Di tengah kesibukan dalam mengelola Palm Hill Golf Club, Rina Maharani mendapat kepercayaan dari para anggota GCMAI (Golf Club Manager Association Indonesia) untuk memimpin wadah bagi para general manager lapangan golf tersebut. Memimpin sebuah organisasi golf tentunya bukan hal yang asing wanita yang menyandang gelar magister science ini. GCMAI bisa dianggap sebagai salah satu biduk yang bisa dikelola dengan pengalaman berorganisasi Rina yang sudah berkecimpung di industri olahraga ini selama lebih dari 30 tahun ini. Berikut kisah perjalanan karier wanita yang pernah menjadi dosen kajian politik di Universitas Indonesia tersebut kepada OB Golf:
Saat ini apa kesibukan Anda selain memimpin Palm Hill?
Saat ini saya memang sekarang designated untuk (mengelola) yang di Palm Hill kan. Namun, saya juga ditugasi dalam Grup (Intra Golflinks Resort) untuk membantu perusahaan holding yang sekarang sudah jadi Tbk. Nah, dulu waktu mau menuju IPO (initial public offering, proses penawaran saham perdana) Tbk., saya juga diminta untuk bantu di sana untuk selaku GM, marketing, dan public relation. Itu di holding. Kemudian, untuk lapangan Palm Hill yang baru, saya juga diperbantukan untuk ikut asses dan persiapanlah. Itu sih kesibukannya penuh begitu.
Bicara New Palm Hill. Apa perbedaan Palm Hill yang sekarang dengan New Palm Hill ini?
Ya, sebetulnya sama aja kan. New Palm Hill itu sebagai penggantinya Palm Hill, karena memang Palm Hill (lama) ini ke depannya akan menjadi properti, kerja sama dengan PT Trinity. Nah, sebagai gantinya kita memang lagi membangun di, kurang lebih jaraknya sekitar 7-9 km lah (dari sini).
Apa yang jadi kelebihan New Palm Hill itu?
Keberadaan lapangan golf itu ternyata (akan) menjadi pionir untuk pengembangan suatu wilayah. Sekarang kita ngelihat-nya semua sudah jadi, daerah tersebut sudah jadi. Tapi dulu waktu mungkin 20-30 tahun yang lalu, lapangan golf masuk belum apa-apa. Baru kemudian nilai tanah naik, tingkat perekonomian bergerak, daerah sekitarnya menjadi maju. Saya lihatnya begitu.
Memang sebaiknya golf itu bisa bantu untuk mengembangkan suatu wilayah yang mungkin masih terbelakang, atau memang masih abandon begitu ya, masih jauh supaya dia lebih bisa berkembang daerah tersebut. Kalau saya melihatnya begitu. Makanya New Palm Hill dibangun di sana, saya yakin nanti di sana juga kemudian nanti ada pembangunan-pembangunan yang lain yang tentunya bisa bantu meningkatkan perekonomian. New Palm Hill berada di kawasan Bogor Poros Tengah Timur (Puncak 2).
Jadi, kalau misalnya itu bisa dikembangin, kita juga di situ ada fasilitas lapangan golf yang sudah jadi, jalan puncak 2-nya kemudian in another 5 years jadi, itu akan bagus sekali. Banyaklah manfaatnya ngurai kemacetan, mengembangkan potensi wisata di daerah tersebut. Pastinya tentunya kita juga mesti mikirin dampak lingkungan dan lain-lain.

Desember tahun lalu, Anda resmi memimpin GCMAI. Apa target yang ingin Anda capai ketika dipercaya memimpin organiasasi ini?
