Beberapa tahun terakhir ini nama Sania Talita Wahyudi dikenal sebagai salah satu atlet tim nasional Indonesia. Setelah awalnya menjadi pemain pelapis bagi beberapa seniornya di timnas, kini pegolf berusia 20 tahun ini menjadi salah satu pilhan untuk memperkuat timnas.
Satu hal yang telah diwujudkannya adalah menjadi anggota timnas yang berhasil membawa pulang medali perunggu untuk nomor beregu di SEA Games 2025, bersama Elaine Widjaja dan Bianca Naomi Laksono. Keuletan dan determinasinya ketika bertanding golf memang menjadi salah satu kelebihannya, selain juga bekal kemampuannya yang di atas rata-rata. Prestasi menggembirakan lain yang juga diukir mahasiswa Universitas Pertamina ini adalah berhasil lolos cut dalam event internasional wanita terbesar se-Asia Pasifik, Indonesia Women’s Open presented by BTN. Ia menjadi satu-satunya pegolf amatir nasional yang lolos cut. Berikut perbincangan Sania dengan OB Golf terkait karier amatirnya:
Bagaimana ceritanya Anda bisa mengenal golf?
Jadi aku pertama kali main golf itu tahun 2015. Aku kelas 4 SD, umur aku 10 tahun. Papa kan sudah lama main golf. Papa daftarin aku di Akademi Golf di Jakarta Golf Club. Jakarta Golf Academy namanya. Awalnya aku cuma rutin 2 kali seminggu, terus nambah ke 4 kali seminggu, sampai 6 kali seminggu. Sampai akhirnya kayak hampir tiap hari aku main golf.
Ada olahraga lain yang Anda tekuni selain golf?
Untuk olahraga lain sih, sebelumnya aku pernah coba-coba bulutangkis. Aku sempet tertarik, cuma papa mungkin kurang gimana gitu. Jadi enggak terlalu support. Di situ aku akhirnya malah didorong untuk main golf.
Bagaimana rasanya bisa memukul bola untuk pertama kali?
Feeling pertama aku pas berhasil mukul bola golf yang pasti senang sih. Karena kan beda banget mukul solid sama enggak solid ya. Kalo mukul-nya solid tuh pasti kayak lebih enteng gitu mukul-nya. Jadi kayak seneng gitu. Akhirnya tuh bisa kena contact yang solid gitu.

Dari mulai kenal golf, kapan mulai turun lapangan?
Setelah latihan 1 atau 2 bulan aku langsung turun ke lapangan. Tapi cuma 9 hole atau cuma 6 hole begitu. Di JGA itu dulu kita ada mingguan buat turun ke lapangan. Jadi mau bisa-enggak bisa tetap saja main.
Pertama kali ikut kompetisi serius?
Kalau untuk kompetisi serius mungkin ada waktu itu kayaknya IJG di Gombel (sekarang Royal Semarang Golf), Semarang. Aku lupa. Tapi pokoknya junior tournament. Itu pertama kali aku main yang 18 hole 3 hari. Sebelumnya juga ada, cuma itu turnamen internal JGA doang. Mainnya pun enggak full 18 hole.
Skor pertama yang dibuat dalam kompetisi itu?
Aku main juga baru berapa bulan, belum sampai setahun. Aku main tuh di atas 100, aku lupa berapa persisnya.
Apakah ada yang melatih khusus ketika mulai menekuni golf?
Yang pasti sih pelatih aku di JGA. Terus aku sempat berlatih juga di Leadbetter (Golf Academy) juga. Lumayan lama, dari 2020 sampai 2024-2025. Itu cukup membantu. Dan currently aku lagi sama Chris Connell di Senayan. Tapi belum rutin sih. Terakhir tuh masih tahun lalu sebelum SEA Games aku dengan dia. Jadi sekarang belum sempat (berlatih) lagi.

