Dari Thailand dengan Golf Passion

Krishna Iskandar terbilang cukup terlambat mengenal golf. Mulai mengayunkan stik di usia 13 tahun, pada 2003, Krishna tertinggal jauh dengan teman-teman seusianya. Namun, kemampuan golf sarjana Marketing Komunikasi ini menjadi lebih maju setelah belajar golf lebih jauh di negeri Thailand dua tahun kemudian, yang sempat memberikannya beberapa prestasi. Jika teman-teman juniornya, seperti Nicholas Fung (Malaysia) dan Rashid Khan (India), sudah malang melintang di Asian Tour, Krishna justru tidak melanjutkan karier golfnya ke arena profesional. Kini, pegolf berusia 31 tahun ini lebih banyak beredar di turnamen-turnamen non-prestasi dan menjadi seorang pebisnis. Meski demikian, ia tetap membawa “golf passion” dalam setiap putaran bermainnya. Passion yang telah diusungnya sejak belajar dari Thailand dulu. Bagaimana perjalanan golf seorang Krishna hingga sekarang ini? Berikut wawancara lengkapnya.

Dari Thailand dengan Golf Passion

Bagaimana awal golf jadi bagian Anda hingga saat ini?

Saya start main golf saat berumur 13 tahun pada 2003. Awalnya saya iseng-iseng main di putt-putt golf, mini golf. Di sana setiap bulan ada turnamen. Mama saya menawarkan untuk berlatih golf di Aspirasi 8 (klub golf junior) di Pondok Indah. Saya mulai belajar di sana. Saya memang termasuk terlambat belajar golf. Teman-teman seumuran saat itu sudah single handicap

Perlu berapa lama Anda bisa settle dengan golf?

Setelah 8-9 bulan, saya sudah bisa enjoy dengan golf saya. Saya bermain tidak terlalu lama. Keberadaan pelatih sangat berpengaruh dengan kemajuan golf kita, untuk bisa bermain dengan oke di lapangan, menurut saya.

Anda kemudian berguru golf di Thailand. Bagaimana bisa berlatih di sana?

Desember 2005, waktu itu saya bermain  di sebuah turnamen di Singapura. Waktu itu secara tidak sengaja murid pelatih saya bermain satu grup dengan saya. Di hari terakhir ia menawarkan saya untuk berlatih di Thailand saat liburan atau tahun baru. Di situlah pertama kali saya mencoba ke Thailand. Saya habiskan dua minggu lebih di sana. Tinggal dengan pelatih saya. Dan di dua minggu lebih itu saya merasa improvement saya sangat terlihat di sana. Saat itu saya putuskan mulai berlatih intens dengan pelatih saya, Natpasitt Choktanasart. Satu kali di setiap bulan saya pasti habiskan weekend di Thailand.

Dari Thailand dengan Golf Passion

Saat itu pelatih Thailand-nya sedang melatih siapa?

Pelatih Thailand saya waktu itu melatih Kiradech (Aphibarnrat) yang sekarang sedang berkarier di PGA Tour dan Prom (Meesawat), yang sedang bermain di Asian Tour dan Japan Golf Tour. Ada  Pavit (Tangkamolprasert), yang juga sudah juara Asian Tour–Venetian Macau Open  2016. Ada juga junior saya, Poom (Saksansin), juara Indonesian Masters 2016 dan 2018. Saat itu saya sempat berlatih juga dengan Moriya (Jutanugarn), pegolf LPGA Tour.

Apa yang membuat golf Anda mengalami kemajuan ketika berlatih di Thailand?

Kebetulan pelatih saya waktu itu termasuk salah satu pelatih yang sangat keras.Iklim kompetisinya pun sangat ketat di sana. Di sana ada tradisi: pro-pro senior (yang angkatannya lebih tua) tidak sungkan untuk berlatih bersama para pro junior. Saya ingat waktu itu saya main di turnamen Asian Tour yang ada di BSD. Saat practice round, pro-pro muda Thailand ingin dipasangkan dengan pro-pro senior Thailand yang sudah juara Asian Tour agar mereka bisa belajar (pengetahuan soal course management dan cara bermain) dari para seniornya itu. Saya rasa itu salah satu faktor yang membuat improvement para pegolf Thailand sangat terlihat di Asian Tour. Mayoritas kan  pemain Asian Tour berasal dari Thailand.

