggak serius dengan golf, kuliah malah sudah nggak pernah main. Lalu, selesai kuliah, sempat kerja di beberapa tempat. Pulang ke Bali, lanjutin usaha orangtua. Bidang usahanya hospitality. Itu kita interaksinya banyak tuh, dengan travel agent, hotel, dan segala macam. Karena itu, ayah saya bilang kamu harus main golf. Karena, salah satu kegiatan untuk entertaint klien itu adalah golf. Aku mulai lagi serius tuh. Kira-kira awal 1990.

 

Lalu, akhirnya mendalami peraturan golf?

Mulai dari situ, aktif golf. Terlibat sama orang-orang golf. Diajak asosiasi, ikut Persatuan Golf Indonesia yang di Bali. Kebetulan saat itu aku diminta ngurusin bidang peraturannya. Aku kenal sama teman-teman bidang peraturan dari PB PGI. Itulah mulainya dari sana. Saya jadi pengurus golf. Ngurusin peraturan golf. Waktu itu yang ngurusin peraturan golf di Bali cukup senior. Mereka butuh orang yang jadi penggantinya. Kemudian saya dikenalkan dengan mentor-mentor saya. Ada Pak Ray Hindarto, ada alm. Ibu Jane dan Corry Pattiasina. Saya juga dikenalkan dengan alm. Pak Rudy Lisapaly dan Pak POM Siregar. Saya ikut sertifikasi yang diadakan mereka.

 

Terlibat di APGC?

Kebetulan karena saya di hospitality industry, saya banyak urusan ke Inggris. Jadi setahun itu saya bisa 2-3 kali ke Inggris. Senior-senior saya waktu itu juga menyarankan, “Kalau kamu sering ke Inggris, kenapa nggak ke Skotlandia sekalian? Mumpung dekat.” Wah boleh juga, pikirku. Aku pun ke Skotlandia, ke R&A. Ambil sertifikasi di sana. Kemudian kan banyak event internasional di lingkungan Asia Pacific (Golf Confederation). Senior-senior saya bilang, “Kamu saja yang berangkat. Kami sudah senior nih.” Aku akhirnya berangkat ke sana, ke Asia Pacific Amateur Golf Championship. Akhirnya aku kenal dengan para rules official di di Asia Pacific. Dari interaksi itulah, aku mulai urusin SEA Games dan segala macam.

Bagaimana bisa dapat jalan ke the Open?

APGC melihat aku lumayan aktif. Mereka meminta aku menjadi head of rules di APGC. Aku pun dipromosikan jadi head of rules di sana. APGC punya satu seat di R&A Rules Committee, badan yang membuat peraturan golf dunia. Karena jadi head of rules di APGC, aku duduk di Committee tersebut sebagai perwakilan Asia Pacific. Posisi di Committee ini otomatis membuat saya jadi official di The Open.

 

Anda juga sibuk beraktivitas di Asian Tour.

Untuk official di Asian Tour, itu aku sendiri berinteraksi dengan orang-orang di sana. Aku bilang, “Aku ingin punya experience di dunia profesional.” Di asosiasi kan kita hanya mengurusi event-event amatir, walaupun internasional. Aku ingin mengetahui bagaimana officiating event-event internasional. Aku juga sudah terlibat di Asian Tour sampai akhirnya bisa di level tournament director. Namun, mulai tahun kemarin saya rasa sudah cukup pengalaman itu. Di dunia profesional itu, referee pun bertindak sebagai referee profesional. Jadi komitmennya harus profesional. Tapi karena aku ada komitmen lain di pekerjaan, jadi aku mundur dari Asian Tour. Aku masih terlibat di APGC. PGI juga.

 

Bagaimana dengan SEA Games?

Aku juga sebagai technical delegate di SEA Games. Itu yang terakhir, SEA Games 2021 di Vietnam. Itu adalah SEA Games-ku yang keenam. Kemarin ketemu Chef de Mission Indonesia yang datang ke sana (venue cabor golf di Vietnam). Oh, dari Indonesia itu, di SEA Games, technical delegate itu hanya 2 cabor. Lumayan berbangga hati juga. Kita bisa mewakili sebagai technical delegate. Di Asian Games. Aku sudah 3 kali. China, Korea, dan Indonesia.  Saya juga jadi rule instructor di regional, Sri Lanka, Vietnam, Kamboja, dan Filipina. Di India juga pernah bantu. Cuma sekali.