Momen berkesan dalam karier amatir…
Yang berkesan ketika PON 2024. Lalu, SEA Games 2025 dan juga ketika OJAO (Olympic Jabar Amateur Open) 2025. Di Jabar Open, aku berhasil nyodok dari posisi ketiga (di putara akhir). Jadi (menduduki) posisi ke satu (juara OJAO 2025 untuk nomor putri). Dengan skor hari terakhir tuh 4-under.
Pertama kali masuk timnas…
Aku dipanggil ke timnas waktu itu setelah main WAAP di Thailand. Kayaknya tahun 2022.
Bicara WAAP (Women’s Amateur Asia-Pacific championship), bagaimana pengalaman main di event besar itu?
Tahun 2022 itu pertama kali aku main WAAP di Siam Country Club, Thailand. Walaupun aku missed the cut, itu ngebuka banget mataku di situ. Sejak itu aku kayak ngerasa, oh aku tahu nih kalau turnamen gede vibes-nya bagaimana. Dan kayak gimana aku bisa overcome the pressure begitu. Akhirnya next year-nya (2023) aku made the cut. Begitu pula di tahun berikutnya (2024) juga aku make cut lagi. Di 2024 itu lapangan yang sama pas 2 tahun sebelumnya (2022). Itu huge improvement. Karena aku di hari (untuk) made the cut itu aku masih even par. Dan untuk skor cutnya aku kurang tahu over berapa. Yang pasti itu lumayan jauh dari skor aku. Jadi, itu aku juga ngerasa itu salah satu momen yang paling berkesan.
Apa yang biasa Anda lakukan ketika bermain buruk dalam sebuah event?
Kalau main buruk, aku yang pasti harus evaluasi. Lalu, aku banyakin selftalk saja sih kalau main buruk. Karena aku typical yang lebih suka buat ngobrol sendiri. Jadinya kadang kalau—misalnya–di lapangan main kurang bagus, aku pasti lakuin itu kalau mau aku tenang. Aku biasanya kayak lebih ngomong ke diri sendiri, terus misalnya nyanyi atau aku mikirin hal yang lucu saja.
Ketika sedang off dari golf, apa kegiatan yang Anda lakukan?
Aku biasanya baca buku. Aku suka banget baca. Sebenernya enggak (satu jenis) buku saja. Semuanya. Semua genre aku cobain (baca) karena aku kepo saja. Cuma mungkin sejak (masuk) kuliah ya. Karena aku kuliah hubungan internasional, international relations. Jadi harus banyak baca jurnal, baca paper, dan dokumen resmi. Di situ aku mulai merasa mungkin aku enggak terlalu suka baca. Tapi sebenernya kalau lagi senggang aku suka banget baca. Kegiatan lain aku sih suka hangout sama temen. Itu saja sih. Aku juga suka (kegiatan) adrenalin juga. Jadi biasanya kalo main sama temen aku tuh selalu pengen banget main yang aku butuh adrenalin. Mungkin karena kebiasaan di golf ya sehingga aku suka kalau aku under pressure. Aku kalau main misalnya suka escape room atau yang (mompa) adrenalin misalnya roller coaster kayak gitu.

Target 5 tahun ke depan?
Kalau 5 tahun ke depan kan berarti enggak terlalu jangka panjang ya. Dalam 5 tahun ke depan yang pasti aku targetin mau lulus kuliah dulu tepat waktu. Setelah lulus kuliah mungkin aku bakal coba main fokus di golf dulu. Mungkin 2-3 tahun. Dan I will see bagaimana game aku. Mungkin dari situ mulai kebuka opportunity-nya gimana. Kalau mungkin jangka panjang masih kurang tahu ya mau fokusnya gimana. Cuma yang pasti kalau, misalnya, habis lulus kuliah aku perform, aku pengen langsung turn pro.
Bagaimana Anda menilai performa sendiri?
Sejauh ini I’m pretty satisfied with my performance. Karena huge improvement juga. Sejak Covid kan susah banget ada turnamen. Turun lapangan pun enggak bisa, latihan juga enggak bisa. Jadi lumayan bangga sama diri sendiri, sudah mengalami kemajuan. Cuma kalau ditanya apa ada yang perlu diperbaiki, yang pasti masih banyak. Masih punya a lot of room for improvement. Jadi mungkin mau lebih explore lagi dunia golf. Mungkin dengan turnamen yang vibes-nya berbeda. Karena kan kemarin pas IWO (Indonesia Women’s Open) juga itu beda banget (vibes-nya) dengan turnamen yang biasa aku mainin. Lalu kayak WAAP dan Queen Sirikit itu kan vibes-nya juga beda. Cuma mungkin emang turnamen (segede) itu cuma 2-3 kali setahun. Sedangkan, aku perlu pressure yang lebih gede gitu, supaya bisa improve. Jadi kayak mungkin pengen banyakin main di turnamen gede, overseas atau international tournament saja.
Tadi mention sedikit soal IWO, Anda sudah main di IWO dalam 2 tahun terakhir. Bagaimana rasanya?
Aku merasa cukup excited ketika main di IWO. Cuma tahun lalu kan aku nggak made the cut, dan tahun ini aku beruntung bisa perform walaupun hari terakhirnya kurang bagus, tapi oke cukup bangga dengan hasilnya.
Apa pelajaran yang Anda dapat dengan main di kompetisi profesional seperti IWO?
Pas di IWO sih aku ngerasa aku mainnya cukup santai, bahkan santai banget. Walaupun ngerasa pressure, aku selalu bisa ngontrol adrenalin aku biar enggak terlalu tegang dan enggak terlalu santai juga sih. Jadinya aku mainnya oke, sesuai yang aku mau. Ini pertama kali cut off di IWO. Tahun lalu aku mainnya kurang bagus.
Apa pelajaran yang Anda dari para pro wanita? Yang pasti, mereka tuh sangat tertata, terstruktur game play-nya. Jadinya aku juga ikutan kebawa. Karena ya mau enggak mau kan. Aku ngeliat mereka fokus banget, jadi aku pun kebawa fokus banget, selalu mikir one shot at a time, jadi enggak pernah mikir ke mana-mana. Dan untungnya kedi aku juga sangat membantu, karena aku kan kenal udah lama juga, dan kita ada chemistry-nya ada, dan itu juga akhirnya ngebantu banget buat aku bisa main bagus di IWO kemarin.
Terakhir, pegolf favorit Sania?
Aku sebenarnya enggak punya spesifik favorite golfer. Cuma mungkin karena dulu aku sering banget ngeliat swingnya Lidya Ko, dan bagaimna cara dia mukul. Mungkin aku bisa bilang dia jadi role model aku.
(Penulis & Foto: Yulius Martinus/ OB Golf)