Sekian lama berlatih di Thailand, Anda tentunya paham apa faktor penting yang membuat atlet-atlet di sana maju?

Keberadaan sponsor tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu factor yang penting sekali untuk kemajuan sebuah industri olahraga di sebuah negara. Seperti kita tahu, di Thailand ada produk minuman yang mensponsori industry golf di sana, baik itu sponsor untuk person-nya maupun turnamen. Kehadiran sponsor itu sangat mendukung pemain-pemain yang dari grass root di sana, dari level junior hingga timnas, bahkan hingga profesional.

Lalu, bagaimana development-nya dari jalur junior hingga profesional? Apakah hanya bergantung sponsor saja?

Kita lihat kan pembinaan ini dari junior, timnas, hingga profesional. Kita bahas dari junior dahulu. Sponsor dari produk minuman ini menunjuk beberapa pelatih, yang berhak memilih pemain-pemain yang berbakat. Sponsor pun berhak menitipkan anak-anak yang menurut mereka berbakat. Para pelatih tersebut mendapat support untuk sewa tempat akademi, sewa bola, dan di luar itu mereka berhak melatih sendiri. Mereka boleh mencari murid-murid sendiri di luar. Tetapi di saat pemain-pemain yang sponsori ini berlatih, mereka berlatih for free, baik itu soal ketersediaan bola dan juga pelatihnya. Dari beberapa pelatih ini, mereka baru menyaring pemain-pemain yang lebih berbakat lagi. Biasanya mereka ada seleksi untuk national team. Ada 8 laki-laki dan 6 perempuan (timnas). Setiap bulan mereka ada national ranking games, yang menentukan turnamen-turnamen mana saja yang berhak diikuti pemain-pemain timnas ini. Dan setiap tahun mereka ada promosi dan degradasi. Beberapa pemain yang berada di ranking bawah harus ikut seleksi ulang dengan pegolf-pegolf lain yang belum masuk timnas setiap tahunnya.

Dari Thailand dengan Golf Passion

Apakah sistem pembinaan di sana bisa dijalankan di sini?

Saya rasa sistem pembinaan junior dan amatir (Thailand) sangat bisa diterapkan di Indonesia. Sebetulnya kita bisa menciptakan satu sirkuit atau kompetisi yang berkesinambungan di Indonesia. Kita bisa buat turnamen bulan untuk amatir, karena turnamen junior saat ini sudah mulai banyak. Kita memang punya turnamen amatir, tapi saya rasa mungkin sistem national ranking kita bisa lebih digalakkan lagi.

Bagaimana kiprah Anda di turnamen kompetitif amatir sejak 2003?

Saya ikut main di turnamen kompetitif itu mulai 2003 dan berhenti (golf) di 2009. Prestasi saya waktu itu, selain beberapa turnamen junior bulanan yang saya menangi, pernah mewakili Putra Cup 2009 (turnamen beregu Asia Tenggara) di Thailand, menang low amateur di Ancora Pro Series 2009. Dua karier (2009) itu puncak keberhasilan saya di amatir. Saya memutuskan berhenti dari golf pada akhir 2009 karena harus fokus pada masalah keluarga. Ketika ayah divonis kanker pada 2009, saya fokus pada kuliah dan membantu usaha ayah.

Itu sebabnya Anda tidak melanjutkan ke jalur profesional?

Itu salah satu alasannya. Alasan lainnya, saya merasa karier (amatir) saya bagus di Indonesia, tetapi di level Asia saya tidak pernah bisa mendominasi kelompok umur (KU) saya. Prinsip saya waktu itu apabila tidak bisa dominan di KU saya, itu artinya saya tidak cukup bagus untuk compete dengan pemain-pemain lain yang saat itu mendominasi di eranya masing-masing. Menurut saya, (untuk bersaing) di dunia pro kalian harus bisa mendominasi KU kalian dulu, baru kalian bisa memutuskan untuk masuk dunia profesional.

Dari Thailand dengan Golf Passion

Sejak main golf 2003, bagaimana Anda melihat kiprah Indonesia di peta golf internasional?

