Tren Rumput Golf di Indonesia

Perkembangan rumput di Indonesia berjalan cukup dinamis. Perubahan jenis rumput di Indonesia dari waktu ke waktu disebabkan kondisi cuaca dan alam di Tanah Air yang membuat rumput-rumput tersebut tidak bisa bertahan lama. 

Oleh Qamal Mutaqin, Agronomis Rumput

Sebelum 1990-an, tren rumput golf di Indonesia adalah rumput-rumput lokal seperti rumput gajah dan rumput Manila (Zoysia matrella), juga rumput Jepang dan rumput Serangoon lokal. Memasuki era 90an, ketika jumlah lapangan golf mulai berkembang, muncul jenis-jenis rumput baru dari Amerika dan Australia. Kebanyakan berasal dari kelompok Bermuda, seperti Tifway 419, Tifdwarf, dan Tifton 328 (Tifgreen). Ada pula rumput dari Asia Timur, yaitu Zoysia japonica, yang digunakan lapangan golf Ciputra Golf & Family Club Surabaya. Lalu, ada pula rumput musim dingin, yaitu Bentgrass, yang ditanam di dataran tinggi bersuhu dingin seperti Bandung Giri Gahana (sekarang Jatinangor National Golf Resort) dan Handara Golf & Resort Bali.

Pada tahun 2000-an, rumput Paspalum menjadi tren dunia karena keunggulan visualnya. Pada 2006 Royale Jakarta mendatangkan rumput Paspalum tipe Supreme, tipe terbaru pada tahun tersebut. Setelah itu, menyusul Paspalum tipe sebelumnya, yaitu Saltin dan Salam, untuk New Kuta Bali dan Senayan National Jakarta. Namun, Paspalum akhirnya kurang diminati karena mudah terkena penyakit, ringkih, dan butuh biaya perawatan tinggi karena tidak ditanam pada habitat aslinya. Rumput ini ternyata lebih cocok untuk daerah pesisir.

Sejak era 2010-an, mulai muncul berbagai inovasi rumput Zoysia. Pada 2015 didatangkan varian baru dari Zoysia matrella, yaitu Zeon zoysia, untuk lapangan Parahyangan Golf Bandung dan Suvarna Jakarta Golf Club. Rumput ini memiliki keindahan visual menyerupai paspalum, dengan karakteristik Zoysia yang tangguh dan efisien dalam perawatan. Rumput ini juga pernah digunakan dan menjadi primadona lapangan bola Indonesia, saat tim nasional Indonesia menjamu Argentina pada 2023 di Gelora Bung Karno

Saat ini, varian Zoysia sangat berkembang, ada Trinity zoysia, Linkz zoysia, Stadium zoysia, dan lainnya. Perusahaan KaeRPe, perusahaan yang bergerak dalam bidang konsultasi, manajemen, konstruksi dan perawatan lapangan olahraga berbasis rumput natural (golf, sepak bola, baseball, softball dan sebagainya), sendiri mendatangkan Zemet zoysia pada 2024. Rumput ini memiliki daya recovery yang lebih cepat sehingga cocok digunakan untuk teebox, rough, fairway, hingga lapangan olahraga lainnya, seperti sepakbola. Namun, untuk diaplikasikan pada green, pilihan yang terbaik masih dimiliki oleh rumput Bermuda.

Semua varian rumput baru tersebut merupakan hasil penelitian luar negeri. Tahun 2025 ini, ada jenis rumput baru–yang dikembangkan KaeRPe–dari kelompok Zoysia matrella agar Indonesia memiliki varian rumput khasnya sendiri. Kondisi alam di Indonesia yang cukup beragam, dari dataran tinggi hingga pesisir pantai, memerlukan perhatian khusus dalam perawatannya. Dataran tinggi yang lembab akan perlu lebih waspada terhadap penyakit, sedangkan di dataran rendah akan perlu lebih memperhatikan kondisi air. Adanya pengembangan varian rumput ini seharusnya bisa menjawab tantangan tersebut, agar lahir tipe rumput yang ideal untuk diaplikasikan di berbagai daerah tempat rumput itu dikembangkan.

(Teks: YM/ OB Golf. Foto: Jatinangor National Golf/YM/QM)

Share with

More News

DP World Tour Dituding Lakukan “Pemerasan”

HSBC Women’s World Championship: Hannah Green Raih Trofi Ketujuh LPGA

HSBC Women’s World Championship: Duo Australia Sukses Gusur Pemuncak 36 Hole

Program Ramadan ala Riverside Golf Club

Digital Edition

COVER FEB MAR 2026
Februari - Maret 2026

Pertarungan Antara Prestasi dan Cinta

Cover DES-JAN 2026
Desember 2025 - Januari 2026

Golf Dunia dalam Genggaman Wanita 22 Tahun

COVER OKT-NOV 2025_page-0001
Oktober - November 2025

Hegemoni Sang No.1 Di Pentas Sejagat

Screenshot 2025-08-13 003040
Agustus - September 2025

Ada Apa dengan Collin Morikawa