Naluri Pebisnis dan Stakeholder Golf

Muhammad Sirodzudin adalah tokoh yang cukup dikenal di kalangan golf nasional. Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Golf Indonesia Jawa Barat (Pengprov PGI Jabar) ini mampu menjalankan 2 tugas yang dipikulnya dengan baik: sebagai pebisnis dan juga stakeholder golf. Melalui sentuhan dinginnya, mantan Sekretaris Jenderal PB PGI tersebut mampu mengubah Dago Heritage 1917 yang dipimpinnya tersebut sebagai lapangan golf yang berhasil menghasilkan profit bagi para membernya dengan memaksimalkan lahan-lahan terbatas di wilayah lapangan golf tetapi tetap mengedepankan golf sebagai olah raga dengan biaya yang terjangkau. Dalam organisasi, Sirodzudin bisa menjalankan roda operasional PGI pusat dan daerah dengan menerapkan program pembinaan. Salah satunya adalah menggulirkan kompetisi yang rutin setiap tahunnya. Indonesia bahkan pernah menjadi juara umum SEA Games 2011 ketika Sirodzudin menjabat sebagai Sekjen PGI. 

Mengenai golfnya, kapan Anda mulai kenal olah raga ini?

Tahun 1964. Waktu itu, saya bekerja di sebuah perusahaan dan kebetulan berada di divisi marketing. Nah, di situ saya ditugaskan sama kantor untuk meng-entertaint bos-bos, sehingga wajib golf oleh kantor. Jadi, harus bisa bermain golf. Nah, awalnya saya berpikir buat apa golf ya? Itu mainan orang tua.

Tapi, karena kebutuhan kantor, dengan berat hati saya ikut belajar golf. Nah, itu ya ceritanya. Setelah kenal lama dengan golf, pandangan saya soal golf berubah. Saya malah ingin benar-benar terjun di olahraga golf. Golf itu media yang sangat efektif khususnya dalam bisnis, dalam pergaulan, dan entertaint.

Awal mula hanya main golf, tetapi kemudian masuk organisasi golf. Bagaimana ceritanya?

Sejak 1990-an, saya benar-benar rutin bermain golf dan sebagainya. Di situ, saya pun masuk ke klub PGB (Persatuan Golf Bandung) dan klub-klub yang ada di Bandung. Saya terpilih sebagai ketua di beberapa klub, seperti Kadin Golf, Spirit Golf, dan PGB. Saya masuk ke klub dengan satu tujuan: membina. Pak Arifin (almarhum Arifin Panigoro) meminta saya untuk membantu dalam pembinaan para pegolf junior. Waktu itu, kami bisa membina begitu banyak junior, meski yang berhasil (jadi) itu hanya beberapa orang saja untuk level Jawa Barat.

Anda kemudian masuk di Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia (PB PGI). 

Saya masuk dalam kepengurusan PB PGI karena diminta Pak Arifin yang waktu itu terpilih sebagai Ketua Umum PB PGI periode 2009-2013 untuk bantu beliau di Jakarta. Saya dimasukkan sebagai Sekretaris Jenderal PB PGI. Berbekal pengalaman di PGI Jawa Barat, saya terima ajakan beliau. Dalam kepengurusan beliau, alhamdulillah, Indonesia berhasil meraih 2 medali emas, 2 perak, dan 1 perunggu pada SEA Games 2011. Kita jadi juara umum. Prestasi yang belum pernah diukir sebelumnya di ajang SEA Games. Setelah Pak Arifin tidak terpilih lagi, saya balik lagi ke Jawa Barat hingga sekarang. 

Credit: YM/ OB Golf

Ketika Alm. Arifin menjabat Ketua Umum PB, saat itu fokusnya ke mana?

Pak Arifin waktu itu betul-betul sangat fokus terhadap menciptakan atlet sebanyak mungkin. Dia mencoba untuk mendapatkan atlet dari seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua, sebanyak-banyaknya. Beliau sempat bilang, kalau kita berhasil, kita akan punya banyak atlet. Dengan jumlah penduduk yang besar, atlet kita saat itu sangat sedikit. Untuk itu, Pak Arifin mengadakan event rutin berupa kegiatan junior dan amatir. Waktu itu kita gelar dengan nama PGI series. Setahun bisa 4-5 event, dari Sumatra hingga Jawa Timur. 

Bicara soal pembinaan, apakah ada ilmu yang Anda pelajari untuk menerapkan soal ini? 

Jadi begini. Ketika tahun 2000, saya mendapat kesempatan untuk belajar golf di Amerika Serikat. Bersama (alm.) Charlie Pelupessy, pelatih golf Pondok Cabe, kami dengan rombongan belajar golf di Temecula, San Diego. Kami belajar menjadi teaching pro. Ada sebulan lebih kami belajar di sana. Saya belajar di sana, bagaimana belajar golf, bagaimana mengajari golf, bagaimana melakukan pembinaan dan sebagainya. Itu yang saya lakukan. Dari situ saya makin mencintai golf, khususnya pembinaan golf. Pembinaan golf itu butuh waktu panjang, karena semuanya mulai dari awal. Enggak bisa instan. Itu yang dilakukan di AS. Saya masih punya sertifikat dari Temecula itu (yang dikeluarkan Wally Armstrong-Professional Golf Instructors Institute). 

