Pegolf kebanggaan tuan rumah Shannon Tan siap memberikan inspirasi pegolf-pegolf lokal yang akan menjadi generasi masa depan Singapura. Wanita berusia 21 tahun ini mendapat undangan dari sponsor untuk tampil di HSBC Women’s World Championship. Invitation ini memang didasari atas keberhasilan Tan meraih Order of Merit Ladies European Tour 2025. Tan yang kini menduduki posisi No. 90 Dunia akan menghadapi para pegolf elite dunia, yang 9 di antaranya adalah Top 10 Dunia.
“Memiliki dua pegolf Singapura di event tahun ini adalah hal yang baik untuk mempromosikan golf Singapura di kancah internasional. Saya tahu bagaimana rasanya mengagumi seseorang dan ingin menjadi seperti mereka. Penting untuk memiliki anutan,” kata Tan, yang akan didampingi Chen Xingtong—pegolf amatir Singapura yang menjadi juara kualifikasi lokal—dalam event berhadiah total US$ 3 juta tersebut.
Meskipun kariernya melesat dengan cepat, Tan mengaku masih merasa mix antara gembira dan gugup saat berada satu panggung dengan pemain-pemain yang dulu dikaguminya.
“Saya masih merasa terpesona kadang-kadang saat melihat pemain seperti Lydia Ko. Saat saya bermain tahun lalu, saya pasti lebih terpesona daripada sekarang. Saya sudah melihat mereka di beberapa turnamen, seperti British Open dan Evian Championship.
“Saya sudah mengenal beberapa di antaranya secara pribadi, tapi melihat mereka saat saya masih remaja dan kemudian berada di lapangan yang sama dengan mereka, itu benar-benar berarti banyak bagi saya,” jelas Tan.
Tan, yang menjadi pegolf pertama Singapura yang tampil di Olimpiade ketika berlangsung di Paris pada 2024, finis T34 pada debutnya di HSBC Women’s World Championship 2025. Ia terpacu untuk menggali pengalaman menghadapi para pegolf kelas dunia pekan ini.

Sementara itu, Yin Ruoning (CHN) termotivasi untuk memperbaiki hasilnya dari tahun lalu. Di HSBC Women’s World Championship 2025, pegolf berusia 23 tahun tersebut finis T21. Nama pegolf kelahiran Kunming ini melesat bak meteor ketika berhasil mengukir gelar juara major di KPMG Women’s PGA Championship 2023. Ia menjadi pegolf kedua China yang menjuarai event major. Yin sempat menduduki peringkat 1 dunia dan meraih empat gelar LPGA lainnya dalam perjalanan golfnya yang ia gambarkan sebagai “sebuah privilige”.
“Saya rasa prestasi saya jauh melampaui apa yang saya harapkan. Saat pertama kali bergabung dengan LPGA Tour, saya pikir butuh sekitar tiga tahun untuk terbiasa berkompetisi di level ini, dan kemudian saya akan melihat apa yang terjadi setelah itu.
“Tapi sekarang, ini tahun kelima saya dan saya sudah meraih lima kemenangan, termasuk satu gelar major. Ini benar-benar terasa seperti sebuah kehormatan, dan saya sangat bahagia bisa berada di sini dan berkompetisi di LPGA,” kata Yin, yang kini menargetkan untuk meningkatkan hasil tersebut.
“Setiap minggu sama bagi saya karena, tentu saja, saya ingin menang di setiap turnamen yang saya ikuti. Saya merasa permainan saya semakin baik setiap minggu. Tahun lalu sedikit sulit bagi saya, tapi tahun ini setiap aspek permainan saya membaik, dan saya hanya perlu menyatukan semua elemen tersebut,” tambah Yin.

Sementara itu, Charley Hull juga berusaha untuk menempatkan dirinya sebagai salah satu pesaing serius setelah memenangkan turnamen pembuka musim LPGA di Arab Saudi. Juara tiga kali LPGA dan pegolf No. 3 Dunia ini finis di posisi T4 di Singapura tahun lalu. Ia pun berkeinginan untuk memberikan tantangan yang kuat, sambil berusaha tetap tenang di bawah cuaca tropis.
“Saya akan berusaha tetap tenang di lapangan golf, karena hal terpenting adalah terus bermain karena cuacanya sangat panas.
“Tahun ini lapangan bermainnya lebih panjang, dan akan lebih sulit. Ada sedikit hujan, jadi bola tidak meluncur sejauh biasanya. Jadi, Anda bisa bermain agresif di sini,” kata Hull.



