Krishna Iskandar: Persiapan untuk Tampil di AAC 2026

Jam terbang Krishna Iskandar menjadi salah satu kunci keberhasilan Kenneth Henson Sutianto dalam mencapai raihan tertinggi di karier amatirnya ketika berkiprah di turnamen profesional internasional. Sejak menjadi pelatih Kenneth setahun yang lalu, Krishna bisa memantau perkembangan anak asuhnya ini secara langsung. Prestasi terkini Kenneth, yaitu gelar Lowest Amateur di turnamen ADT Ciputra Golfpreneur Tournament 2026, menjadi bukti tangan dingin Krishna dalam mendampingi anak asuhnya tersebut.

Untuk Ciputra Golfpreneur Tournament (CGT) 2026, bagaimana ceritanya Anda menjadi kedi Kenneth? 

Saya menjadi kedi Kenneth di Ciputra Golfpreneur Tournament 2026 sebagai bagian dari persiapan Kenneth mengikuti turnamen Asia-Pacific Amateur Championship (AAC) 2026 di New Zealand. Ciputra Golfpreneur Tournament merupakan yang ketiga kalinya saya menjadi kedi Kenneth. Pertama, di Jakarta International Championship (JAKIC, International Series Asian Tour) PIK Course 2025 dan ke-2 di AAC Dubai 2025. Dengan menjadi kedi Kenneth, saya sebagai pelatihnya lebih bisa melihat aspek-aspek apa saja dari permainan dia yg bisa di-improve menjelang AAC New Zealand akhir Oktober nanti.

Selama 4 permainan Kenneth, apa yang Anda lakukan dalam menjaga permainannya sehingga tetap stabil? 

Saya selalu mengingatkan dia bahwa turnamen pro dan amatir sangat berbeda. Tidak ada yang menjamin bisa jadi juara walaupun leading banyak di hari pertama. Tetapi, apabila blow up di hari pertama, sudah pasti akan miss the cut. Di turnamen amatir, jauh lebih mudah untuk dia make the cut walaupun bermain tidak bagus di hari pertama. Oleh karena itu, saya selalu mengingatkan dia untuk bermain lebih smart, meminimalkan mistake yang tidak diperlukan. Apabila bermain kurang bagus seperti +1 atau +2 di hari pertama, masih bisa comeback di hari ke-2 untuk lolos. Tetapi, apabila sudah bermain lebih dari +3, karena banyak penalty akibat bermain terlalu aggressive di round 1, itu akan menyulitkan untuk bisa lolos di hari ke-2.

Lalu, bencana terjadi di hari ketiga main ketika ia main 7-over, apa yang terjadi?

Dia start bogey, double bogey, dan triple bogey. Mungkin dia terlalu santai karena sudah lolos. Dia sudah sempat comeback setelah hole 12. Skornya sudah kembali ke +3 dari +6, tetapi sayangnya dia membuat 3-putt di hole 13 dan hole 14 dari jarak sekitar 5 meter karena terlalu aggressive. Setelah itu, dia terlihat terpukul sampai akhir round

Evaluasi apa yang Anda berikan kepada Kenneth sehingga bisa bounce back di final round?

Setelah finis round (ketiga), saya memberikan dia drill untuk distance control pada puttingnya sebagai persiapan di hari terakhir, dan bersyukur bahwa puttingnya membaik di final round.

Credit: Faizal Rachman/ CGT

Jika melihat perkembangan Kenneth sejak pertama kali Anda pegang setahun yang lalu, bagaimana Anda menilai permainan Kenneth saat ini?

Dibanding tahun lalu, Kenneth pasti udah lebih dewasa. Dalam setahun buat anak remaja seperti dia kan pasti perkembangan mentalnya juga akan sangat terlihat. Dan bisa terlihat dari average score dia membaik. Mungkin skor-skor buruknya juga membaik menurut saya. Karena di level permainan semakin bagus seseorang, yang akan membedakan adalah bad day-nya dia menurut saya. Seperti elite amatir dan pro, mungkin pada saat mereka sama-sama lagi main bagus mereka bisa sama-sama mirip-mirip itu skornya. Tapi, pemain-pemain top itu pada saat lagi jelek, average score mereka akan lebih baik daripada si amatir itu dalam situasi yang sama. 

Apakah Kenneth satu-satunya pemain yang Anda dampingi dalam event internasional?

Untuk murid-murid saya, saya sudah bilang bahwa saya willing buat jadi kedi mereka tapi hanya di turnamen pro. Untuk level seperti Asia Pacific Tournament atau WAAC itu, Women’s Asia Pacific, saya bersedia jadi kedi mereka.

Selain Kenneth, siapa lagi yang juga Anda dampingi? 

Untuk turnamen internasional, mungkin ada beberapa murid saya yang main, seperti Dylan Michio, dia masih di kelas C. Ada Amira (Permadi), dia juga masih di kelas C saat ini. Holly (Victoria Halim), pada saat dia lagi di Jakarta. Holly sendiri punya pelatih di Korea. Namun, saat di Jakarta, ada saat-saat tertentu saya membantu dia juga untuk latihan. Dia kadang kontak saya untuk minta sesi latihan barengan. Jadi mungkin yang di level elite saya ada Holly dan Kenneth.

Untuk yang junior, yang sudah sering main keluar, ada Michio dan Amira. Saya juga di beberapa event bantu teman saya, mantan pegolf PGA Tour Kiradech Aphibarnrat (THA). Seperti kemarin saya dampingi dia ketika ada turnamen PGA Tour ISCO Championship di Kentucky dan Corales Puntacana Championship di Dominic Republic.

Lalu, bagaimana Anda me-manage para pegolf tersebut karena masing-masing kan memiliki gaya permainan yang berbeda?

Mungkin itu yang saya bantu. Tentunya me-manage pemain di level elite dan membentuk junior kan beda. Apabila membentuk junior, kita bisa kayak dengan template yang sudah ada. Tapi di level elite, saya rasa kita harus sebagai pelatih harus bisa adjust, menyesuaikan dengan karakter mereka juga. Karena cara menghadapi mereka juga kan sangat berbeda-beda. Tidak ada dua orang yang bisa kita hadapi dengan caranya sama, dengan cara mengajarnya sama. There are many ways to teach, menurut saya.

(YM)

Share with

More News

Sports for Wishes Gelar Turnamen Golf Amal Kedua

SJM Macao Open 2026: Wang Wei-hsuan Bayar Lunas Kekalahan Tahun Lalu

SJM Macao Open 2026: Duel Sungjae Im dan Wang Wei-hsuan di Putaran Final Besok

SJM Macao Open 2026: Pasca-Putaran Kedua, Sungjae Im Kokoh di Papan Atas Klasemen

Digital Edition

COVER OKT-NOV 2026_page-0001
Oktober - November 2026

Dua Nama Menorehkan Kisah Bahagia

COVER AUG-SEP 2026
Agustus - September 2026

Lima Dekade Perjalanan Golf Nasional

COVER JUN-JUL 2026
Juni - Juli 2026

Perjamuan Dua Major Tersulit Musim 2026

APR-MEI 2026-OUTLINED DIGITAL-PAGE-1_page-0001
April - Mei 2026

Kisah AK: Terpuruk, Bangkit & Berjaya

slot gacor

bonanza88bet

bonanza88bet