Status Baru Mantan Dua Pegolf Amatir

Mulai tahun ini Gabriel Hansel Hari dan Alfred Raja Sitohang resmi menanggalkan status amatirnya, dan beralih ke profesional. Dengan statusnya barunya itu, penampilan terkini mereka dalam The Indonesia Pro-Am presented by Combiphar & Nomura pada pertengahan September cukup menjanjikan. Hansel bisa mencapai T42 di ajang Asian Development Tour yang kedua kalinya di musim ini, sedangkan Alfred bahkan bisa menorah hasil yang lebih baik lagi di posisi T18.

Kepada OB Golf, Hansel dan Alfred berbicara banyak terkait dengan status barunya ini. Berikut perbincangannya:

Tahun ini kalian berstatus profesional. Apa yang jadi keputusan untuk turn pro

Hansel: Soalnya, Juni kemarin graduate dari college. Jadi, udah waktunya turn pro

Alfred: Aku pengen turn pro saja sih.

 

Kita tahu kompetisi profesional di sini kan kurang banget. Tapi, kalian tetap mutusin untuk turn pro?

Hansel: Aku pasti maunya emang main di luar sih. Tapi tahun ini rencananya main di Asian Tour dulu. Tahun depan kalau bisa dapat kartu Asian Tour, main di Asian Tour dulu. Nanti kalau 2 tahun ke depan mungkin aku bakal coba qualifying school di luar. 

Alfred: Menurut aku, lebih bagus turn pro daripada terus jadi amatir sih. Kesempatan pro itu kan, walaupun modalnya harus gede dan banyak, selalu ada. Di sekitar Southeast Asia kan banyak ya, seperti di Thailand. Lalu, di ADT kan dapat main juga. Kan kalau main amatir juga kan nggak ada apa-apanya juga kan. Nggak ada turnamen-turnamen juga. Jadi, menurut aku, sekalian aja turn pro

Gabriel Hansel Hari. Foto: Yulius Martinus/ OB Golf

Ketika memutuskan turn pro, apakah memang sudah siap semuanya? 

Hansel: Jujurnya sebenarnya ya 85% siap sih. Soalnya, yang kemarin golf college, main di D1 College itu bantu banget pastinya. Di sana kan lawannya juga jauh lebih kompetitif di sana. Jadi aku sudah mempersiapkan banget sih. 

Alfred: Aku sama sih jawabannya sama Hansel kalau itu. Kan kita main di D1 itu terbuka ya sama pemain-pemain hebat, seperti Michael Thorbjornsen dan Karl Vilips, yang sekarang tuh sudah bermain di PGA Tour begitu. Jadi, sebenarnya kita sudah terbiasa sama kompetisi kayak begini (ADT) begitu. Ya, menurut aku, begitu sih. Kalau stay amateur juga enggak ada yang dikejar juga. Jadi sekalian saja, kan mimpi kita kan main PGA Tour ya. Why not start now saja. Kita nunggu apa lagi sebenarnya? 

Alfred Raja Sitohang. Foto: Yulius Martinus/ OB Golf

Tidak ada rencana untuk lanjut kompetisi di sana? Kompetisi di sana kan lebih banyak dan bervariasi ketimbang di sini kan, tetapi lebih memilih balik ke sini? 

Hansel: Kalau aku, banyak sih reasons ya. Yang pertama, di sana aku harus tinggal. Itu costnya sudah pasti jauh lebih mahal. Lalu, kalau aku main di sana, aku harus bayar tax-nya di sana dan di sini juga. Kalau Q-School di Korn Ferry Tour (developmental tour milik PGA Tour) itu pastinya jauh lebih susah daripada di Asian Tour. Kompetisinya pun jauh lebih susah daripada di Asia. 

Alasan selanjutnya adalah soalnya kan Asian Tour lagi di-support sama PIF (Public Invesment Fund dari Arab Saudi), sehingga kita ada turnamen International Series. Jumlah prize money-nya itu dua kali lipat (event) Korn Ferry Tour. Jadi, menurutku, di Asia tahun ini sih jauh lebih masuk akal. Dari sisi uang, Asian Tour lebih bagus. Kompetisinya di Asian Tour jauh lebih plus kompetitif juga. Jadi buat make money-nya harusnya jauh lebih gampang. 

