Turnamen mid-amateur (mid-am) pernah bergulir rutin lebih dari satu dekade lalu. Kini, event yang diikuti para pegolf berusia 25 hingga 55 tahun kembali menggeliat dalam 2 tahun terakhir.
Lebih dari satu dekade lalu ada turnamen bernama mid-amateur (mid-am). Event ini merupakan kompetisi golf untuk para amatir yang berusia 25-55 tahun. Turnamen mid-am ini bergulir secara rutin setiap tahunnya. Namun, kemudian kompetisi ini menghilang dari peredaran.
Dua tahun lalu, tepatnya 2023, Amateur Golfers Indonesia (AGI) kembali menghidupkan roda kompetisi mid-am. Mid-Am Championship kini telah berlangsung selama 2 tahun. Musim pertama AGI berhasil menggelar 4 seri Mid-Am Championship. Namun, musim kedua pada 2024 lalu, AGI mampu menambah jadwal kompetisi Mid-Am, menjadi 7 seri dengan format stroke play 2 putaran.
“Walaupun dulu pernah ada ya. Tapi kan sempat ada satu dekade lebih kosong tuh. Karena kan artinya generasi yang 10 tahun ke belakang ini enggak tahu mengenai Mid-Am ini,” kata Raymond Robot, dari AGI. Kita melihat sepertinya ada kekosongan dan kita mau nyediain media untuk teman-teman yang memang sudah berkompetisi golf pasca-kuliah.”
Bagi AGI, penyelenggaraan mid-am ini bertujuan untuk memopulerkan kompetisi golf untuk amatir berusia 25-55 tahun ini di Indonesia. Ini pun tidak mudah.
“Kendala yang kami hadapi adalah mendorong para pegolf mid-am ini untuk bertanding di high level competition. Peraturannya berstandar internasional. Dari turnamen-turnamen yang kami rencanakan, diharapkan ada partisipasi besar dari para pegolf di Tanah Air karena ada kesempatan bagi mereka untuk bertanding di ajang internasional dengan mewakili Indonesia,” tambah Vito Robot, Co-Founder AGI.

Setelah sukses menggelar 4 seri Mid-Am Championship, yang tentunya dengan jumlah peserta yang minim di awal-awal, AGI mampu melanjutkan seri Mid-Am Championship ini di tahun kedua. Jumlah peserta pun perlahan-lahan bertambah. Animonya pun semakin besar untuk mengikuti kompetisi amatir usia 25-55 tahun.
“Kita awalnya cuma dapat 15 peserta, terus waktu itu sempat naik ke 20. Pusing banget. Susah banget, tapi lama-kelamaan market mid-am itu sudah ada. Regulernya juga sudah ketahuan siapa, dan bertambah. Sekarang tuh jumlahnya sudah 50 plus setiap kali pertandingan,” kata Raymond, yang optimistis peminat Mid-Am akan terus bertambah seiring dengan berhasilnya sosialisasi kompetisi mid-am ini.
AGI pun makin percaya diri karena ada sanction dari Persatuan Golf Indonesia terkait Mid-Amateur Championship ini. Kompetisi ini memang dinilai perlu lebih banyak disosialisasikan karena di dunia internasional turnamen untuk usia 25-55 tahun memang rutin digelar. R&A bahkan mendorong PGI untuk kembali menggalakkan turnamen mid-amateur di Indonesia.
“Kategori amatir di R&A kan ada 4, yaitu junior, amatir, mid-amateur, dan senior. Nah, kejuaraan mid-amateur ini sudah lama tidak digelar di Indonesia. R&A bahkan meminta kami secara khusus untuk kembali menghidupkan kompetisi mid-amateur,” jelas Adi Saksono, Ketua Bidang Kejuaraan dan Prestasi PB PGI.
“Kehadiran Mid-Amateur Championship ini mengakomodasi para pegolf amatir yang di usia mid-age (25-55 tahun) untuk mereka yang tetap setia dengan status amatirnya tetapi tetap bisa berkompetisi. Sebetulnya turnamen ini jangkauannya lebih luas. Apalagi kompetisi ini masuk dalam kejuaraan dunia. Sayang jika pemain-pemain kita tidak berpartisipasi,” tambah Adi.
Di luar, Mid-Am Championship merupakan salah satu event amatir rutin digelar. Amerika Serikat, melalui U.S. Mid-Amateur, telah melaksanakan turnamen tersebut sejak 1991. Eropa bahkan lebih lama dari AS, menyelenggarakan event itu sejak 1981. Jika AS menggunakan format match play, Eropa memanfaatkan 3 putaran stroke play dan system cut off setelah 36 hole.
(Penulis: YM/ OB Golf)



