Nama Ceri Natasya Janitra Lo tiba-tiba mengemuka di daratan golf nasional. Pegolf wanita asal Pontianak, Kalimantan Barat, tersebut saat ini sedang menjalani karier profesionalnya di Korea Selatan. Mulai Juli 2026 lalu, Ceri yang merupakan mantan atlet Kalbar tersebut resmi mendapatkan kartu Tour KLPGA, yang terdaftar sebagai international member.
Siapa sebenarnya Ceri? Bagaimana pegolf berusia 25 tahun ini bisa “terdampar” di Korea? Berikut wawancara dengan putri satu-satunya dan anak paling akhir dari 3 bersaudara ini.
Kapan pertama kali main golf?
Jadi pertama kalinya aku main golf itu di akhir tahun di 2021 menjelang 2022. Tapi sebenarnya di olahraga golf itu exposure-nya aku sudah dapat dari sejak kecil. Papa itu main golf dari tahun 1995. Akhirnya pas Corona, Papa ajakin aku ke driving range buat latihan golf.
Lalu, memutuskan untuk turn pro?
Sebenarnya aku memutuskan untuk turn pro itu cukup dadakan sih. Jadi di akhir tahun 2024 itu, my pro coach itu nanya, nggak mau cobain jadi pro. Soalnya sayang aja kayak sudah latihan sedemikian giat, cuma jadi good player. Why don’t you try turning pro? Let’s try, you can do that. Terus akhirnya aku coba discuss dengan orang tua. Mama-Papa juga mendukung. Aku mulai persiapan untuk turn pro itu di April 2025. Akhirnya mendapatkan card itu di July 2026.

Sebelum turn pro, ada pengalaman bermain di turnamen profesional?
Jadi pertama kalinya aku ikut turnamen pro itu pada saat aku masih amatir. Itu di tahun lalu. Kebetulan KLPGA adain International Qualifying Tournament yang berlangsung di Phoenix Golf Bangkok (Phoenix Gold Golf & Country Club) pada Juli tahun lalu. Di sana aku ketemu banyak banget professional golfers from all around the world.
Lalu, bagaimana hasil bermain di qualifying itu?
Berlangsung 4 hari dengan 1 hari practice round. Skornya jujur saja sangat memuaskan bagi aku saat itu, karena aku ke sana diberi target oleh coach untuk konsisten saja main di kepala 7, dan dalam 4 hari itu aku sukses menjaga skor aku stabil 79-79-75-79. Meski belum jadi top player, I did hit our goal.
Apa yang Anda pelajari dari turnamen tersebut?
Aku belajar banyak banget karena I can learn how they create their own play, how they manage to overcome the trouble shots, saving their scores, and the most important one, how they commit never shots.
Untuk turn pro, apa yang Anda siapkan?
Modal aku sendiri, jujur hanya modal nekat dan ambisi. Sisanya papa mama yang support in all aspect. Lalu, dari April 2025 aku dipersiapkan oleh coach aku JDPRO, KPGA Tour Pro, dengan latihan intensif mulai dari jam 7 pagi hingga 7 malam. Dalam 12 jam itu biasanya 2 jam long game, 4 jam green side approach and putting, 2 jam approach to the green (100 m ke bawah), 1 jam bunker shots, 1 jam golf gym dan sisa jam-nya untuk istirahat dan makan. Seminggu 6 hari dan Sabtu itu half day training. Intensif sampai sekarang juga dengan rutinitas yang sama.
Bagaimana pengalaman kamu di Korea hingga bisa bertemu dengan coach JDPRO?
Aku currently stay di korea, pulang ke Indonesia 3 bulan sekali karena menggunakan visa tourist, latihan di Yongin-si, Gyeonggi-do. Tinggal sendiri di dorm akademi. Awal menemukan akademi ini lewat internet, dan awalnya ada beberapa coach di akademi ini, setelah beberapa kali trial di akademi ini (ketika 2022 dan 2024), aku memutuskan untuk fokus mendapatkan pelatihan dari 1 coach saja, yaitu coach aku sekarang Jung Ui Yong, aka JDPRO
Tantangan di amatir pastinya akan berbeda dengan profesional. Kamu sendiri merasakannya bagaimana?
Jadi sebenarnya tantangan terbesar yang aku rasa itu dari diri sendiri sih. Ketika masih level amatir, aku fokusnya untuk berkembang dan menikmati proses itu. Saat sudah turn pro, aku merasa every shot, every decision got their risk. Jadi, skill, technique is not all. Aku perlu manage and learn more to secure my mental health, my consistency, dan recovery, how to save the score, how to make the score, how to make your own play.

Apa pencapaian yang berkesan bagi Anda ketika bisa mendapatkan kartu KLPGA Tour?
Menurut aku, it’s just like a little proof to myself that keyakinan dan sebuah kegigihan itu won’t betray. And it reminds me to keep growing, and dream bigger and bigger. Dan selain itu, sebenarnya ini berkaitan juga dengan target awal aku untuk turn pro, which is jadi the first Indonesian in KLPGA. Aku juga nggak tahu kenapa, tapi kata-kata the first means a lot to me.
Akhirnya, bisa mendapatkan kartu tour di KLPGA. Kamu main di tour mana?
Aku main di Jump Tour (sirkuit KLPGA divisi ketiga di bawah Dream Tour). Pada 1 Juli I got kartu Tour-nya, itu officially turn pro. Tour card valid hingga 2027, tapi aku berharap untuk konsisten tampil hingga 5 tahun ke depan, 2031.
Apa target kamu di KLPGA ini?
Target saat ini, aku ingin menjaga konsistensi dalam play, selain itu juga membangun kepercayaan diri di level profesional. Selain itu, aku juga ingin membantu more Indonesian ladies’ golfer to take part di KLPGA.
Untuk jangka panjangnya, tentu aku ingin menjadi seorang pemain yang mampu bersaing secara konsisten di level yang lebih tinggi, mengangkat piala di panggung yang lebih besar, dan membawa nama Indonesia ke panggung internasional. Selain itu, aku juga ingin menginspirasi Indonesian ladies golfer untuk berani mengejar mimpi. Dream big. Cause everything is possible.



