Pada 17 Mei lalu, Black Eagle Golf Course resmi dibuka di Semarang, Jawa Tengah. Kehadiran lapangan golf premium itu tidak terlepas dari buah karya Chandra Leo, yang memulai perancangan hingga selesai. Chandra memang sudah menjalani bidang desain lapangan golf lebih dari 15 tahun. Perkenalannya dengan golf memang diawali dengan terjun ke industri golf, yang kemudian melebar hingga mendesain lapangan golf. Karya terkini pria yang pernah menyandang handicap plus 1 ini adalah Black Eagle Golf Course. Berikut perbincangan ringan OB Golf dengan Chandra:
Sejak kapan Anda mengenal golf?
Dari 1996, jadi sudah 30 tahun sampai sekarang.
Bagaimana ceritanya bisa terlibat di golf?
Saya kerja di sini. Dagang mesin, dagang golf cart. Jadi, berada di industri golfnya.
Selain itu, Anda juga sudah mengembangkan diri sebagai golf course designer. Mulai kapan bergerak ke sana?
Sekitar 2010-2011. Lupa saya.
Sudah cukup lama juga ya. Berapa lapangan yang Anda bangun dari nol?
Bukit Asam pertama. Itu 2010 di Bukit Asam (Golf Course). Habis itu Kemayoran tuh. Sembilan hole di North Kemayoran. Lalu, 2009-2012 Aceh. Baru 2021, Bukit Asam bikin lagi yang baru. Yang lama dibuat jadi tambang. Mulai 2022, kelar 2024 di Bukit Asam. Sebenarnya 1999 saya sudah ikut ketika pembangunan lapangan golf Cilangkap, 9 hole. Saya belajar di situ. Tapi itu nggak saya anggaplah. Itu baru belajar. Terus, yang bener-bener ya mulainya dari Bukit Asam itu.

Apa yang membuat Anda terjun ke bidang ini?
Karena kita sudah bergerak di industri ini sudah lama. Saya melihat ada peluang, ada mendapat kesempatan, dipercaya untuk membuat sebuah lapangan golf yang bagus. Apa saja yang dibutuhkan, terus challenge-nya itu bagaimana sih supaya tidak menjadi biaya yang besar.
Anda mendesain lapangan golf belajar dari mana?
Sendiri saja. Saya memang hobi. Jadi sudah suka dari awalnya. Enggak ada background architect. Basically, autodidak gitu. Saya kan sering ikut golf conference di Amerika Serikat. Sudah ikut 20 tahun lebih. Di Amerika tuh kan ada (organisasi) Golf Course Builder Association. Kita kan ada grupnya di situ. Terus kan saya sering ikut orang. Bikin lapangan golf di mana, dan gimana kan. Jadi pelan-pelan tahu lah. Ini harus bagaimana, naruh bunker di mana. Angle of attack-nya gimana.
Terakhir ini Anda mengerjakan Black Eagle Golf Course. Bagaimana ceritanya?
Black Eagle tuh awalnya cuma (direncanakan) 9 hole mini golf. Kita tuh rencananya mau mulai (pengerjaan) bulan Juli 2024. Nah tiba-tiba Mei (2024) lagi meeting, kemudian diputuskan jadi 18 hole saja deh. Dua bulan kami ngedesain. Wah, setengah mati tuh. Ngegambar, ngitung. Ngitung-nya kan susah. Ngitung engineering-nya, ngitung cut and fill-nya, slopenya. Terus ngitung material.
Kalau lapangan-lapangan yang direnovasi ulang, mana saja?
Kalau renovasi, banyak. Dari 1996 tuh, saya sudah mengerjakan di Graha Family. Kita ikut terlibat di Royal Jakarta. Kemayoran, Gunung Geulis (East Course), Aceh (Lapangan Golf Lhoknga), dan Bukit Asam yang baru. Oh Lombok juga (Sira Beach Golf & Country Club). Tiga hole saja sih. Sedayu Indogolf juga.
Apa challenge utama ketika mendesain lapangan golf?
Challenge-nya itu ya drainage. Itu sangat challenge sekali. Apalagi, jika pembuatannya di dataran tinggi, seperti kaki gunung. Itu lebih susah. Lebih challenge. Kita ngikutin slope-nya. Ketika ngikutin slope-nya, Anda kan harus motong gunung. Sebagian bukit lah ya. Lalu, abis itu kan mesti pikir, drainage, air, tumpahan hujan. Itu mau (diarahkan) ke mana. Konstruksinya pun lebih susah. Tapi hal yang paling menantang lainnya adalah bagaimana supaya tidak mahal menjadi berat investasi untuk si owner yang mempunyai lapangan itu nanti. Dan paling penting juga tidak susah untuk di-maintain.

