“For lust of knowing what should not be known, we take the golden road to Samarkand”
(Atas keinginan kuat {untuk} mengetahui apa yang seharusnya tidak diketahui, kami mengambil jalan emas ke Samarkand)
James Elroy Flecker
Potongan bait terakhir dari puisi “The Golden Journey To Samarkand” pada 1913 ini mengekspresikan romansa penyair Inggris tersebut terhadap kota itu. Meski James sebenarnya belum pernah sekali pun mengunjungi Samarkand, puisinya itu mampu membangkitkan rasa penasaran dan ketertarikan wisatawan untuk datang ke Kota Jalan Sutra ini.
Karena berada di lokasi yang strategis, kota yang dibangun pada abad ke-8 BCE (Sebelum Era Umum) ini langsung menjadi satu jalur perdagangan yang sangat penting, dikenal dengan jalan sutera, menghubungkan Barat dan Timur. Popularitas Samarkand makin lengkap sejak abad 13 dan 14 Masehi ketika kota itu di bawah kekuasaan Dinasti Temurid, khususnya Kaisar Temir (Tamerlane) yang merupakan penguasa paling sukses dari dinasti tersebut. Di masanya, Samarkand yang merupakan kota kecil menjadi ibu kota kekaisaran.
Dinasti Temurid meninggalkan banyak warisan budaya, yang dikombinasikan dengan berbagai warisan budaya sebelum dinasti tersebut dan juga pasca-Dinasti Temurid hingga di bawah bendera negara Uni Soviet. Kekayaan warisan budaya-budaya ini menjadi daya tarik utama Samarkand hingga saat ini. Bangunan-bangunan bergaya Soviet dan Persia seakan menggabungkan harmonisasi barat dan timur di kota Asia Tengah tersebut. Ini pun terpancar pada masyarakat Samarkand yang dinamis, dingin tetapi ramah. Mereka tetap bergaya ala Barat (Eropa) tetapi juga tidak meninggalkan jati diri orang Timur (Asia).
Kota modern Samarkand saat ini terbagi dalam dua atmosfer: kota tua dan kota baru, yang mulai dikembangkan saat Kekaisaran Rusia (1868-1918) dan Uni Soviet (1922-1991). Kota tua menampilkan monument-monumen bersejarah, toko-toko, dan rumah private tua, sedangkan kota baru menyajikan bangunan-bangunan administratif dengan pusat-pusat kebudayaan dan institusi-institusi pendidikan.