Ketika mulai golf 2003, saya lihat kita termasuk tertinggal saat itu, bahkan di level Asia Tenggara, walaupun di tahun 1990-an kita termasuk salah satu negara kuat di Asia Tenggara. Saya lihat di SEA Games 2011 kita berhasil meraih beberapa medali (2 emas, 1 perak, dan 1 perunggu). Menurut saya, itu salah satu tahun terbaik untuk golf Indonesia, dari pertama saya main sampai sekarang. Walaupun sekarang kita ada Naraajie (E.R. Putra) dan Kevin (C. Akbar, sebelum pro 2019), tim (amatir) kita cukup kuat, menurut saya, tim terkuat Indonesia adalah saat SEA Games 2011 di Jagorawi Golf.

Saat ini kan banyak pegolf baru yang turun ke lapangan. Sebagai pegolf yang sudah lama main, apa yang bisa Anda sharing bagi mereka?

Buat covid golfer (pegolf-pegolf baru yang bermunculan sejak pandemi Covid 19 pada Februari tahun lalu), jangan ragu untuk berlatih dengan pro-pro yang ada di driving range. Latihan dengan mereka, minta masukan. Banyak pelatih yang sesuai dengan kemampuan bujet kalian. Mereka bisa menuntun kalian untuk bisa main lebih baik. Improve lebih cepat. Satu, kalian tidak akan frustrasi dibanding berlatih sendiri. Dua, mereka akan mengajarkan etika di golf, dan bagaimana menerapkan rules di lapangan golf. Bagaimanapun golf adalah gentleman’s game.

Dari Thailand dengan Golf Passion

Bagi mereka yang baru ini, bagaimana agar golfnya bisa langgeng?

Buat mereka yang baru memutuskan main golf, saya merasakan bagaimana sulitnya main sendirian. Ikut komunitas. Banyak sekali anak-anak yang baru belajar ikut komunitas, akhirnya punya teman, punya network baru dan dengan adanya kompetisi di antara kalian, para pemain baru, akan terpacu untuk belajar (golf) lebih baik lagi. Kalian akan berusaha improve, dan jiwa kompetisi kalian akan muncul. Kalian akan bertahan di golf ini. Beda jika main sendiri.

Ada saran lainnya?

Mainlah dengan teman-teman yang lebih berpengalaman agar ada yang menuntun kalian, tahu etika dan rules di lapangan. Dan yang terpenting adalah pace of play. Ingat, kita tidak bermain sendirian. Di belakang kita, ada pemain-pemain lain yang bermain dan mereka tidak mau terhambat.

Apa pesan-pesan untuk para junior kita?

Pesan saya buat para junior, jangan bermain hanya untuk masuk pro. Bermainlah karena kalian mencintai olahraga ini. Bukan berarti kalian tidak bisa hidup dari olahraga ini, kalian harus berhenti. Main terus. Kalian bisa mempergunakan olahraga ini untuk menjadi tempat kalian mendapat network baru, membangun persahabatan-persahabatan baru. Dan ini olahraga yang ever last. Kalian bisa main golf sampai umur berapapun. Banyak teman saya berhenti karena merasa tidak bisa compete di golf. Menurut saya, jangan berhenti. Teruslah bermain. Kalian tidak harus (selalu) bagus. Nikmati saja permainan ini. Jangan jadikan prestasi kalian yang terhambat membuat kalian berhenti main golf.

Dari Thailand dengan Golf Passion

Share with

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on email

More News

BHULLAR HAT-TRICK!

Tuah Moving Day bagi Pemuncak Leaderboard

Main tanpa Cela, Itthipat Makin Kokoh di Puncak

Putaran 1 Terhenti, Dua Pegolf Pimpin Leaderboard

Digital Edition

Manifestasi Mimpi 3 Dekade
August - September 2022

Manifestasi Mimpi 3 Dekade

Major Selanjutnya Master Scottie?
June - July 2022

Major Selanjutnya Master Scottie?

Dunia Mengakui The Goat
April - May 2022

Dunia Mengakui The Goat

Goal 2022 Think Like Tiger
February - March 2022

Goal 2022 Think Like Tiger