Alfred: Sebenarnya sama sih jawabannya. Sudah terjawab sama Hansel. Tapi, aku mau tambahin saja, kalau untuk awal-awal turn pro lebih enak dekat keluarga sih. Karena, support system-nya itu jauh lebih banyak di sini ya. Di Amerika kan nanti kita sendiri. Terus awal-awal turn pro itu yang terberat sebenarnya. Jadi, aku lebih memilih dekat dengan keluarga saja.  Biar lebih fokus juga. Ada yang jagain

 

Kalian kan menjalani college golf selama 4 tahun. Apa pelajaran yang bisa kalian bawa dari kompetisi di sana untuk improve pengalaman profesional kalian? 

Hansel: Itu sih, players-nya kompetitif. Di sana tuh kayak main biasa-biasa itu enggak bisa. Sama aja kayak pronya. Kalau main biasa-biasa kan, miss cut. Di sana tuh diajari bagaimana caranya bisa main low rounds. Menurut aku, bagus sih. Soalnya di pro kan kalau enggak low rounds, enggak mungkin finish di atas. Jadi di sana mempersiapkan itu (ke sini) 

Alfred: Ya, menurut aku juga begitu sih. Jadi, sebelum aku berangkat ke Amerika, di event main 1-under tuh sudah senang ya. Tetapi, di Amerika, kita enggak bisa begitu ya. 

Hansel: Main 1-under itu last place

Alfred: Contohnya, aku sama Hansel nih. Di kualifikasi, misalnya, kita kan main untuk team di turnamen. Itu bisa 6-7 hari kita main ya. Nah, yang nomor 1 tuh main 35-under atau 40-under. Jadi, kita main 1-under, 1-under, 1-under, dan 6-under. Kayak kacang saja begitu. Apa ini 7-under? Jadi mungkin mental (terus bermain dengan skor rendah) itu kita bawa ke sini ya.
Aku sama Hansel–kalau misalnya main 1-under dalam event–tuh mikir-nya sudah enggak defensif. Tapi, kita tuh carinya gimana cari birdie dan cari birdie. Attack-nya lebih banyak ya. Mikir-nya tuh lebih birdie orientated daripada jaga-jaga skor sih. 

Hansel: Dulu sebelum ke Amerika aku main 1-under tuh udah puas. Harus dijaga ini under-nya.

Alfred: Iya, sama. Mindset awalnya begitu. Kalau sekarang, sudah ada 1, ya harus nambah.

 

Ada beberapa teman yang balik dari AS sana setelah golf college. Namun, permainan golfnya justru tidak berkembang. Bahkan, ada yang bisa kontur lapangan dan jenis rumput di sini beda jauh dengan yang di sana sehingga adaptasinya dan segala macamnya agak sulit. 

Hansel: Itu (pendapat) salah sih. Menurut aku, pastinya, course-nya beda. Itu pasti. Cuma, kalau menurut aku ya, personal opinion, lapangan di sana jauh lebih susah daripada di sini. Jadi, kalau aku main di sana, main even (par) tuh sudah wow luar biasa begitu. Aku balik ke sini tuh semua lapangan jadi (terasa) gampang. Jadi, menurutku kalau main di sini kayak mainnya jauh lebih gampang. 

 

Apa yang membuat lapangan di sana lebih susah? 

Hansel: Waduh jelasin-nya bagaimana ya.

Alfred: Par 4 di sana jadi kayak par 5 di sini. Kalau cuma 300 yard, susah banget. Kayak par 4 itu, sisa (pukulannya) 7 iron atau 8 iron. Kalau di Gunung Geulis kan paling kita sisa berapa sih? Sisanya, wedge atau paling jauh 7. Jadi, bayangin saja pin-pin Gunung Geulis, tapi second kita mainnya pakai iron 7, 8. Iron 7, 6, 5. Kadang-kadang par 4 tuh 510 yard, second shotnya pakai rescue. Belum lagi, posisi pinnya yang susah banget. 

 

Hansel:  Par 3 itu jaraknya 220 meter. Itu jarak minimal. Aku main turnamen terakhir di US, aku harus main dari bunker itu pakai putter 2 kali. Itu dari bunker.  Di sana tuh kayak apa ya. Buat dijelasin ke orang Indonesia kayaknya enggak masuk akal begitu. 

