Memotivasi Para Pelaku Operasional Golf untuk Maju dan Mampu Bersaing

Berlangsung pada 16 Desember kemarin, PT Rama Prima Golf, perusahaan yang fokus dalam konsultansi manajemen dan operasional (lapangan) golf, mengadakan sebuah kegiatan berupa talkshow & fun golf. Melalui kegiatan yang bertajuk “The Rise of Golf Operations”, talkshow tersebut mengangkat tema “Golf Operations to The Next Level” yang berlangsung di Mountain View Golf Club, Bandung.

Diikuti sekitar 60 peserta dari 18 lapangan golf (Jabodetabek, Banten, Semarang, Belitung, dan Bali) yang berasal dari berbagai divisi di golf operational, event RPG ini terlebih dahulu memulai kegiatan dengan fun golf yang dimulai pada pagi hari. Fun golf ini sendiri lebih semacam breaking the ice sebelum memasuki ke acara utama yang “berisi”.

Credit: RPG

Dipandu Rina Maharani, General Manager Palm Hills Golf Club dan juga Ketua GCMAI (Golf Club Managers Association of Indonesia), TalkshowThe Rise of Golf Operations” menghadirkan narasumber-narasumber yang telah lama berkecimpung dalam operasional lapangan golf, yaitu Sigit Pramono, General Manager (GM), Bogor Raya Golf Club; Kusdiman Sutardja, Assistant Director Kedaton Golf & Country Club; dan Bagus W. Kurniadji,  Direktur Operasional PT Rama Prima Golf. Mereka ini (moderator dan para narasumber) merupakan para pekerja yang mengawali karier mereka di industry golf ini, khususnya golf operational, dari level paling bawah. Namun, kini mereka berada di jenjang tertinggi dalam struktur pekerjaan golf operational.

“Saya yang merupakan lulusan sekolah pariwisata di Yogyakarta mulai bekerja sebagai waiter di Hotel Aryaduta Lido tahun 1994. Namun, dalam 2 tahun, saya bisa menduduki posisi sebagai banquet operation manager. Apa yang saya lakukan untuk bisa mencapai posisi ini? Ketika menjadi waiter, saya belajar banyak hal dari atasan saya. Mencari tahu apa-apa yang dikerjakan dalam posisi seperti atasan saya. Saya yakin saya bisa melakukan seperti yang dikerjakan atasan saya. Motivasi untuk maju itu yang terus mendorong saya hingga seperti sekarang ini,” kata Sigit, yang mulai berkarier di lapangan golf sebagai Supervisor F&B Klub Golf Bogor Raya (1998) hingga akhirnya menjadi GM sejak 2018 sampai sekarang.

Kusdiman menyampaikan pengalaman yang cukup menarik ketika mulai bekerja. Berasal dari keluarga tidak mampu, Kusdiman hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga sekolah menengah atas (sekarang, sekolah menengah umum). Ketidakmampuan ini justru mendorong Kusdiman untuk mencari cara agar bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia pun memutuskan untuk bekerja.

Bekerja di pabrik sepatu (1991-1993), Kusdiman yang masuk bagian perencanaan di divisi produksi hanya mampu bertahan selama 2 tahun. Pekerjaannya tersebut menyita waktu sehingga cita-citanya untuk tetap melanjutkan sekolah terbengkalai. Ia pun mencari pekerjaan yang punya waktu luang.

“Masuklah saya di Modern Golf sebagai kedi tahun 1993. Di sini saya bisa kembali sekolah, sambil bekerja. Setelah menikmati sekian lama, saya pun merasa monoton dalam kerjaan saya. Saya ingin peningkatan karier. Saya yakin bahwa saya bisa. Saya punya kemampuan yang saya sendiri tidak sadari. Ternyata di golf itu banyak yang bisa saya pelajari. Saya belajar peraturan golf dan sebagainya. Saya pun bergabung di Kedaton Golf,” kata Kusdiman.

Di Kedaton, bekerja dengan pimpinan yang merupakan seorang ekspatriat, Kusdiman menata karier golfnya, dari starter, golf operational, club manager, hingga akhirnya menjadi Assistant Director Kedaton Golf & Country Club.

“Saya tidak punya basic apa pun. Tapi saya mau belajar apa saja. Marketing, golf operational, dan F&B, semuanya saya pelajari. Saya selalu tidak puas, selalu ada belajar hal-hal yang baru dan selalu muncul keinginan untuk terus maju,” jelas Kusdiman, membocorkan rahasia keberhasilan jenjang kariernya.

