Medali dan Nasionalisme

Pergelaran Olimpiade Paris 2024 dipastikan bakal berbeda dari dua perhelatan sebelumnya. Kehadiran para bintang golf menjadi daya tarik utama pesta olahraga dunia empat tahunan ini.

Dibandingkan dua perhelatan sebelumnya, pergelaran Olimpiade Paris 2024 dipastikan bakal lebih menggigit. Dua perhelatan Olimpiade, 2016 dan 2020, memang seperti kehilangan greget. Olimpiade Rio de Janeiro, misalnya, harus berjalan tanpa kehadiran para pemain bintang yang mundur karena merebaknya penyakit yang disebabkan virus Zika di Amerika Latin. Lalu, Olimpiade Tokyo pun berlangsung dalam situasi pandemi Covid-19 sehingga diselenggarakan tanpa kehadiran penonton.

Kini, pasca-pandemi, Olimpiade Paris 2024 menjadi turnamen yang sangat ditunggu-tunggu, khususnya para atlet golf. Tidak seperti olahraga lain, para atlet golf tidak memiliki banyak kesempatan untuk bertanding dengan membawa nama negara. Bertanding di Olimpiade menjadi kesempatan langka yang mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Peraih medali perak Olimpiade 2016 dan perunggu di 2020 Lydia Ko menyatakan bahwa bertanding di Paris adalah salah satu tujuan terbesarnya untuk tahun depan. Setelah perak dan perunggu, ia menambah warna medalinya: emas.

“(Paris) jelas merupakan hal terbesar yang ada di benak saya. … Akan sangat keren untuk mengatakan bahwa saya memiliki trio dari ketiga warna tersebut,” kata Ko

Peraih medali emas di Tokyo, Nelly Korda, pun mengincar hal yang sama. Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa meraih medali dengan membawa nama negara.

“Anda tidak hanya bermain untuk diri Anda sendiri; Anda bermain untuk negara Anda. Ada begitu banyak sejarah di Olimpiade, dan menjadi bagian dari itu adalah hal yang luar biasa,” kata Nelly, seperti dikutip PGATOUR.com

Pegolf Irlandia Utara Rory McIlroy pun masih penasaran dengan pencapaiannya di 2020. Lolos ke Tokyo dengan posisi kedua di OGR, McIlroy justru pulang dengan tangan hampa setelah kalah play-off dengan enam pegolf lainnya dalam perebutan medali perunggu.

“Ini membuat saya semakin bertekad untuk pergi ke Paris dan mencoba meraihnya,” kata pegolf berusia 34 tahun ini. “Mengecewakan rasanya pulang dari sini (Tokyo) tanpa hasil apa pun, saya telah mengatakan sepanjang hari bahwa saya tidak pernah berusaha sekeras ini dalam hidup saya untuk finis ketiga.”

Sempat skeptis ketika akan bertarung di Olimpiade, pandangan McIlroy berubah ketika pulang dari sana. Ia mengakui bahwa semangat Olimpiade telah “menggigitnya” di Tokyo, tetapi ia berpikir bahwa ia akan memiliki peluang yang lebih baik untuk pulang dengan membawa pulang medali di Paris karena ia telah mengikuti Olimpiade dan tahu apa yang diharapkan.

Share with

More News

KPMG Women’s PGA Championship 2026: Event Wanita Termahal di Dunia

APGC Mid-Amateur Championship 2026 Resmi Dimulai, Delapan Negara Berebut Gelar di Gunung Geulis

KPMG Women's PGA Championship: Green Favorit, Korda Pesaing Kuat

Aturan Pembatasan Jarak Terbang Bola Golf Ditunda

Digital Edition

COVER JUN-JUL 2026
Juni - Juli 2026

Perjamuan Dua Major Tersulit Musim 2026

APR-MEI 2026-OUTLINED DIGITAL-PAGE-1_page-0001
April - Mei 2026

Kisah AK: Terpuruk, Bangkit & Berjaya

COVER FEB MAR 2026
Februari - Maret 2026

Pertarungan Antara Prestasi dan Cinta

Cover DES-JAN 2026
Desember 2025 - Januari 2026

Golf Dunia dalam Genggaman Wanita 22 Tahun