Tahun depan Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia 2023-2027 akan berakhir. OB Golf berbincang dengan Suharsono, Sekretaris Jenderal PB PGI, untuk mengetahui apa saja yang telah dijalankan kepengurusan saat ini.
Berikut kutipan perbincangan tersebut:
Ketika kepengurusan PB PGI 2023-2027 diresmikan, apa fokus pembinaan amatir secara keseluruhan?
Awalnya sih kita konsentrasi itu untuk menambah jumlah pemain, bibit-bibit juniornya, dan juga memperbanyak event. Kita pun mendorong pemain-pemain kita untuk bisa ikut banyak turnamen di luar, sehingga pengalaman mereka itu akan bertambah dan mentalnya makin meningkat, yang pada akhirnya kan kita melihat anak-anak ini sekarang prestasinya dari hasil pertandingan. Beda kan dengan yang dulu-dulu. Dulu juaranya under sekian, sekarang sudah mulai mengalami peningkatan.
Jadi sebenarnya itu menjadi satu patokan, tolak ukur, di mana hasil juara turnamen itu harus makin tinggi under-nya. Lihat OJAO (Olympic Jabar Amateur Open) 2015, saya (main) over 5 saja masih bisa juara. Tapi lihat OJAO sekarang, under 5 belum tentu menang menang, under 10 juga demikian. Nah itu tolak ukur, artinya prestasi mereka itu juara tapi sudah meningkat (perolehan skornya). Tapi kalau kita ngomong membandingkan dengan negara luar, kita tetap harus meningkatkan itu. Di luar itu under-nya pemain amatir itu kayak pro. Jadi tetap kita jangan lengah, harus ditingkatin terus.
Ketika menerima warisan dari Pak (Murdaya) Po (Ketua Umum PB PGI 2013-2023), bagaimana kondisi amatir saat itu?
Kalau boleh ngomong jujur, itu beberapa anak sekarang pun itu warisan dari yang lama. Zamannya si (Gabriel) Hansen, itu kan peninggalan yang lama mereka itu dari situ.
Tetapi dari yang sekarang ini kalau kita lihat kan kita udah mulai banyak nih, ada Kenneth (Hanson), ada Jayawardana (Dornan), itu calon-calon bagus. Terus kita juga sekarang yang di bawahnya lagi juga ada, cuma memang belum banyak, seperti Almira (Permadi), Alletta (Kahfi), dan Bradley Tanadi). Nah di bawahnya memang belum banyak. Kita berharap harus lebih banyak lagi, berpuluh-puluh kali lipat, baru bisa, kan enggak semuanya jadi. Punya sepuluh, mungkin jadi satu dua. Tapi, kalau kita punya seratus kan diharapin jadi sepuluh. Jadi tetap kita meningkatkan minat orang main golf. Itu penting.

Apa sinergi yang dilakukan PB PGI dengan PGATI agar pegolf-pegolf amatir yang turn pro tetap ada?
Begini, di PB-PGI itu kan levelnya ke amatir. Sedangkan, amatir itu kebanyakan pertandingannya di kelas junior. Di amatir (di atas junior) juga ada. Namun, pegolf-pegolf amatir yang sudah bekerja agak susah (didorong untuk beralih ke pro). Sementara, pemain yang sudah jago-jago, kelas elite, akan menargetkan untuk menjadi pro. Karena itu, kami pun men-support turnamen-turnamen pro. Misalnya, Indonesia Open, di situ kan kita juga menyisipkan pemain-pemain amatir kita, supaya mereka mencari pengalaman di situ.
Mereka yang menjadi pro itu juga perlu disupport dengan menyediakan banyak turnamen. Supaya mereka itu bergairah dan mengasah terus (kemampuannya). Kami selalu sanction, full support sama mereka. Supaya itu berkembang.
Mengapa pegolf-pegolf kita sulit sekali bersaing di level Asia Tenggara, khususnya dengan Thailand?
Saya pribadi melihat secara teknik kita kalah (jauh). Teknik mukulnya itu kalah. Kita masih autodidak. Kedua, secara fisik itu kita beda. Fisiknya kalah sama mereka. Itu sebabnya anak-anak yang sekarang ini saya gojlok terus (fisiknya). Fisik itu penting sekali. Tapi juga teknik. Saya lihat anak-anak kita ya, beberapa itu main mukul jauh. Tapi enggak bisa akurat. Jauhnya bisa kalau pakai tenaga. Tapi kalau tekniknya enggak, kurang pas (hasilnya).
Karena itu, perlu pelatih-pelatih yang bagus. Pelatih yang bagus, menurut saya pribadi, kalau kita mau ngalahin Thailand, jangan cari pelatih dari Thailand. Harus pelatih yang di atasnya Thailand. Baru kita bisa ngalahin Thailand.
Mental juga penting. Mental bertanding, sering bertanding. Makanya anak-anak itu, kalau ada turnamen di mana pun, kita kirim. Supaya mereka belajar itu.
Saat ini banyak atlet-atlet kita bertanding di luar negeri. Ini untuk menaikkan jam terbang?
Iya, supaya mereka itu bisa berlatih. Nggak ada demam panggung. Di saat ada event gede, hal itu (demam panggung) masih suka terjadi. Coba lihat pegolf-pegolf pro kita sekarang. Jowi (Jonathan Wijono) sering keluar, Kevin (C. Akbar) juga begitu. Kayaknya mereka beda kan sekarang.
Tahun depan kan kepengurusan Pak Japto berakhir, apa harapan untuk kepengurusan baru?
Jangan bikin yang baru lagi. Sebenarnya di zaman yang sekarang Pak Japto itu, kita bukan hanya membenahi atlet-atlet, melainkan juga ART. Kita membenahi jumlah klub. Kita ingin memangkas supaya lebih ramping. Nggak perlu banyak-banyak. Toh hasilnya sama aja.
Kita pun membenahi handicap. IGAR (Indonesia Golf Amateur Ranking) akan kita jalankan lagi.
Mudah-mudahan ke depannya itu semua bisa dilanjutkan.