 

Sering mendengar istilah technical delegate. Apa sih fungsinya?

Untuk event yang multi, host country itu kan organizing committee (OC)-nya. Misalnya, Vietnam. OC SEA Games 2021. Badan dunianya yang berada di bawah IOC (International Olympic Committee) untuk golf adalah IGF. Nah, ketika host country ini yang sedang melaksanakan kegiatan, IGF mengirimkan orang sebagai pengawas event tersebut. Memastikan kompetisi itu berjalan sesuai ketentuan. Aku tuh datang sebagai technical delegate yang dikirim badan dunianya untuk mengawasi semuanya berjalan sesuai ketentuan.

Bisa mendapat pengalaman sebagai wasit di turnamen-turnamen internasional. Apa syaratnya? Apakah cukup lulus sertifikasi saja?

Sertifikasi wasit itu kan ada 3 level. Jadi badan peraturan dunia itu kan ada dua: R&A dan USGA. USGA itu yurisdiksinya Amerika dan Meksiko. Di luar itu, berada di bawah R&A. Nah, R&A ini mengadakan sertifikasi itu 3 level, Level 1 dan level 2 diserahkan kepada otoritas masing-masing negara. Di Indonesia, ya PGI. Kalau level 3, R&A sendiri yang menyelenggarakan. Setahun sekali mereka adakan di Skotlandia. Namun, dua tahun sekali, mereka adakan di masing-masing regional. Untuk bisa menjadi wasit di level internasional itu, biasanya requirementnya adalah lulus level 3. Kalau bisa, lulus dengan distinction. Jadi ada kriterianya: lulus (saja) dengan poin 60; lulus dengan merit poin 85; dan lulus dengan distinction poin 90. Nah, kalau sudah lulus dengan distinction, biasanya kita bisa diundang. Tapi tidak selalu diundang karena tergantung dengan networking juga. Jadi ada 2 hal: lulus sertifikasi dan punya pengalaman sehingga orang melihatnya kita cukup mumpuni. Di Indonesia itu banyak orang yang cukup mumpuni dalam bidang peraturan, mewasiti juga pengalaman, tapi dia nggak punya sertifikasi. Ada juga yang punya sertifikasi, tapi nggak pernah mewasiti juga. Jadi, kurang imbang. Itu sih sebenarnya. Kita harus aktif di dunia perwasitan.

 

Pengalaman pertama kali di the Open. Ada perasaan nervous nggak waktu itu?

Pasti. Kita kan mainnya dengan star player. Gallery-nya kan luar biasa. Pengalamannnya begini. Kamu dikasih tahu nanti nemenin grupnya ini. Kamu harus tahu namanya semua. Dalam grup itu kan ada 3 pemain, 3 kedi. Lalu, greenkeeper yang bertugas me-rake bunker. Scorer ada dua orang. Ada statistic men. Kalau star group, pasti ada kamerawan dan staf yang bawa baterai kamera. Kalau star groupnya pemain gede banget. TV broadcast-nya ada 3. Ada banyak orang kan itu. Ada forward referee. Ada head of marshals. Kita harus tahu nama semua itu. Nggak boleh panggil “sir” saja. Itu nggak sopan. Ngurusin itu saja sudah pusing, belum lagi ngurusin peraturannya kalau ada kasus segala macam. Kita diatur detail banget.

 

Begitu rumitnya ya.

Lalu, di hole 1, harus berdiri di mana. Di fairway, harus jalan di sisi mana. Itu diatur banget. Karena kita nggak boleh ngeblock kamera. Kamera tuh kan banyak banget. Jadi kita nggak boleh jadi highlight. Jadi kita harus di luar kamera. Tapi di posisi yang kita bisa anytime standby. Kita hanya bisa in frame kalau kita dipanggil. Kalau nggak dipanggil, nggak boleh in frame. Jadi membawa diri saja sudah banyak aturannya. Belum lagi, dalam kita meng-officiate. Itu pun kita harus mengatur diri, mesti tahu di mana ad board-nya, kameranya, kita nggak boleh blocking. Tapi setelah beberapa kali, saya sudah tahu mesti bagaimana.

Ketika di Open, pernah di-challenge pemain ternama?