Sementara itu, sama dengan Kusdiman, Bagus yang tidak menyelesaikan kuliah mulai bekerja sebagai hotel dispatcher hingga menjadi assistant manager hotel, lalu pindah ke kontraktor sebagai asisten logistik hingga mencapai posisi assistant manager di general affair. Ketika banting setir ke industri golf, Bagus memulainya di Riverside, sebagai caddie master.

“Pengalaman dan pengetahuan golf saya nol. Saya belajar dari kedi-kedi dari Bogor Golf Club. Pelajaran itu saya susun jadi buku manual untuk pelatihan kedi. Berbekal dari situ, saya banyak belajar hal dari golf operational dan sebagainya,” kata Bagus, yang kemudian berpindah-pindah lapangan golf, menata karier dari bagian operation sebagai supervisor, lalu club operation, hingga kemudian menjadi asisten GM hingga GM di beberapa lapangan golf, seperti Riverside Golf Club, Palm Hills Golf Club, dan New Kuta Golf.

Sigit & Bagus

“Apa yang menjadi dasar itu sebetulnya bekerja di mana pun itu sama. Yang penting, punya keberanian dan spirit. Jangan terlalu nyaman dengan kondisi yang ada. Kalau sudah nyaman, kita cenderung lalai dan kemudian akan bertindak ceroboh,” kata Bagus.

Berbagai kisah dan pengalaman para narasumber yang memulai dari bawah hingga mencapai jenjang tinggi seperti sekarang ini menjadi pelajaran yang menarik untuk para peserta. Ini pula yang dialami sang moderator Rina, yang menata kariernya di administrasi purchasing lapangan golf hingga mencapai posisi GM selama lebih dari 30 tahun perjalanan di industri golf.

“Skill kita, apa pun posisinya, harus terus ditingkatkan agar kita bisa bersaing dengan dunia internasional. Tentunya juga untuk keberlanjutan industri ini,” ujar Rina.

“Melalui diskusi ini, kami menekankan pada inovasi, kemampuan beradaptasi, dan kolaborasi sebagai kunci kesuksesan karir di industri yang terus berkembang ini.”

Kegiatan talkshow & fun golf “The Rise of Golf Operations” mendapat sambutan positif dari para peserta. Mereka belajar banyak tentang apa-apa yang perlu dipupuk dalam diri mereka. Hal ini memang yang menjadi tujuan RPG ketika menggulirkan event ini.

“Event ini untuk memotivasi kalangan dari bidang golf operational. Kami sudah lama eksis di bidang konstruksi dan maintenance golf. Namun, di bidang manajemen, eksistensi para pelaku di golf operasional ini masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, kami dari RPG merasa perlu mengangkat (tema) ini agar para personel golf aware dan terbuka untuk maju dalam pengoperasian lapangan. Indonesia ini kan bercita-cita untuk menjadi the best golf destination di wilayah Asia Tenggara. Nah, untuk ini, tidak hanya lapangannya yang bagus, tetapi juga pengoperasiannyam” kata Qamal Mutaqin, Direktur Utama PT Rama Prima Golf.

“Ke depannya, (talkshow) ini hanya starter untuk mereka. Mereka punya ilmu, tetapi perlu peningkatan. Untuk menambahnya, mereka perlu mengikuti pelatihan-pelatihan, mungkin dari GCMAI (Golf Club Managers Association of Indonesia), atau pertemuan-pertemuan untuk peningkatan kualitas individu mereka. RPG ingin turut serta dalam peningkatan kualitas skill para golf operations ini.”

Share with

More News

Ciputra Golfpreneur Awards 2026: Apresiasi Untuk Para Sponsor CGF

Mantan Juara Indonesian Masters Puncaki Klasemen Ronde Pertama LIV Golf Singapore

Sergio Garcia dan Fireballs GC Nantikan Momen Kebangkitan di Aramco LIV Golf Singapore

Royale Jakarta Golf Club Padukan Kompetisi dan Aksi Kemanusiaan

Digital Edition

COVER FEB MAR 2026
Februari - Maret 2026

Pertarungan Antara Prestasi dan Cinta

Cover DES-JAN 2026
Desember 2025 - Januari 2026

Golf Dunia dalam Genggaman Wanita 22 Tahun

COVER OKT-NOV 2025_page-0001
Oktober - November 2025

Hegemoni Sang No.1 Di Pentas Sejagat

Screenshot 2025-08-13 003040
Agustus - September 2025

Ada Apa dengan Collin Morikawa