Pembuktian Si Underdog

Xander Schauffele merupakan salah satu pegolf elite Amerika Serikat ketika berhasil menembus Top 10 Dunia pada Januari 2019. Namun, ia selalu menganggap dirinya adalah seorang underdog karena merasa belum pernah mengukir juara di turnamen major. 

Mulai Juli kemarin, label underdog tampaknya tidak pantas lagi disandang Schauffele. Kemenangannya di Open Championship 2024 menegaskan statusnya sebagai salah satu pegolf elite dunia. Hebatnya, pegolf berusia 30 tahun ini tidak hanya menyabet Claret Jug saja, tetapi juga mengoleksi trofi major lainnya, Wanamaker Trophy (trofi PGA Championship), di musim ini. Schauffele mulai menarik perhatian publik ketika tampil gemilang pada putaran pertama US Open 2017. Membukukan skor 66 (6-under) di putaran pertama, lulusan San Diego State University tersebut bisa finis T5 pada putaran akhir dalam debutnya di turnamen major. Ketika meraih emas di Olimpiade 2021, label underdog tetap menempel di punggung Schauffele. Ia selalu berada di bawah bayang-bayang pegolf elite AS lainnya. Mari kita lihat ke belakang siapa dan bagaimana latar belakang pegolf yang kini menduduki kursi No. 2 Dunia:

Bagaimana perjalanan Schauffele dari junior hingga profesional?

Dibandingkan Jordan Spieth dan Justin Thomas yang waktu merupakan bintang-bintang American Junior Golf Association, Schauffele tidak terlalu terkenal. Ia hanya ambil bagian dalam sebuah turnamen lokal di selatan California. Di tahun-tahun perkuliahannya, Schauffele bermain untuk Long Beach State selama setahun sebelum pindah ke San Diego State di mana dia memenangi 3 gelar juara dan menjadi sala satu anggota All-American di musim seniornya (tahun keempat). Setelah lulus pada 2015, Schauffele mengambil status pro dan mendapatkan dua sponsor exemptions di Web.com Tour di tahun pertamanya sebagai pro pada 2016. Setahun kemudian, Schauffele mendapatkan kartu PGA Tour dan menyabet penghargaan Rookie of the Year di akhir musim 2017. 

Credit: Getty Images

Schauffele berkebangsaan apa? 

Schauffele lahir dan dibesarkan di San Diego, California. Meski berstatus warna negara AS, Schauffele memiliki 3 kebangsaan resmi: Jerman dan Prancis dari sang ayah dan Taiwan (China Taipei) dari ibu. 

Siapa ayah Schauffele?

Ayah Schauffele, Stefan, adalah mantan atlet decathlon Jerman. Namun, ia pensiun lebih cepat dari olahraga tersebut karena mengalami kecelakaan yang disebabkan supir mabuk. Dokternya menyarankan Stefan untuk main golf. Ia pun segera jatuh cinta dengan golf, dan kemudian bekerja di sebuah akademi golf di San Diego setelah pindah ke AS pada 1988. Stefan mengenalkan golf kepada Xander, memberikan Schauffele satu set club pertama ketika usianya 9 tahun dan mengajaknya ke lapangan golf. Stefan merupakan satu-satunya pelatih swing yang pernah dimiliki Schauffele. 

Sebelum serius di golf, Schauffele juga seorang pemain sepakbola yang berbakat. Mengapa ia akhirnya lebih memilih bermain golf daripada sepakbola?

Schauffele berhenti bermain sepak bola setelah pelatihnya gagal memindahkannya dari lini tengah bertahan ke lini serang pada usia 12 tahun. Ayahnya, Stefan, mengakui bahwa Schauffele adalah pemain yang sangat berbakat, yang memiliki dua kaki alami, dan bahwa ia memiliki gen yang sama dengan dua kakek buyut Schauffele (Johann dan Richard) yang pernah bermain di Premier League. “Dia akan menjadi pemain sepak bola yang bagus,” kata Stefan, seperti dikutip oleh Golf Digest. 

Credit: Clare Grant/ USA Today

Meski memiliki resume yang mengesankan, Schauffele masih belum menganggap dirinya sebagai bintang di Tour. Apakah dia tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian? 

“Saya tidak terlalu peduli karena saya tidak pernah mendapatkan banyak perhatian,” kata Schauffele, seperti dikutip oleh Golf Channel. “Saya selalu menjadi underdog dan underdog tidak terlalu peduli dengan perhatian.” Namun, Jon Rahm justru berpikir sebaliknya. “Dia merasa seperti dia adalah underdog? Ya, dibandingkan dengan siapa?” kata Rahm. “Saya tidak menganggapnya sebagai underdog, sama sekali tidak.”

Keberhasilannya di Valhalla Golf Club pada Mei lalu seperti membuka keran bagi Schauffele dalam event major, yang kemudian berlanjut di Royal Troon pada Juli kemarin. Bagaimana ia melihat 2 kemenangannya itu? 

“Momentum yang dibicarakan orang dalam golf adalah keyakinan diri, semuanya adalah kepercayaan diri,” kata Schauffele, seperti dikutip Golf.com. “Di awal pekan, saya berbicara tentang memenangi turnamen major pertama (PGA Championship), tidak benar-benar berpengaruh pada saya saat memasuki turnamen major (Open). Tetapi jika saya berada di posisi untuk memenangkan turnamen, saya merasa itu akan memberi saya keunggulan. Dan saya rasa itulah yang terjadi.”

Di Olimpiade 2021, Schauffele berhasil meraih medali emas. Apa makna keberhasilan di Tokyo tersebut bagi Schauffele?

Emas di Olimpiade 2021 menjadi wujud nyata mimpi sang ayah, Stefan, yang gagal tampil di pesta olahraga dunia tersebut. Keinginan Stefan yang waktu itu atlet decathlon untuk tampil di Olimpiade memang harus terkubur dalam-dalam setelah mengalami kecelakaan yang mengorbankan mata kirinya. Karena itu, kemenangan putaranya di Olimpiade 2024 seakan menuntaskan mimpinya tersebut. “Saya memeluknya di belakang green sana. Saya tahu ini sangat berarti baginya, jadi saya senang bisa mewujudkannya,” kata Schauffele, seperti dikutip PGA Tour. 

 

Penulis: YM/ OB Golf

Share with

More News

Mantan Juara Indonesian Masters Puncaki Klasemen Ronde Pertama LIV Golf Singapore

Sergio Garcia dan Fireballs GC Nantikan Momen Kebangkitan di Aramco LIV Golf Singapore

Royale Jakarta Golf Club Padukan Kompetisi dan Aksi Kemanusiaan

Rahm Incar Gelar Beruntun, Niemann Bertekad Pertahankan Gelar di Singapura

Digital Edition

COVER FEB MAR 2026
Februari - Maret 2026

Pertarungan Antara Prestasi dan Cinta

Cover DES-JAN 2026
Desember 2025 - Januari 2026

Golf Dunia dalam Genggaman Wanita 22 Tahun

COVER OKT-NOV 2025_page-0001
Oktober - November 2025

Hegemoni Sang No.1 Di Pentas Sejagat

Screenshot 2025-08-13 003040
Agustus - September 2025

Ada Apa dengan Collin Morikawa