Saya kan sudah aktif udah lama sebetulnya waktu jaman ICMA (Indonesia Club Manager Association, yang kemudian berubah menjadi GCMAI). Jadi, menurut saya wadah GCMAI ini bisa menjadi (tempat) sharing pengalaman bagi GM-GM baru. Kan saya sudah lama juga jadi GM, jadi mustinya punya legacy, bisa sharing something yang mungkin dulu saya sulit nih dapetin begitu ya ilmu-ilmu. Waktu saya ikut GCMAI juga kita sharing tuh sama teman-teman yang lain. Sebetulnya, saya ingin (GCMAI) ini bisa jadi wadah yang diandalkan sama teman-teman, jadi tempat berpijak begitu ya. Ke depannya saya juga lagi prepare GCMAI kayak yellow pages-nya. Misalnya, punya database supplier apa pun. Itu bakalan jadi buku yang penting deh buat seorang GM, supaya dia juga lebih mudah dalam bekerja. Kedua, yang saya kemarin sudah bikin juga itu, training-training. Nah, kalau ini kan produk nih. Produk yang saya mau keluarkan tuh kayak SOP. SOP itu nanti mungkin kemudian kita pakai web-based. Jadi, SOP marshal misalnya, cuma nge-click aja, Marshal, keluar tuh SOP. Mau dikembangkan sendiri, mau ditambahin sendiri, silakan. Paling enggak dia udah punya guidance. Data supplier, vendor, atau kontraktor. Terus SOP juga mungkin nantinya bisa disesuaikan dengan semangat zaman yang mungkin 10 tahun lagi. Jadi kami hanya memberikan suatu insight aja. Nanti biar ke depannya lebih gampang lah. Nggak kayak dulu kita yang bingung gitu loh nyari. Kalau di GCMAI sih saya tujuannya lebih ke sana. Mempersiapkan GM-GM yang sekarang itu punya pengetahuan yang lebih.
Bisa diceritakan sedikit GCMAI itu organisasi apa?
Dulu tuh kan ada ICMA ya, Indonesian Club Manager Association. Yang ngumpul sekelompok bule. Kan dulu kan memang (pimpinannya) orang asing semua tuh. Mereka ngumpul dan kemudian mereka membentuk wadah itu. Tujuannya memang ya sama sebetulnya. Sharing, silaturahmi, berbagi ilmu. Ketika krisis moneter 1998, kita-kita kebagian berkah. Kita yang lokal-lokal kemudian naik. Akhirnya kita yang kemudian mengisi tuh ICMA itu. Dan kemudian berubah namanya menjadi Golf Club Manager Association. Karena kalau club manager kan bisa bidang apa saja, bukan lapangan golf. Jadi, ditambahi kata “golf”-nya.
Menurut Anda, bagaimana prospek lapangan golf Indonesia ke depannya, khususnya persaingan dengan kompetitor yang sama di wilayah regional ASEAN?
Kita sebetulnya kan punya potensi bagus ya. Satu, servis. Dua, alam. Kayak kemarin saja saya pergi ke Sentosa Golf, emang surrounding-nya bagus? Enggak. Emang view-nya cakep? Enggak. Background-nya pelabuhan kayak begitu kok. Tapi karena bersih dan enggak jorok, airnya enggak bau. Jadi fine-fine aja.
Tapi, sebetulnya kan view di Indonesia gila ya, seperti Bali Handara yang cakep banget. Terus, New Kuta yang punya cliff. Itu kayak lapangan golf di Amerika tuh, Pebble Beach. Itu kan hampir sama kayaknya. Lapangan-lapangan golf di Jakarta pun semua cantik. Menipedi banget maksudnya. Semua dirawat, manipedi, bunga, dan landscapenya. Walaupun surrounding-nya tidak mengandalkan alam, mereka membuat lapangan golf itu indah. Bogor Raya, Pondok Indah, Damai Indah-PIK, misalnya. Cakep semua. Jadi maksud saya keunggulan di produk dengan desainer dari luar begitu ya dan bertaraf internasional, itu sudah menjual sih. Alam di (Indonesia)-nya juga luar biasa. Ada lapangan-lapangan golf yang dibangun benar-benar menonjolkan keindahan alam Indonesia.
Kita punya hospitality. Orang kita tuh ramah ya dibandingkan dengan negara-negara di regional Asia umumnya. Yang bisa ngalahin hospitality di sini ya Thailand. Kedinya banyak yang nggak bisa bahasa Inggris, tetapi mereka helpful. Mereka enggak perlu cantik, tapi helpful. Kita tuh enggak boleh riweuh main golf. Jadi, bagaimana lapangan-lapangan di Indonesia bisa menerapkan hospitality-nya yang genuine dan helpful seperti itu merupakan salah satu PR dari GCMAI juga sih.
