Putaran ketiga the 126th U.S. Open tetap menjadi milik Wydham Clark (USA) di Shinnecock Hills Golf Club. Meski hanya membukukan skor 70 (1-under) di putaran ketiga pada Sabtu (20/6), pegolf AS berusia 32 tahun tersebut masih bertahan di puncak klasemen dengan total 203 (7-under). Clark bahkan meninggalkan selisih pukulan lebih jauh: 6 pukulan dari 4 pegolf yang membuntutinya di T2.
Moving day pada the 126th U.S. Open memberikan makna yang sesungguhnya. Kecuali Sam Stevens dan Tom Kim, perubahan signifikan terjadi di posisi T2 leaderboard. Scottie Scheffler dan Tahith Sagala naik ke posisi T2—bersama Kim dan Stevens. Keempatnya sama-sama membukukan skor total 209 (1-under).

Shinnecock Hills Golf Club kembali menunjukkan kebuasannya pada putaran ketiga turnamen major ini. Lapangan golf karya William Flynn hanya memberikan kesempatan pada 2 pegolf yang mampu membuat skor di-bawah-par, yaitu Scottie Scheffler dengan 69 (1-under) dan Emiliano Grillo yang mencetak 67 (3-under). Hanya lima pemain yang bisa mengukir skor 70.
Hingga putaran ketiga the 126th U.S. Open, Clark masih memimpin di puncak klasemen. Namun, sejarah U.S. Open di Shinnecock Hills menunjukkan fakta bahwa tidak ada satu pun pemimpin klasemen setelah 36 hole di ajang U.S. Open mana pun yang digelar di sini yang berhasil menorehkan namanya di trofi. Nama-nama besar, seperti Greg Norman (1986 dan 1995), Phil Mickelson (2004), dan Dustin Johnson (2018), pernah berada dalam posisi tersebut dan harus pulang tanpa trofi.
Clark bakal menjadi orang yang pertama mengubah sejarah tersebut. Juara .U.S. Open 2023 tersebut pun berada dalam peak permainannya dalam 3 hari pergelaran major U.S. Open 2026. Pukulan-pukulan puttnya bekerja sangat baik.
“Putt-putt itu sangat penting,” kata Clark. “Itulah yang harus kamu lakukan untuk memenangkan U.S. Open. Kamu tidak akan mendapat banyak kesempatan putt birdie, dan saat kamu meleset, sangat sulit untuk memasukkan gimme, jadi kamu harus bisa memasukkan putt-putt dari jarak 1,5 hingga 3,5 meter itu.”

“Aku berada dalam situasi sulit dan berhasil melakukan pukulan yang sangat bagus, lalu memasukkan putt-putt itu,” kata Clark.
Putaran akhir di Minggu, Clark akan bermain dengan salah satu raksasa golf, Scheffler. Pegolf No. 1 Dunia tersebut sedang berupaya mewujudkan misinya: mengukir karier grand slam golf. Scheffler pun dikenal pegolf yang ulet dan panas di akhir-akhir putaran penting. Karena itu, Clark perlu mewaspadai kebangkitan Scheffler, yang lebih menyukai dengan keadaannya sekarang.
“Maksudku, aku lebih suka memimpin,” kata Scheffler sambil tertawa. “Kami sudah berjuang keras selama beberapa hari terakhir, dan aku berhasil mempertahankan posisiku di turnamen ini. Aku butuh putaran yang sangat bagus besok kalau mau mengejar Wyndham.”

Selain itu, ada Theegala yang baru saja melewati musim 2025 dengan cedera, di mana ia mengalami masalah pada leher dan otot oblique. Musim yang buruk itu membuatnya absen dari banyak Signature Events di PGA Tour pada 2026. Ketika di satu titik ia bahkan tidak yakin bisa lolos ke U.S. Open, dan baru mendapatkan exemption pada 18 Mei ketika ia masuk dalam Top 5 di Klasemen FedExCup yang belum memiliki exemption. Posisinya saat ini membangkitkan kepercayaan dirinya lagi.
“Sejujurnya, saya kecewa karena melewatkan beberapa turnamen besar tahun lalu akibat cedera dan memulai tahun ini dengan status yang cukup buruk,” kata mantan pemain All-American Pepperdine itu. “Saya tidak ikut serta dalam turnamen bergengsi atau turnamen besar mana pun.
“Tujuannya hanyalah untuk bisa sampai di sini. Saya suka U.S. Open. Saya tidak tahu apakah turnamen ini cocok dengan gaya permainan saya, tapi saya sangat, sangat menyukai lapangan golf yang sulit.”



