Inspirator Golf dari Uganda

Isaac Sekulima mendobrak stigma bahwa golf identik dengan segala hal yang berbau kemewahan. Melalui golf, pria asal Uganda ini memberikan inspirasi kepada bahwa minat terhadap golf bisa dibentuk dalam kesederhanaan.

Di salah satu sudut kota Lugazi, yang berada di timur Uganda, seorang pria bersiap melakukan pukulan bola golf. Club pun diayunkan dengan swing yang terkendali. Club pun mengenai bola yang kemudian terbang melengkung tinggi dan mendarat di seberang sana.

Uniknya, pria itu berlatih golf tidak seperti kebanyakan pegolf berlatih. Tidak ada alas kaki. Ia hanya berdiri di atas hamparan tanah merah. Di hadapannya, hanyalah sepotong jalan sempit dan sebuah sungai kecil yang berkelok-kelok di antara semak belukar. Aksinya ini disaksikan segelintir anak-anak yang kemudian bertepuk tangan gembira ketika pukulan pria itu mengenai bola. Itu merupakan satu dari sekian aktivitas golf Isaac Sekulima, pria yang melakukan pukulan tadi. 

Credit: Istimewa

Isaac hanyalah seorang pria biasa asal Kota Lugazi, Uganda. Namun, passion-nya terhadap golf yang begitu tinggi membawa nama pria berusia 24 tahun tersebut mendunia. Ia justru memutarbalikkan fakta bahwa golf itu harus selalu mewah. 

“Ini bukan soal klub-klub mewah, pakaian mewah, atau lapangan golf mewah,” kata Sekulima, seperti dikutip Olympics.com. “Yang terpenting adalah memilih minat terlebih dahulu, lalu memelihara gairah itu di dalam hati. Setelah itu, saya yakin segalanya akan terasa begitu mudah.”

Isaac mulai mengetahui golf itu pada 2018. Ia merasakan euforia dalam golf ketika menjadi kedi kakaknya di Uganda Open. Ia menyaksikan sang kakak berhasil memasukkan bola dengan putt jauh dari jarak 16 meter. Penonton pun berteriak kegirangan, merayakan keberhasilan putt dari jauh tersebut.

“Sebenarnya saya tidak tahu apa-apa tentang golf. Saya mengetahui golf dari kakak saya. Dia mengajak saya sebagai kedi. Ketika saya menjadi kedi di pertandingan terbesar negara yang bernama Uganda Open. Kakak membuat putt yang panjang untuk memenangi pertandingan itu. Ketika dia berhasil memasukkan putt panjang (jarak 16 meter) itu dalam pertandingan, orang-orang itu berteriak kegirangan. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu dalam hidup saya. Pertama kali saya melihat orang-orang kegirangan dengan putt yang panjang itu. Itu gila banget sih,” jelas Isaac.

Isaac saat bermain di The Indonesia Pro-Am, Agustus lalu. Credit: Faizal Rachman/ TIPA

Sejak melihat “kegilaan”, Isaac mulai tertarik dengan olahraga ini. Ia pun mulai melakukan sesuatu, mempelajari golf.  “Untuk belajar golf, saya tidak punya pelatih. Kakak saya sendiri tidak punya kemampuan mengajar Jadi, saya biasanya menonton YouTube, menonton (Rory) McIlroy dan Tiger (Woods),” katanya. 

Namun, ia mengakui bahwa apa yang dilakukannya itu tidaklah mudah. Ia pun harus menghadapi tantangan di lingkungan sekitarnya yang mencemoohnya. Belum lagi, PHK menghantam ayahnya, yang membuat Isaac harus pergi ke luar kota untuk mencari pekerjaan.

“Tapi itu bukan hal yang mudah. Banyak orang berkata kamu tidak bisa main golf. Semua orang mengatakan itu. Karena itu, saya latihan malam-malam. Kalau siang hari semua orang menertawai saya. Situasinya pun makin sulit. Ayah saya kehilangan pekerjaan, saya keluar dari sekolah,” katanya. 

“Sebagai anak lelaki dan sebagai orang yang sudah dewasa, saya harus mencari pekerjaan. Jadi saya keluar dari rumah, dan pergi ke Ibu Kota. Saya mulai berusaha untuk mencari pekerjaan– berjualan pancake di jalanan untuk membantu menghidupi keluarganya. Tidur dalam keadaan lapar menjadi sesuatu yang normal di rumah kami. Saya pergi ke kota, berusaha mencari pekerjaan. Saya tidak bisa pulang ke rumah.  Karena terlalu jauh (rumah-Ibu Kota), saya tidak pulang ke rumah. Saya tinggal di jalanan sekitar setahun. Lalu, seorang teman menelepon saya. Dia menawarkan tempat untuk saya tinggal Itulah kenapa saya bisa keluar dari jalanan.”

