Gelar Workshop Bisnis, GCMAI Dorong Para Pelaku Industri Golf untuk Sigap Hadapi Tantangan Zaman

Selasa (18/2) kemarin, Golf Club Managers Association Indonesia (GCMAI) menggelar workshop bisnis di Damai Indah Golf-PIK Course, Jakarta. Mengusung tajuk “Reimaging Golf: Strategi Transformasi dan Inovasi untuk Industri Golf Indonesia”, acara tersebut dihadiri lebih dari 100 peserta yang merupakan para pelaku industri golf, mulai dari pemilik lapangan, manajer, hingga pemain golf yang menjadi pemerhati dalam industri golf ini. Acara ini sendiri bertujuan untuk mencari solusi atas tantangan dan peluang yang dihadapi industri golf di Indonesia. Karena itu, para pelaku industri didorong untuk meningkatkan kompetensi, berinovasi, dan mempersiapkan masa depan golf sebagai industri yang dinamis dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Rina Maharani, Ketua GCMAI, menyoroti permasalahan dalam industri golf di Indonesia yang berada di persimapangan jalan. Setelah mengalami euforia dan kebangkitan setelah pandemi Covid-19, kata Rina, dikhawatirkan ada semacam stagnasi dan ketertinggalan seandainya tidak ada perubahan yang signifikan dalam industri ini.

“Golf harus dikelola bukan hanya sekadar sebagai permainan semata, melainkan sebagai sebuah industri.  Industri yang harus berkelanjutan. Industri yang membantu devisa negara dengan golf turismenya.  Satu, profesionalisme dari manajerialnya. Golf tidak bisa dikelola asal-asalan. Standar kita harus dinaikkan, Kompetensi harus ditingkatkan. Teknologi harus diadaptasi sehingga kita bisa mencapai efisiensi. Yang ketiga adalah regenerasi. Tanpa generasi penerus, industri ini bisa habis dan berubah,” jelas Rina.

Oleh karena itu, lanjut Rina, ada 4 tantangan utama yang mesti dihadapi industri golf di Indonesia saat ini. Pertama, bagaimana mempertahankan minat masyarakat yang baru mengenal golf setelah lonjakan popularitasnya pasca-pandemi. Kedua, bagaimana menarik minat generasi muda yang memiliki preferensi berbeda dan menginginkan fleksibilitas serta digitalisasi. Ketiga, biaya operasional yang semakin tinggi, sehingga efisiensi menjadi keharusan. Keempat, masalah klasik terkait perawatan lapangan golf yang membutuhkan solusi inovatif.

Dalam mencari solusi atas tantangan dan peluang yang dihadapi industri golf di Indonesia ini, workshop bisnis GCMAI menghadirkan 2 pembicara yang berkualitas. Mereka adalah Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk., dan Rhenald Kasali, akademisi dan praktisi bisnis, yang membagikan ilmu dan pengalaman mereka yang tentunya bisa diterapkan dalam menyiapkan strategi transformasi dan inovasi untuk industri golf Indonesia.

Credit: GCMAI

Jahja yang merupakan pimpinan perusahaan bank swasta terbesar di Indonesia ini menyampaikan perjalanan dan pengalaman banknya yang mampu menjawab tantangan zaman dari satu generasi ke generasi lainnya. BCA kini tetap menjadi bank swasta yang memiliki jumlah nasabah terbesar dan fasilitas pelayanan yang mampu menjangkau nasabah daari berbagai usia. Sementara itu, Rhenald yang kini merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ini menyoroti perilaku masyarakat dari berbagai generasi. Berkaca pada perkembangan perilaku bisnis, ia pun menggarisbawahi bahwa kemajuan sebuah industri saat ini bergantung pada 3 hal, yaitu implementasi strategi digital berbasis algoritma, pengembangan model bisnis yang lebih adaptif, serta investasi dalam teknologi dan sumber daya muda.

Share with

More News

DP World Tour Dituding Lakukan “Pemerasan”

HSBC Women’s World Championship: Hannah Green Raih Trofi Ketujuh LPGA

HSBC Women’s World Championship: Duo Australia Sukses Gusur Pemuncak 36 Hole

Program Ramadan ala Riverside Golf Club

Digital Edition

COVER FEB MAR 2026
Februari - Maret 2026

Pertarungan Antara Prestasi dan Cinta

Cover DES-JAN 2026
Desember 2025 - Januari 2026

Golf Dunia dalam Genggaman Wanita 22 Tahun

COVER OKT-NOV 2025_page-0001
Oktober - November 2025

Hegemoni Sang No.1 Di Pentas Sejagat

Screenshot 2025-08-13 003040
Agustus - September 2025

Ada Apa dengan Collin Morikawa