Alfred: Jadi, kita tuh paham orang-orang yang main di PGA Tour tuh emang jago banget.

 

Sejak jadi profesional, berapa kali tampil di turnamen internasional?

Hansel: Tiga turnamen. 

Alfred: Lima. 

Foto: Yulius Martinus/ OB Golf

Ketika beralih dari amatir ke profesional, apakah ada yang perlu di-adjust nggak? Misalnya, dari sisi permainan, mindset, atau yang lainnya. 

Hansel: Mindset sih. Kalau amateur kan mainnya biasa. Finishnya enggak ada cut juga kan kalau amateur. Kalau main di event pro tuh cut itu kayak nambah pressure

Alfred: Pokoknya setiap shot tuh ada harganya begitu. Aku bukan mau ngomong kalau amateur itu enggak ada ya. Tetap ada, Cuma beda feel-nya. Kalau main di event kayak SEA Games itu lebih ke prestise, kalau sekarang tuh kayak ada harganya. Belum lagi, ada order of merit juga yang harus dipikirin. Jadi, one shot itu can be the difference buat main minggu depan atau enggak. 

Hansel: Selisih one shot itu banyak banget sih. Kalau di amateur kan one shot paling bedanya ya cuma beda peringkatnya tipis saja. Kalau di pro satu shot tuh bedanya bisa kayak 10 posisi. Kalau di amatir kan enggak mungkin sampai 10 posisi selisihnya, kecuali di college ya.

 

Apa rencana kalian 5 tahun ke depan dalam karir profesional? 

Hansel: Aku berharap sudah bisa main di PGA Tour.

Alfred: Aku menang di Asian Tour.

Alfred Raja Sitohang. Foto: Yulius Martinus/ OB Golf

Lalu, apa plan untuk menuju ke sana? 

Alfred: Pokoknya aku pikir kita tuh perlu jam terbang sebanyak-banyaknya ya. Sayang banget di Indonesia tuh kurang begitu. Jadi, aku sama Hansel nih rencananya November nanti mau ikut q-school di Thailand supaya bisa tanding terus. 

Hansel: Experience itu penting sih agar bisa sampai di peak-nya di turnamen yang dituju.

Alfred: Mudah-mudahan sih dengan main di Thailand kan lebih banyak, jam terbang kita bisa makin tinggi. Level kompetisi di Thailand kan juga setara ADT. Jadi, kita main every week tuh sama orang-orang yang kelasnya sudah di ADT. 

 

Momen berkesan ketika amatir….

Hansel: Medali emas PON tahun 2024 serta finis T9 sekaligus menjadi best amateur di Indonesia Open 2023. Dua turnamen itu sangat berkesan buat saya karena turnamen-turnamen tersebut bisa dibilang salah satu event terbesar dan bergengsi di Indonesia. Itu juga memberikan saya confidence boost tambahan.

Alfred: Waktu menang PNGA (Pacific Northwest Golf Amateur). karena turnamen tersebut adalah salah satu turnamen amatir major di Amerika Serikat

 

Kapan mulai main golf?

Hansel: Mulai main golf di umur 6 tahun, tapi mulai serius main golf di umur 10.

Alfred: Umur 9 tahun. 

 

(Penulis: Yulius Martinus/ OB Golf)

Share with

More News

DP World Tour Dituding Lakukan “Pemerasan”

HSBC Women’s World Championship: Hannah Green Raih Trofi Ketujuh LPGA

HSBC Women’s World Championship: Duo Australia Sukses Gusur Pemuncak 36 Hole

Program Ramadan ala Riverside Golf Club

Digital Edition

COVER FEB MAR 2026
Februari - Maret 2026

Pertarungan Antara Prestasi dan Cinta

Cover DES-JAN 2026
Desember 2025 - Januari 2026

Golf Dunia dalam Genggaman Wanita 22 Tahun

COVER OKT-NOV 2025_page-0001
Oktober - November 2025

Hegemoni Sang No.1 Di Pentas Sejagat

Screenshot 2025-08-13 003040
Agustus - September 2025

Ada Apa dengan Collin Morikawa