Anda sudah berkecimpung di industri golf ini lebih dari 30 tahun. Bagaimana awalnya bisa masuk di industri ini?
Sebenarnya, saya masuk ke industri golf ini tanpa rencana besar. Awalnya, saya bekerja sebagai admin purchasing di proyek lapangan golf Lido di usia 18 tahun (1993). Tujuannya simpel, buat biayain kuliah. Namun, ternyata, dari pekerjaan itu saya mulai belajar banyak. Tiap hari saya berurusan dengan dokumen pembelian peralatan golf, sistem irigasi, hingga mesin perawatan lapangan, serta belajar soal peraturan golf. Awalnya saya cuma lihat-lihat saja, tapi lama-lama saya mulai paham bagaimana sebuah lapangan golf dijalankan.
Setelah beberapa waktu, saya pindah ke marketing lapangan golf. Tugas saya saat itu lebih ke mengelola reservasi, event, dan hubungan dengan golfer. Nah, dari sini saya mulai lebih dekat dengan operasional lapangan golf. Namun, yang benar-benar mengubah perjalanan karier saya adalah krisis moneter 1998. Itu jadi titik balik buat banyak orang di industri ini, termasuk saya, hingga mencapai posisi seperti saat ini.
Berada di industri golf, tetapi gelar magister-nya malah politik. Apa yang terjadi nih?
Saya kan cita-citanya mau jadi diplomat. Saya tuh S1-nya di Sastra Inggris. Itu bukan karena saya suka, melainkan karena biaya kuliahnya paling murah dulu itu. Jadi, paling aman. Lalu, lulus dari situ, dosen saya dan juga beberapa kenalan saya menyarankan untuk mengambil S2-nya di wilayah politik sesuai dengan cita-cita saya sebagai diplomat. Namun, rupanya tidak terwujud. Saya sudah ikut tes tiga kali, enggak tembus. Nggak tembus. Tes Kemenlu enggak tembus. Mungkin memang jalan sukses saya ya di sini (industry golf).

Apa tesis yang Anda buat untuk menyelesaikan S2?
Ini menarik. Saya ambil S2 di Universitas Indonesia, jurusan Kajian Wilayah Amerika. Tesisnya, “Tiger Woods sebagai Representasi Multikultural Amerika”. Saya pilih Tiger karena menurut saya, dia lebih dari sekadar pegolf hebat. Ia adalah simbol perubahan sosial dalam dunia golf. Sebelum dia muncul, golf masih sangat identik dengan pemain kulit putih dan lingkungan yang eksklusif. Tiger, dengan latar belakang campurannya—Afrika, Asia, dan Amerika—mengubah cara orang melihat golf. Dia membuktikan bahwa golf bisa lebih inklusif, lebih beragam, dan menarik bagi generasi muda.
Bagaimana pengelolaan Anda di Palm Hill ini sehingga tetap bisa jadi salah satu destinasi golf favorit di Bogor?
Mungkin saya dapat contoh pengelolaannya dulu yang bagus. Saya punya contoh yang atasan itu memperlakukan karyawan sangat manusiawi. Dia bilang kalau karyawan kita ke kitanya bisa happy, enggak kaku, enggak takut, suasana fearness yang ada di clubhouse juga nggak akan ada. Tapi kalau kita bikin suasana friendly, suasana di clubhouse juga bakalan friendly. Mungkin aku lebih kayak orang tua sih ke mereka. Marahnya Ibu, bukan marah yang sifatnya ke fisik. Misalnya, kalaupun saya marah, saya kasih tahu yang baiknya adalah seperti ini. Saya lebih senang ngasih contoh di awal, kemudian saya biarkan mereka kerja, terus saya liatin.
Jadi itu ada trust-nya di situ ya. Kemudian saya encourage mereka juga buat kreatif. Saya enggak pernah nyalahin ketika mereka punya ide sekonyol-konyolnya. Mereka nggak pernah takut untuk bicara apa pun ke saya. Komunikasi saya dengan yang direksi, juga dengan yang di bawah, sangat baik. Ketika bisa menerapkan itu dengan baik, sikap semua staf kepada tamu pun akan baik. Para tamu pun akan merasa, “I’m home!”
(Teks & Foto: YM/ OB Golf)



