Berlangsung di Leuweung Gledegan Ecolodge & Salak Golf Tamansari, Bogor, Golf Club Managers Association of Indonesia (GCMAI) menyelenggarakan seminar yang bertajuk “Golf Maintenance for GM: Grounded Leadership: Turf & Equipment Mastery For The Visionary GM” pada Kamis (19/6). Event yang berlangsung satu hari ini menghadirkan 4 narasumber, yaitu Rina Maharani (Ketua GCMAI), Achmad Zakaria (Ketua Asosiasi Superintendent Padang Golf Indonesia, ASPGI), Gareth Knight (ahli peralatan pemeliharaan lapangan golf), dan Qamal Mutaqin (praktisi pemeliharaan lapangan golf).
Acara ini dihadiri 56 perwakilan lapangan golf. Para peserta tidak hanya para general manager, tetapi juga dari para pekerja yang berada di industri lapangan golf ini. Mereka berasal dari Jabodetabek, Batam, Surabaya, dan Bali.

“Jadi, misi kami adalah ingin meningkatkan kompetensi general manager (GM) di lapangan golf. Tapi kami senang, di luar juga GM pun banyak yang hadir. Artinya, semua yang dari stakeholder atau semua karyawan yang bekerja di industri ini punya keingintahuan yang cukup tinggi. GM saat ini tak bisa hanya mengandalkan skill administratif. Ia harus menguasai aspek teknis, turf, dan equipment. Karena di situlah, kualitas lapangan ditentukan, efisiensi anggaran dirancang, dan reputasi club tetap terjaga.
Seminar ini murni edukasi dan disusun untuk pengembangan kapasitas GM. Ilmu teknis hari ini akan menjadi modal di masa depan. GM yang paham lapangan akan dihormati oleh pemain dan dicintai oleh pekerjaan. Karena dia hadir, paham, memimpin dengan kebijakan yang bukan hanya sekadar insting,” kata Rina dalam sambutannya.
Ketua GCMAI Rina mengisi Sesi I dengan membawakan tema “The Grounded GM, Kepemimpinan Strategis dan Pemahaman Mesin Perawatan Lapangan”. Dalam sesi ini, Rina menekankan sosok GM yang membumi (grounded GM) adalah dia yang paling ingin tahu dan yang tahu cara bertanya, mendengarkan, dan bertindak tepat. “Grounded GM adalah pemimpin yang mau mendengar sebelum memutuskan. Grounded GM adalah GM yang hadir saat turf equipment ‘berbisik’,” kata Rina.

Sesi 2 yang dibawakan Achmad membeberkan bahwa tipe dan klasifikasi peralatan yang dibutuhkan dalam pemeliharaan lapangan golf, yang tergantung pada kondisi geografis lapangan. “Jadi apakah lapangan itu berada di pegunungan yang memiliki kontur yang ekstrim atau lapangan itu berada di perkotaan yang kering dan lebih datar itu akan mempengaruhi jumlah dan jenis alat yang dibutuhkan,” kata Achmad.
Desain lapangan golf, termasuk fasilitas-fasilitasnya, juga mempengaruhi penentuan jumlah dan jenisnya alat. Ini menentukan jumlah bujet dan ekspektasi owner dan pemain juga terhadap kondisi lapangan. Achmad pun melanjutkan pembahasan di Sesi 3 tentang cara membangun komunikasi antara General Manager dan Superintendent dalam pengelolaan lapangan golf. Menurut Achmad, komunikasi yang baik antara 2 tokoh di balik pengelolaan lapangan golf tersebut bisa menghasilkan kualitas golf course yang baik karena dikelola dengan baik pula, yang tentunya akan memberikan kontribusi langsung terhadap kemajuan industri golf di Indonesia

Gareth Knight mengisi dua sesi berikutnya. Di sesi pertama pakar soal turf dari Inggris ini menjelaskan soal pemahaman dasar spesifikasi mesin dan cara membandingkan secara objektif berdasarkan kebutuhan lapangan. Pada sesi berikutnya, Knight membahas sustainable equipment technology & golf maintenance strategy.

Praktisi pemeliharaan lapangan golf Qamal Mutaqin mengisi sesi terakhir di jadwal pagi hingga siang. Menurut Qamal, pemilihan peralatan yang tepat menjadi faktor penting karena itu merupakan bentuk investasi yang lebih cerdas (smarter Investment). Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan alat. “Kualitas alat, ketersediaan di pasaran, kecocokan dengan jenis rumput, topografi dan desain lapangan, serta harga,” jelas Qamal. Karena itu, dalam menjaga kinerja pemeliharaan lapangan, Qamal menyarankan untuk melakukan pembelian peralatan baru di setiap lima tahunan atau investasi peremajaan peralatan setiap tahun.

Di jadwal siang (setelah makan siang) hingga sore, para peserta mengikuti agenda kegiatan workshop dan field demonstration. Di sesi workshop, mereka berlatih menyusun rencana pengadaan dan rotasi alat secara strategis, dengan studi kasus simulasi. Sementara, dalam kegiatan turun ke lapangan, para peserta menyaksikan langsung demonstrasi langsung penggunaan alat di lapangan untuk memberikan visualisasi nyata bagi para peserta.

“GCMAI berharap seminar ini bisa meningkatkan kemampuan para GM di Indonesia. Intinya kita membuat semua program edukasi untuk GM yang bermanfaat. Selain memang ini program GCMI, kita juga ingin berkolaborasi dengan ASPGI, bagaimana agar komunikasi dua asosiasi ini menjadi juga baik.
Kalau komunikasinya baik, kerja juga enak. Kemudian kami juga ingin para GM itu bisa paham segala masalah di lapangan, tidak hanya masalah mesin aja sih. Para GM ini harus bisa mengambil keputusan strategis, berdasarkan pemahaman pengetahuan, berdasarkan data,” jelas Rina.