Credit: Faizal Rachman/ TIPA

Itu menjadi titik balik kebangkitan Isaac. Ia mendapatkan pekerjaan, sebagai kedi. Pekerjaan inilah yang membawanya kembali ke sekolah, yang terputus karena ayahnya menganggur. 

Di lapangan golf ia menjadi kedi. Di situ ia bertemu dengan seseorang yang menawarkan beasiswa untuk sekolah. “Saya pun kembali ke sekolah untuk belajar. Di situlah saya mulai melihat hidup saya berubah hingga timbul keinginan untuk membantu anak-anak yang memiliki latar belakang seperti saya dalam menjalani hidup. Saya ingin memunculkan yang terbaik dari diri mereka,” jelas Isaac. 

Satu hal yang Isaac pahami adalah golf. Belajar secara autodidak dari McIlroy dan Woods, Isaac berhasil mencapai angka 11 untuk handicapnya. Tidak hanya itu, ia memanfaatkan kemampuannya tersebut untuk melatih golf. Saat ini ada sekitar 100 anak Uganda yang belajar golf. Isaac bahkan mengembangkan passion golf-nya itu melalui jaringan media sosial. Dengan akun Instagram @isaacstylesgolf, Isaac berhasil mengangkat negaranya dalam peta golf dunia. Padahal, golf ini merupakan olahraga yang kurang populer di negara Afrika Sub-Sahara tersebut. 

“Dengan sedikit usaha yang saya curahkan untuk ini, saya sebenarnya adalah kreator terbesar di Afrika. Begitulah gilanya,” katanya. “Itu hanya menunjukkan betapa rendahnya pertumbuhan [golf] kita di Afrika saat ini.”

Isaac pun menjelma sebagai pegolf autodidak, pelatih golf, dan sekaligus content creator yang berhasil mempopulerkan olahraga tersebut in Uganda – dan seluruh Afrika– hanya dengan mengandalkan ponselnya, tongkat golfnya, dan tekadnya yang tak kenal menyerah.

Isaac menampilkan golf dalam feed Instagram-nya berbeda dengan postingan-postingan golf umumnya. Anda akan melihatnya memukul bola di jalur tanah saat hujan deras, dan mengajarkan dasar-dasar golf kepada anak-anak bertelanjang kaki di desa-desa terpencil. Bahkan, Isaac sering tampil tanpa baju, bermain dengan sandal, atau tanpa alas kaki sama sekali. Penyajian postingan yang sangat sederhana ini justru membuat follower-nya bertambah banyak. Hingga saat ini, Isaac memiliki lebih dari 170 ribu follower. 

Credit: Faizal Rachman/ TIPA

“Apa yang saya lakukan hanyalah menceritakan kisah seorang anak di Afrika yang tidak benar-benar memiliki kesempatan untuk bermain golf dengan perlengkapan mewah,” jelasnya.

“Saya mengunjungi berbagai komunitas agar anak-anak ini bisa melihat saya apa adanya. Banyak di antara mereka yang tidak memakai kaus, dan sebagian lagi memang memakai kaus, tapi kausnya robek-robek. Saya juga tidak memakai kaus. Saya sama seperti mereka. Saya adalah kalian, tapi saya bermain golf,” kata Isaac dalam menyampaikan pesannya. 

“Setiap ayunan bisa menceritakan begitu banyak tentang kisah anak-anak di Afrika,” katanya. “Begitulah cara kita bisa mengubahnya. Begitulah cara kalian bisa mengubahnya, karena kita tahu di mana harus mengubahnya.”

Yang menarik, Isaac melakukannya dengan sukarela. “Sebenarnya, saya tidak melakukan ini demi uang. Saya melakukannya demi warisan yang akan saya tinggalkan. Pengetahuan yang saya miliki, pengetahuan yang telah saya kumpulkan selama bertahun-tahun, dapat membantu saya membimbing seseorang. Orang itu nantinya bisa bermain golf di level tertinggi.”

Itulah yang membedakan Isaac dengan golf influencer umumnya. Pantaslah jika ia disebut-sebut sebagai seorang inspirator golf dari Uganda. (YM)

Share with

More News

Asian Tour Batalkan QS untuk 2027

Jon Rahm Tinggalkan LIV Golf

Shot Scope LM1: Kombinasi antara Akurasi, Portabilitas, & Value

Rose & Scott Nomine Finalis World Golf Hall of Fame 2027

Digital Edition

COVER OKT-NOV 2026_page-0001
Oktober - November 2026

Dua Nama Menorehkan Kisah Bahagia

COVER AUG-SEP 2026
Agustus - September 2026

Lima Dekade Perjalanan Golf Nasional

COVER JUN-JUL 2026
Juni - Juli 2026

Perjamuan Dua Major Tersulit Musim 2026

APR-MEI 2026-OUTLINED DIGITAL-PAGE-1_page-0001
April - Mei 2026

Kisah AK: Terpuruk, Bangkit & Berjaya

slot gacor

bonanza88bet

bonanza88bet