Usai kepengurusan Arifin di PB, Anda balik lagi ke Jawa Barat. Apa yang Anda lakukan di pengrov saat itu? 

Memperbanyak turnamen. Sebelum saya ke Jakarta, kami punya Jabar Open yang rutin digelar setiap tahun. Namun, saat saya di PB, event itu mulai berkurang. Nah, ketika saya balik lagi, kami bangkitkan lagi eventnya. Kini, dengan nama Olympic Jabar Amateur Open (OJAO), event kami sudah berlangsung hingga edisi ke-7 tahun kemarin. Event ini akan terus kami pertahankan.

Nah, OJAO ini kan event yang masih rutin diadakan hingga saat ini. Apa yang menjadi motivasi Jabar sehingga bisa konsisten mengadakan event ini setiap tahunnya?

Membangun konsistensi. Melalui OJAO ini, kami ingin menjadi barometer pembinaan ataupun kegiatan PGI di Indonesia. Kami sempat terhenti 2 tahun karena Covid-19. Pada 2022 kami lanjut lagi. Sebagai salah satu pengprov besar, kami sadar bahwa kami punya potensi banyak atlet. OJAO ini bisa bermengasah para atlet supaya lebih sering terjun di event-event yang besar. Tidak mengherankan jika Jabar Open ini selalu ditunggu para atlet di seluruh Indonesia karena mereka menginginkan kompetisi tersebut bagi kemampuan mereka. 

Credit: YM/ OB Golf

Bicara soal Dago Heritage. Bisa diceritakan kaitan Persatuan Golf Bandung (PGB) dengan Dago Heritage ini?

Dago Heritage adalah lapangan golf yang awalnya hanya 9 hole dari 1917. Pemiliknya adalah PGB. Status tanahnya adalah milik klub, bukan tanah negara atau pemda. Dalam perjalanannya pada tahun 1987, 9 hole dirasa sehingga harus buat 18 hole. Kami buatlah perluasan hole ini. Uangnya (untuk beli tanah) dari iuran anggota PGB. Nah, dibentuklah PT DE (Dago Endah). Nah, PT DE dan PGB ini bekerja sama setelah memiliki 18 hole. PGB yang mengurus klub, pembinaan dan prestasi, sedangkan pengelolaan organisasi oleh DE, untuk sisi komersialnya. Klub enggak boleh cari untung. Awal kerja sama itu, DE sulit berkembang yang berdampak pada kondisi klub dan lapangan. Ketika saya masuk 1990-an, sebagai Ketua PGB, saya mengakuisisi PT DE. Barulah ada perubahan besar hingga saat ini. Dago Heritage sendiri mulai digunakan pada 2017, tepat perayaan 100 tahun lapangan golf tersebut. 

Kini, Dago Heritage 1917 tampil beda dengan 10 tahun sebelumnya. Apa yang berubah pada lapangan ini?

Kami bangun hotel, lakukan perbaikan lapangan dan juga club house. Jika selama ini hanya bergantung pada income operasional lapangan, pemain-pemain, dan juga dari F&B. Dago Heritage saat ini pun mendapat pemasukan dari hotel. Kami pun baru membuka operasional driving range baru tahun kemarin sehingga bisa menambah income Dago Heritage 1917, dengan memaksimalkan fungsi lahan yang terbatas. 

Sebagai pimpinan Dago Heritage, apa konsep yang ingin Anda tawarkan dari lapangan ini? 

Pertama,  kita ingin mengenalkan golf itu bukan olah raga yang mahal. Contoh, di weekend Anda sudah bisa main dengan Rp800.000-900.000. Di weekday harganya bisa lebih rendah dari weekend. Kami ingin memasarkan golf untuk keluarga, menciptakan newbie-newbie di golf, dan menciptakan pembinaan dengan fasilitas yang biayanya terjangkau. Kami tidak ingin ambil untung gede. Yang penting, kami ingin Dago Heritage ini menjadi greenbelt, area penghijauan, pembinaan golf, pariwisata, tempat untuk ngumpul-ngumpul, dan sebagainya. Karena itu, kami menciptakan lapangan golf yang menjadi destinasi. Di sini itu destinasi, Dago Heritage. Mengapa heritage? Karena itu kawasan. Ada golfnya, ada hotelnya, ada restorannya, ada driving range-nya. Orang merasakan bahwa destinasi di sini itu kombinasi olahraga dan hiburan.

(Penulis & Credit: YM/ OB Golf)

Share with

More News

DP World Tour Dituding Lakukan “Pemerasan”

HSBC Women’s World Championship: Hannah Green Raih Trofi Ketujuh LPGA

HSBC Women’s World Championship: Duo Australia Sukses Gusur Pemuncak 36 Hole

Program Ramadan ala Riverside Golf Club

Digital Edition

COVER FEB MAR 2026
Februari - Maret 2026

Pertarungan Antara Prestasi dan Cinta

Cover DES-JAN 2026
Desember 2025 - Januari 2026

Golf Dunia dalam Genggaman Wanita 22 Tahun

COVER OKT-NOV 2025_page-0001
Oktober - November 2025

Hegemoni Sang No.1 Di Pentas Sejagat

Screenshot 2025-08-13 003040
Agustus - September 2025

Ada Apa dengan Collin Morikawa