Sebagai golf course designer, Anda belajar dengan siapa?
Banyak oranglah. Saya belajar sama Bob Moore, Parrot Company. Dengan yang di Australia, Thompson & Wolveridge itu. Lalu, sama orang-orang (Jack) Nicklaus. Jadi belajar dari mereka juga. Kita ngelihat… Oh iya begini, begini. Selain itu kan kita juga main golf. Kan sudah maniak dari dulu kan.
Nah bicara soal main golfnya. Masih jalan aktivitasnya?
Masih tapi sekarang jarang. Tapi saran saya, kalau elo mau main golf, jangan bikin lapangan golf. Enggak jadi main golf lagi. Jadinya, kebanyakan kerja. Apalagi kalau main di lapangan yang elo bikin. Nanti elo lagi main, kayaknya kurang ini. Sama kayak bikin rumah. Ketika sudah selesai, kenapa dulu enggak bikin ini ya? TV-nya kenapa bisa di situ? Enggak di sini. Nggak selesai-selesai.
Best handicap berapa?
Plus 1. Saya mulai handicap kecil itu…2006. Itu dulu. Sudah 15…16 tahun yang lalu-lah.
Sekarang?
Sekitar 12-14 lah. Kalau sudah banyak pekerjaan, ya pasti drop. Tapi ya saya bilang handicap 10- 12 tuh… Orang masih nggak percaya sampai sekarang. Apalagi saya megang driving range. Orang mana percaya? Padahal kita datang ke driving range. Dalam setahun, 10 kali belum tentu saya driving. Datang ke sana kerja. Ngeliatin driving range, apa yang kurang? Dikomplain customer. Ngurusin orang. Kalau mau sering driving, ya pergi ke tempat orang lain.
Sebagai golf course deigner, Anda tentunya belajar mengenai rumput?
Saya masih sedikit banyak mesti ngerti soal rumput. Saya tuh di-ajarin sama Asosiasi Superintendent Padang Golf Indonesia. Saya banyak belajar, bergaul sama mereka. Tapi disuruh ngobatin penyakit rumput, ya saya nggak ngerti. Saya kan bukan dokternya. Golf course superintendent tuh dokter-nya.
Menurut Anda, bagaimana membuat lapangan golf itu bagus atau tidak?
Lapangan golf tuh bagus dan nggak bagus tergantung course superintendent dan tergantung support owner-nya. Karena peralatannya kan banyak. Satu golf course ini alatnya di atas 20 macam loh. Mesin potong rumput. Rough beda. Semi-rough beda. Apron beda. Collar beda. Green beda. Tee box beda. Trimming pohon beda lagi alatnya. Belum lagi blower-nya. Belum sweeper-nya. Belum top dresser-nya. Banyak. Ya kan? Lalu, ada sod cutter buat nempel-nempel itu. Belum verticutter-nya. Banyak. Belum alat mupuknya. Belum lagi yang namanya cultivation fairway yang buat aerator ngelobang-lobang itu. Pokoknya banyak.
Apa sih filosofi utama yang Anda terapkan dalam mendesain sebuah lapangan golf?
Filosofi utamanya itu kebutuhan owner. Untuk apa sih? Kalau filosofinya semua, kalau kita pengennya egoisnya, wah ini harus championship, panjangnya harus sekian, bunker-nya harus banyak, gini gitu. Membuat lapangan golf yang susah, itu gampang sekali. Membuat lapangan golf yang fair dan enak di-mainin untuk segala kalangan, itu tantangan berat.
Seberapa penting aspek playability dibandingkan visual appeal?
Playability tentu lebih penting dibandingkan dengan visual. Visual itu adalah bagaimana membuat lapangan golf itu supaya jadi intimidating. Jadi placing bunker, placing itu taruh apa namanya, pohon, bunker, green, slope, itu penting semua. Tapi yang paling penting itu playability-nya. Playability itu aspek yang paling penting adalah rumputnya harus bagus, harus terawat.
Apa pengaruh perkembangan teknologi sekarang ini terhadap desain lapangan golf?
Itu pengaruhnya besar sekali sekarang. Kita lihat kemarin turnamen US Masters ya. Gary Player waktu diwawancara itu mengatakan bahwa golf course itu harus di-pendekin 60 yard. Karena sekarang dengan stik golf bisa mukul tambah jauh, terus bola golf juga karena teknologi jadi lebih jauh terbangnya, terus spinnya lebih banyak. Pengaruhnya besar. Jadi untuk desain sekarang lapangan itu jadi tambah panjang, tambah panjang. Dulu orang mukul 350 yard nggak mungkin, sekarang bisa 400 yard. Ada yang bisa 400 yard.



