Pembinaan Golf Wanita Belum Prioritas

Perjalanan golf wanita di Indonesia dalam 3 dekade ke belakang memang bisa digali pada sosok Netty Hariadi. Pegolf wanita yang kini merupakan salah satu anggota Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia periode 2023-2027 tersebut menjadi saksi perkembangan golf wanita sejak 2000-an.

Kepada OB Golf, Netty yang menjadi Ketua Sub-Bidang Wanita, Bidang Kejuaraan dan Prestasi, PB PGI ini menjelaskan bagaimana perkembangan golf wanita saat ini:

Tiga dekade (mulai 2000-an) perjalanan golf wanita Indonesia, bagaimana Anda menilainya?

Kalau saya lihat sih, agak lumayan sih waktu masih ada di PB (kepengurusan sejak 2000-an) hingga saya selesai setelah ngurusin anak-anak ke SEA Games 2015 (1 medali perunggu untuk beregu, 2 perak (individual dan beregu putri). Kemudian, saya quit kan dari PGI. Baru masuk lagi era Pak Japto (Soerjosoemarno, 2023-2027). Tapi terus terang saja sih, saya lihatnya jauh menurun. Walaupun ada satu-dua yang bagus-bagus, hanya sebentar. Kemudian ketika melanjutkan kuliah ke luar negeri, susah lagi untuk mengangkat nama negara kita. Itu problem sih buat kita. Itu yang saya lihat juga, sebelum 2020 dengan sesudah 2020 ya. 

Jika dilihat dari kepengurusan PB sejak Anda mulai bergabung hingga Anda kemudian mundur, bagaimana naik-turunnya golf wanita di Indonesia?

Sebelum 2010 itu, saya lihat (perkembangannya) sedang ramai-ramainya banget. Waktu itu zamannya Pak Jerowacik (Ketua Umum PB PGI periode 2005- 2009. Tidak hanya ladies, semua turnamen kita yang jalankan, dari men, junior, hingga ladies-nya. Ketika zaman Pak Arifin (Panigoro, periode 2009-2013) juga sudah mulai menurun, walaupun masih ada ini sisa-sisanya. Hanya beliau ketika itu lebih menggalakkan level junior. Di eranya Pak (Murdaya) Po (periode 2013-2023) menurun banget. Itu bukan saya saja yang bilang.

Maksud Anda?

Menurun dari pandangan dari luar, khususnya R&A. Saya baru tahu dari R&A, Jerome Ng, R&A Director of Golf Development, Asia Pacific. Tidak hanya Indonesia, Malaysia, Filipina, dan satu lagi Singapura pun ngalamin hal yang sama: penurunan. Saya juga akui kita memang agak mundur. Khususnya untuk yang wanita, dari dulu memang sulit.

Kenapa Thailand tidak dianggap mundur?

Thailand itu memiliki satu foundation (Thailand Amateur Ladies Golf Association). Ini berjalan cukup bagus. Mereka menginginkan (organisasi) khusus untuk wanita. Jadi punya program khusus untuk pembinaan nasional mereka. Mungkin patut juga ya dicontoh upaya mereka ini. 

Netty Hariadi. Foto: Samuel/ Media PB PGI

Mengapa pegolf wanita kita lebih sulit berkembang dibandingkan pria?

Dibandingkan dengan pegolf pria, pemain wanita memang sedikit. Walaupun sistemnya (pembinaan) kadang-kadang juga kurang bagus, stok pemain pria lebih banyak. Kita kan dari zaman Lidya (2004-2013), pegolf-pegolf wanitanya yang bagus sangat sedikit. Dari sekian banyak itu, hanya Lidya(Ivana Jaya) yang berlanjut ke profesional (2008).

Apa yang Anda ingat soal almarhumah Lidya?

Saya kagum dengan perjuangan almarhumah Lidya. Menemaninya selama di amatir hingga ketika dia turn pro itu saya baru lepas. Pengalaman dia main di Queen Sirikit itu yang paling saya banggakan.

Ketika itu, Queen Sirikit 2008, hanya dia sendiri dari Indonesia yang selesai bermain 4 hari itu dengan total 10-under. Lihat pemain-pemain luar itu main kan sampai belas-belasan. Lidya bisa masuk Top 10 individual, posisi 6 pada 2008. Saya waktu itu yang antar dia. Setelah itu kita sulit menyamai (prestasinya) lagi. 

Setelah sekian lama, a’pa yang salah dalam sistem pembinaan di Indonesia? 

Jadi, yang salah itu kita sistem pembinaannya atau sistem struktur di golf kita yang belum berpihak banyak kepada pegolf wanita. Saya sih melihat kayaknya kalau perempuan kayaknya tidak terlalu jadi prioritas. Di kepengurusan pun demikian. Jadi kadang-kadang wah saya merasa pegolf wanita itu tuh paling tidak ada perhatian gitu lah seperti kayak anak tiri. Kita lihat dalam pemerintahan sekarang ada Kementerian Perempuan. Jadi, semestinya dalam PB itu juga untuk bidang (khusus) pembinaan prestasi untuk perempuan. Mesti dibikin sendiri yang bisa independent, seperti Thailand. Independen. 

Bagaimana support Ketua Umum PB Japto sendiri dengan pembinaan pegolf wanita?

Beliau sangat support. Ketua kita terus mendorong keberlangsungan golf wanita. Beliau bilang ke saya, bikin dong ladies opennya, ladies amatir open. Saya mau, mau sekali. Malah kita sudah pernah ngajukan untuk ini, tapi saya kan ada dalam gerbong ini. Jadi, nggak terwujud. Karena itu, dibuatlah ladies amateur open itu digabung dengan men open. Padahal, kami maunya terpisah. Nah, penggabungan men dan ladies amateur jadi seperti kejurnas. Kalaupun digabung, tidak digelar dalam waktu yang bersamaan, meski venue-nya sama. Another week, you bikin. Tidak bisa disatukan begitu. Harus sendiri-sendiri.

Jika melihat kepengurusan sekarang visi Ketua Umum Japto terhadap pembinaan pegolf khusus untuk wanita? 

Sebenarnya bagus sih. Kita bisa lihat, kita sekarang punya Indonesia Women’s Open (national open untuk wanita). PGI kan sangat mendukung IWO ini. Itu artinya kan Pak Japto sangat concern terhadap (pembinaan) itu. Hanya di dalamnya (kepengurusan) itu yang belum sepaham. Jadi, ya tidak sejalan dengan yang kami (pegolf-pegolf wanita) harapkan. 

Share with

More News

Dominasi Alit Jiwandana & Tomomi Ishihara Masih Tak Terbendung

Golfusion Golf Tournament 2026: Merangkai Swing, Membangun Koneksi, Membuka Peluang

Kasus DUI, Tiger Dilarang Nyetir 5 Tahun

Shot Scope Resmi Ekspansi ke Indonesia, Gandeng Leonian untuk Hadirkan Teknologi Golf Berbasis Data

Digital Edition

COVER AUG-SEP 2026
Agustus - September 2026

Lima Dekade Perjalanan Golf Nasional

COVER JUN-JUL 2026
Juni - Juli 2026

Perjamuan Dua Major Tersulit Musim 2026

APR-MEI 2026-OUTLINED DIGITAL-PAGE-1_page-0001
April - Mei 2026

Kisah AK: Terpuruk, Bangkit & Berjaya

COVER FEB MAR 2026
Februari - Maret 2026

Pertarungan Antara Prestasi dan Cinta