Profesional Indonesia, Dulu & Saat Ini

Ranah golf profesional Indonesia mengalami pergeseran yang demikian cepat. Dalam 10 tahun terakhir, pegolf-pegolf profesional muncul dari kalangan yang berbeda. Ini tentu saja menarik karena memberikan perubahan yang signifikan dalam perkembangan golf profesional ini sendiri.

Agus Triyono, Ketua Umum Professional Golf Association Touring Indonesia (PGATI) memberikan pandangannya dalam obrolan yang santai bersama OB Golf.

Bisa diceritakan bagaimana perkembangan golf profesional di Indonesia dalam 3 dekade terakhir?

Sejak 2002, kita mengalami banyak perubahan. Jika dulu untuk menjadi profesional itu kan tinggal ngajuin (ke organisasi profesional), bayar, dan selesai (kartu pro) jadi. Setelah itu kita sudah mulai mengubah untuk (persyaratan) perekrutannya itu. Pertama, pendidikan harus minimal SMA. Lalu, harus ada tes (playing ability test, PAT) juga. 

Khusus teaching pro, administrasinya tetap berlaku. Tesnya juga tetap ada. Sertifikasinya kita kembangkan. Sertifikasi ini justru poin yang penting menurut saya untuk setiap orang-orang yang ingin menjadi pengajar.

Pengajar kan itu profesi, kemudian juga setiap profesi kompetensinya harus dimiliki. Karena itu kita bikin seperti itu, walaupun masih tingkat-tingkat yang dasar. Tetapi, intinya, perekrutan itu sudah mengandung prosedur-prosedur yang umum dilakukan di luar juga.

Untuk touring pro, jika mulai 2002 itu sifatnya masih seperti tradisional. Buat turnamen, mereka main. Belum ada turnamen profesional internasional. Namun, sejak 2005, Indonesia Open—yang di-sanction Asian Tour–kembali bergulir. Lalu, Indonesia Masters mulai 2011. Di tahun berikutnya, ada Asian Development Tour (ADT). Baru mulai ADT-ADT.

Para pemainnya?

Perkembangan golf profesional kita pun menyangkut para pemainnya itu sendiri. Jika dulu kebanyakan para pegolf berasal dari internal lapangan, seperti kedi dan warga sekitar lapangan. Kini, jangkauannya lebih luas. Banyak pemain muda muncul dan juga umumnya memiliki pendidikan yang bagus. Jadi menurut saya ini juga pengaruh dari luar juga. Jadi sejak Tiger Woods muncul yang kemudian menjadi idola orang-orang. Tiger juga mempengaruhi kita. Jumlah pemain profesional yang potensial pun kini lebih banyak. 

Dari sisi permainan, apakah ada juga peningkatan?

Saya kira pastinya ada. Jika dulu main mau 1-under atau 2-under, itu susah banget. Saat ini mencapai skor under, bukan hal yang sulit. Pemain-pemain muda kita saat ini memiliki prestasi yang cukup, kemampuan, dan permainannya cukup bagus. Menurut saya sih, ini semua berkat pembinaan-pembinaan tahun-tahun sebelumnya.

Meski kualitas profesional kita sudah lebih baik, apa kendala yang dihadapi saat ini? 

Jumlah profesional kita lebih sedikit dibanding 15 tahun yang lalu. Dulu kita nyari 120 peserta untuk satu turnamen, itu cepat banget dapatnya. Semakin sedikit jumlah pemain ini memang disebabkan jumlah turnamen pro yang ada. 

Mereka ini, meski sudah latihan rutin bagus, kalau nggak ada turnamennya, pastinya juga akan merasa percuma. Karena itu, kami terus mengupayakan supaya turnamen itu makin banyak. Ketika kompetisinya lebih banyak, jumlah profesional yang bermain pun akan lebih banyak. 

Apa yang mesti dilakukan PGATI untuk mengatasi kendala itu?

Kami harus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan stakeholder—organisasi amatir, lapangan golf, dan juga sponsor–yang ada. Ekosistem golf ini, dari junior hingga profesional, harus betul-betul dijaga dan ditingkatkan. Saya yakin semakin banyak bibit pegolf yang bisa dibina, profesional kita akan mendapatkan jumlah persentase yang baik dari bibit-bibit pegolf potensial itu. Itu yang menurut saya perlunya menjaga ekosistem ini agar tidak terputus-putus. Itu yang mengakibatkan nanti pembinaan itu (ke profesional) juga akan terputus.

Saat ini bagaimana kualitas profesional kita di level internasional?

Ya, selama ini kita paham bahwa di Asian Tour qualifying school kita nggak pernah lolos kan. Tapi akhir tahun kemarin kita baru lolos satu: Naraajie. Dari mana dia? Sumbernya dari waktu dia masih kecil—ekosistem golf. Lalu, ada Kevin C. Akbar yang juara ADT dan juga Jonathan Wijono yang bermain di Asian Tour. 

Dalam 3-4 tahun terakhir ini, Indonesia mulai memiliki banyak pegolf profesional wanita. Bagaimana Anda melihat potensi para pegolf wanita ini?

Saya melihat potensinya akan bagus. Mereka kebanyakan berasal dari atlet-atlet golf (untuk touring pro) yang sudah teruji di dalam dan luar negeri. Saya optimistis mereka akan berbicara di dunia internasional.

 

Share with

More News

Dominasi Alit Jiwandana & Tomomi Ishihara Masih Tak Terbendung

Golfusion Golf Tournament 2026: Merangkai Swing, Membangun Koneksi, Membuka Peluang

Kasus DUI, Tiger Dilarang Nyetir 5 Tahun

Shot Scope Resmi Ekspansi ke Indonesia, Gandeng Leonian untuk Hadirkan Teknologi Golf Berbasis Data

Digital Edition

COVER AUG-SEP 2026
Agustus - September 2026

Lima Dekade Perjalanan Golf Nasional

COVER JUN-JUL 2026
Juni - Juli 2026

Perjamuan Dua Major Tersulit Musim 2026

APR-MEI 2026-OUTLINED DIGITAL-PAGE-1_page-0001
April - Mei 2026

Kisah AK: Terpuruk, Bangkit & Berjaya

COVER FEB MAR 2026
Februari - Maret 2026

Pertarungan Antara Prestasi dan Cinta