Aku ada pengalaman tidak terlupakan. Waktu itu mewasiti Jon Rahm dan Lee Westwood. Aku dipanggil Lee Westwood. Dia bilang, “Jon Rahm itu bolanya ada di rough fairway. Dia menggeser ranting menjalar (yang masih hidup).” Itu kan artinya nggak boleh digeser-geser kan. Aku dekati, dan tanyakan. Dia bilang, “Nggak. Bola saya di sini. Itunya tidak mengganggu saya. Jauh sebelah sini saya geser.” Karena di Open banyak kamera, saya cek nggak ada kamera yang nangkap. Waktu itu saya asses penalti karena alasannya nggak masuk akal. Kalau itu jauh, mengapa digeser? Saya bilang, kalau nggak puas, nanti bisa dibahas lagi di scoring area. Ketika di scoring area, saya dipanggil ke dalam. Jon Rahm masih tidak puas dengan penalty. Ketika saya tanya Lee Westwood. Dia jawab, “Kayaknya dia nggak deh.” Dia tadinya protes, lalu malah memihak Jon Rahm. Akhirnya, atas pertimbangan itu, penalty itu dicabut. Cuma, saya jadi bagaimana begitu.

 

Begitu banyak pengalaman Anda di golf. Apakah ada impian golf Anda yang belum tercapai?

Aku kan sebenarnya selesai bertugas di R&A Rules Committee tahun kemarin akibat pandemi. Itu sebenarnya momen yang pas banget aku mundur dari R&A. Saat itu ada Olimpiade dan the Open ke-150 yang mestinya terselenggara pada 2021. Saya ingin mengakhirinya dengan high note. Artinya, saya jadi referee di Olimpiade dan the 150th Open. Itu mimpi saya. Ternyata Olimpiade menggunakan referee local karena pandemi itu. Padahal, saya sudah dapat invitation, akreditasi, dan segala macam. Namun, karena pandemi, jadi batal. Kemudian, karena di the Open 2020 ditiadakan, pergelaran ke-150-nya kan mundur ke tahun ini. Itu yang sebenarnya aku sesali. Maunya juga jadi referee di 4 major. Aku dapat undangan (untuk referee) di Masters dan US Open. Namun, head of championship di APGC memutuskan dirinya yang berangkat ke AS. Banyak sebenarnya yang ingin diakhiri dengan high note, tetapi memang tidak tercapai semuanya.

 

BOKS:

ORGANISASI

2010 – 2021,   R&A Rules Committee

2010 – 2022,   Asia Pacific Golf Confederation (Head of Rules)

2010 – present            Head of Rules of Indonesia Golf Association.

 

AKTIVTITAS TERKAIT GOLF RULES OFFICIAL

2013 – Present Technical Delegate (representing APGC) SEA Games and Asian Games

2012 – Present Rules Official in Asia Pacific Amateur Golf Championship

2013 – 2019     Rules Official in The Open

2009 – 2022    Rules Official in Asian Tour, European Tour

 

EVENT NASIONAL

2008 – Present Run most of Indonesia Amateur Tournaments sanction by Indonesia Golf Association

Tournament Director PON XVIII – XIX

 

RULES/REFEREE SCHOOL

2015    USGA/PGA University, Palm Beach Florida (Pass with Distinction)

2012    R&A Rules Instructor Training level 3, Scotland (Pass with Distinction).

2011    Organise 1st R&A Rules School Level 3 in Indonesia

2010    R&A Referees School Level 3 at St Andrews, Scotland (Pass with Merit)

2009    Asian R&A Referees School Level 3 at Glenmarie Kuala Lumpur (Pass) 2009 – present        Instructor of Indonesian Rules School

Share with

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on email

More News

Fakta di Balik Jeeno

Dari Wonderteen ke Wonderwoman

Musim Lengkap untuk McIlroy

Turnamen Khusus Kedi Se-Jawa dan Bali

Digital Edition

October - November 2022

Keputusan Berani Smith

Manifestasi Mimpi 3 Dekade
August - September 2022

Manifestasi Mimpi 3 Dekade

Major Selanjutnya Master Scottie?
June - July 2022

Major Selanjutnya Master Scottie?

Dunia Mengakui The Goat
April - May 2022

Dunia Mengakui The Goat