Butuh Kompetisi Kuat & Konsisten untuk Berkembang

Dua tahun lalu, tepatnya 17 Oktober 2024, Kristina Natalia Yoko mengakhiri petualangannya di dunia amatir. Ia resmi mengumumkan status barunya: pemain profesional. Perjalanan selama 18 tahun dalam kompetisi amatir, dari junior hingga college golf, telah membentuk mentalitas, mindset, dan juga kemampuan pegolf berusia 25 tahun tersebut sebagai petarung sehingga bisa bersaing di level internasional dan menjadi salah satu andalan tim nasional dalam ajang kompetisi antar-negara.

Pengalaman-pengalaman berharga ini—beserta berbagai raihan prestasinya selama berstatus amatir—telah mendorong keinginan kuat Sarjana Administrasi Bisnis dari Augusta University tersebut untuk menorehkan prestasi lainnya dalam status tertinggi dalam olahraga golf. Berikut obrolan-obrolan menarik antara OB Golf dan pemegang kartu Thai LPGA Tour dan WPGA Tour of Australasia 2026:

Apa yang menjadi latar belakang Anda untuk turn pro?

Dasar utama aku turn pro adalah keinginan untuk menantang diri sendiri di level tertinggi. Setelah bertahun-tahun bermain di level junior dan amatir, aku merasa sudah sampai di titik di mana aku butuh kompetisi yang lebih kuat dan konsisten untuk berkembang.

Kompetisi profesional di Indonesia kan nggak ada buat wanita. Tapi, mengapa Anda tetap mutusin untuk turn pro?

Golf itu olahraga global dan aku melihat banyak peluang di internasional. Jadi, walaupun base tournament aku bukan di Indonesia, aku tetap ingin membawa nama Indonesia di level internasional.

Yoko saat tampil di IWO 2026. Foto: Faizal Rachman/ IWO

Untuk turn pro, apa saja yang mesti disiapkan? 

Semuanya butuh proses, yang paling penting harus menyiapkan mental, fisik, dan disiplin diri.

Anda kan pernah ngerasain college golf selama 4 tahun. Apa pelajaran yang di sana yang bisa Anda bawa untuk meng-improve permainan di level profesional?

College golf ngajarin aku disiplin dan konsistensi. Setiap minggu ada turnamen, latihan, gym, dan sekolah. itu harus seimbang. Selain itu aku juga belajar pentingnya routine dan preparation yang sangat kepake di level pro.

Sejak turn pro, apa pengalaman yang sudah Anda dapat hingga saat ini? 

Pengalaman terbesarnya adalah belajar sabar. Di profesional, field-nya jauh lebih kuat dan margin error sangat kecil. Aku juga belajar bahwa hasil tidak selalu instan, tapi setiap turnamen selalu ada pelajaran, baik dari skor, kondisi lapangan, maupun cara aku mengambil keputusan di lapangan.

Bagaimana performa Anda di musim 2025 kemarin?

Secara keseluruhan aku melihat progres terutama dari segi mental dan course management, walaupun tentu masih banyak ruang untuk berkembang.

Yoko di salah satu turnamen LPGA Thailand. Foto: LPGA Thailand

Nah, tahun ini Anda memegang 2 kartu tour: Thai LPGA dan WPGA. Bagaimana persiapan untuk menghadapi 2 kompetisi tersebut?

Persiapannya lebih ke manage fisik aku dan jadwal. Dari sisi permainan, aku fokus memperkuat fundamental dan short game karena itu krusial di dua tour ini dengan karakter lapangan yang berbeda.

Lalu, bagaimana mengatur ritme di 2 kompetisi yang berbeda ini agar tidak drop?

Kuncinya adalah recovery dan planning. Aku harus tahu kapan push, kapan istirahat. Enggak semua turnamen harus dimainkan dengan kondisi 100% perfect, tapi aku harus cukup fresh secara mental.

Dengan mengikuti 2 tour ini, apa target yang ingin dicapai di akhir musim 2026 ini?

Target utamaku adalah bisa konsisten lolos cut dan mulai bersaing di leaderboard. Aku ingin menutup musim 2026 dengan posisi ranking yang lebih baik dan membuka peluang ke tour yang levelnya lebih tinggi.

Yoko selama berkarier di amatir. Foto: Diaz/ Media PB PGI

Momen terbaik Anda selama berkarier di amatir?

Saat bisa bermain di Augusta National Golf Club hingga 3 kali. Nah, kami dapat invitation untuk main di Augusta. Itu pun cuma 5 slot. Setahun sekali. Nah, kami ada 8 orang cewek dan 8 orang cowok dalam 1 tim. Kita harus kualifikasi untuk masuk 5 spot (main di Augusta) itu. (Kualifikasinya) Main 3 hari. Kayak turnamen aja. Kami dapat (invitation) dari membernya Augusta, yang jadi salah satu sponsor kami. Augusta kan membernya cuma 300, dari seluruh dunia. Jadi, enggak sembarang orang bisa main di situ. Kalau nggak member, ya di-invite sama membernya. 

Bagaimana rasanya bermain di Augusta?

It’s great experience sih. Kita ngerasain bagaimana main di lapangan Augusta National. Lapangannya sulit banget. Rumputnya kayak gimana gitu. Greennya yang gede. Sloopy. Licinnya kayak gimana. Waktu main pun, enggak mikirin skor. Yang penting main dan nyobain semua (area)-nya. Bunkernya di kiri dan kanan di-cobain semua. Itu saja sudah having fun. Tapi ya emang keren banget sih Augusta National itu. 

Apakah perubahan mindset dari status amatir lalu menjadi pemain pro?

Golf bukan lagi sekadar hobi, melainkan pekerjaan yang menuntut disiplin, persiapan yang matang, dan pengambilan keputusan terbaik demi longterm performance.

 

Share with

More News

DP World Tour Dituding Lakukan “Pemerasan”

HSBC Women’s World Championship: Hannah Green Raih Trofi Ketujuh LPGA

HSBC Women’s World Championship: Duo Australia Sukses Gusur Pemuncak 36 Hole

Program Ramadan ala Riverside Golf Club

Digital Edition

COVER FEB MAR 2026
Februari - Maret 2026

Pertarungan Antara Prestasi dan Cinta

Cover DES-JAN 2026
Desember 2025 - Januari 2026

Golf Dunia dalam Genggaman Wanita 22 Tahun

COVER OKT-NOV 2025_page-0001
Oktober - November 2025

Hegemoni Sang No.1 Di Pentas Sejagat

Screenshot 2025-08-13 003040
Agustus - September 2025

Ada Apa dengan Collin Morikawa