Gianti Mahardhika dan Marelda Pyrena Ayal resmi menyandang status profesional. Menjadi teaching pro, kedua mantan atlet amatir tersebut ingin berbagi kemampuan mereka dengan pengalaman bertanding selama di kompetisi amatir.
Belantika golf wanita Indonesia makin ramai dengan kehadiran para profesional baru yang meramaikan gairah iklim golf untuk profesional di Tanah Air. Dua di antaranya adalah Gianti Mahardhika dan Marelda Pyrena Ayal. Keduanya telah menyatakan diri sebagai profesional, menanggalkan status amatir yang sudah lama ditekuninya.
Gianti atau yang biasa dipanggil Tika ini baru memutuskan untuk turn pro pada Desember 2025. Pilihan tersebut akhirnya diputuskan setelah 25 tahun menjalani karier amatirnya. Pegolf yang kini berusia 31 tahun ini mengatakan pilihan untuk menjadi pemain pro merupakan keputusan yang diambil dari pemikiran yang panjang dan juga masukan dari beberapa rekan pegolf dekatnya.
“Sebenarnya kan saya ingin menjadi (pemain) amatir sejati kayak Krishna (Iskandar, pegolf amatir yang kini menjadi teaching pro). Krishna kan bisa dibilang salah satu role model atau kakak saya-lah. Namun, dia yang kemudian turning pro itu tidak memberhentikan dia untuk berkembang. Maksudnya, sebagai teaching pro, itu banyak yang bisa dipelajari. Itu membuka wawasan kita dan juga link kita untuk bekerja lebih dari yang kita sudah ada saat ini,” kata Tika.
“Jadi, dari awal mulanya ngobrol-ngobrol sama teman, lalu banyak yang kasih input, this is the time for me to grow. Lalu, adanya turamen kayak IWO (Indonesia Women’s Open) jujur ya, itu menggerakkan aku juga sih. I think this is the time to play my part, supaya lebih banyak lagi anak-anak pro ladies di Indonesia,” tambahnya.
Sementara, Elda—demikian panggilan akrab Marelda—telah memprolamasikan diri sebagai pemain pro sejak 2024. Namun, sepanjang menjadi pemain pro, ia memang belum sempat melakukan apa-apa yang mestinya dilakukan sebagai pegolf profesional. Kesibukannya bekerja di AS memang menunda itu.
Namun, sejak kembali ke Tanah Air pada September tahun lalu, Elda mulai fokus untuk menjalani status profesionalnya. Ia memang berkeinginan untuk mengembangkan diri sebagai seorang teaching pro. Keyakinannya sebagai teaching pro memang didasari pada pengalamannya sebagai pemain di golf college.
“Golf college benar-benar mendefinisikan siapa saya saat ini. Dalam arti tertentu, ketika saya menengok ke belakang dan bertanya pada diri sendiri, apa yang bisa saya kontribusikan, seperti saat ini. Saya pikir sebagian besar dari itu saat ini bahwa saya hanya ingin membalas budi (kepada para pegolf pemula),” jelas Elda, yang pernah menjuarai Kejurnas Golf Junior 2019.
“Saya pun melihat pada diri saya bahwa saya punya potensi dalam seberapa banyak saya bisa membantu (dengan mengajar golf). Saya benar-benar ingin melakukannya karena saya melihat celah ini. Saya akan mencoba mencari cara sebaik mungkin untuk berkontribusi dalam membalas budi,” tambah alumnus Rogers State University.
Seperti halnya Elda, Tika yang merupakan lulusan Sam Houston State University pun merasakan golf college ketika menjalani masa-masa perkuliahan di Amerika Serikat. Pengalaman ketika bermain di amatir Tanah Air dan juga college golf tentunya menjadi modal bagi Tika untuk membagi pengalamannya ini dalam bentuk pembelajaran golf kepada para pegolf atau pemula yang berguru kepadanya. Di samping seorang teaching pro, Tika pun telah menyandang status pegolf yang lulus level 2 dalam Rules of Golf schools.
Meski demikian, baik Tika maupun Elda berpikir bahwa pengalaman golf saja tidak cukup untuk memberikan pelatihan golf. Keduanya tetap menilai bahwa seorang teaching pro perlu membekali diri dengan pelatihan maupun sertifikasi yang mendukung pola kepelatihan mereka.
“Saya sudah mengambil certification dari PGA Indonesia. Sertifikasi ini berlaku hingga 3 tahun ke depan. Ada rencana juga mengambil Program Sertifikasi Golf TPI (program sertifikasi yang secara eksklusif berfokus pada peningkatan permainan golf). Yang pasti, seorang teaching pro yang bagus adalah dia yang mau mengembangkan diri untuk menyerap ilmu kepelatihan (dalam ini golf) dari mana pun,” jelas Tika.
(Penulis: Yulius Martinus. Foto: Faizal Rachman/YM – OB Golf)



