AUTHOR

OBGOLF

14 December 2020

Webinar Kemenparekraf Strategi Wisata Golf di Tengah Pandemi

Industri pariwisata merupakan salah satu industri yang mengalami dampak paling parah yang diakibatkan Covid-19. Hal ini dipastikan oleh penelitian Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) yang menyebutkan bahwa bidang pariwisata didominasi usaha kecil dan menengah dan ribuan mata pencarian yang merupakan sektor paling rentan terkena pandemi. Badan Ekonomi Pariwisata bahkan memperkirakan sektor ini baru bisa pulih total pada 2022–2023.

Pariwisata Indonesia pun mengalami hal yang serupa. Gangguan terhadap sektor wisata ini tentunya berdampak pada devisa negara. Indonesia pun mengalami hal yang sama.

Beberapa dekade terakhir, pariwisata merupakan andalan utama untuk perekonomian Indonesia dan penghasil devisa utama Negara. Salah satunya adalah wisata golf Indonesia. Wisata golf merupakan salah satu kegiatan pariwisata berkualitas tinggi (high quality tourism). Dampak pandemi ini tentunya sangat menghambat laju pendapatan.

Menyadari hal itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI berinisiatif untuk menggelar sebuah pertemuan (hybrid meeting) bersama para pelaku industri golf di Indonesia. Bekerja sama dengan IAGTO (International Association of Golf Tour Operator), pertemuan bertajuk “Indonesia Golf Market Update with IAGTO” pun digelar pada 1 Oktober lalu di Pullman Ciawi Vimala Hills.

Dihadiri para pelaku usaha/industri di Indonesia untuk membicarakan kondisi industri wisata golf di Tanah Air, pertemuan ini dimaksudkan untuk membantu para pelaku industri golf agar mendapatkan informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan sehingga dapat menyusun strategi yang lebih baik dalam promosi wisata saat pandemi sedang berjalan dan berakhir nanti.

Dibuka oleh Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, Indonesia Golf Market Update with IAGTO diikuti 23 lapangan golf dan lima biro perjalanan di wilayah Jabodetabek secara offline, serta 23 lapangan golf dan dua biro perjalanan di luar wilayah Jabodetabek secara online.

“Pengembangan wisata nasional kini mengacu pada Kualitas Pengalaman Wisata. Karena itu, sasaran utama untuk pariwisata yang berkualitas, antara lain devisa pariwisata, nilai tambah di bidang pariwisata, kesiapan destinasi pariwisata, industri dan masyarakat, serta kemampuan sumber daya manusia pariwisata,” jelas Rizki.

Dari semua sektor di bidang pariwisata ini, wisata golf diyakini lebih cepat pemulihannya. “Berkaca pada situasi pandemi yang mendorong pelaku-pelaku wisata untuk menjalankan protokol kesehatan dengan ketat, kondisi wisata golf memiliki potensi untuk segera bangkit. Bermain golf cenderung lebih aman karena berada di ruang terbuka dan memiliki kemungkinan kecil untuk berkumpul-kumpul,” jelas Rizki.

Pada kesempatan lain, President & Chief Executive IAGTO, Peter Walton menyampaikan market update dari usaha/pelaku bisnis di dunia dalam menghadapi pandemi dan new normal. Selain itu, delapan pembicara yang berasal dari Malaysia, Singapura, Jepang, Australia, Thailand, Hong Kong, serta dua dari Indonesia, yaitu Markus Anthony Chandra, Ketua Golf Course Management Association of Indonesia (GCMAI, Asosiasi Manajemen Lapangan Golf Indonesia), dan Rudy Techrisna, Direktur Multi Holiday, pun menyampaikan kondisi mereka di negara masing-masing serta beberapa permasalahan dan pemecahannya untuk menyiasati kondisi pandemi ini.

“Pertemuan hari ini sangat bermanfaat bagi kami dan juga para pelaku wisata golf nasional. Kita semua tahu bagaimana kondisi sesungguhnya. Dengan begini kami bisa menyusun bagaimana protokol kesehatannya, sehingga orang yang akan berangkat ke mana itu merasa aman, khususnya tamu-tamu yang datang ke tempat-tempat wisata di Tanah Air,” ujar Direktur Promosi Wisata Minat Khusus Kemenparekraf RI, Adella Raung.

Menurut Adella, Kemenparekraf dan GCMAI menyusun protokol kesehatan berdasarkan pada CHSE (cleanliness, health, safety, & environment). Ini nantinya akan menjadi rujukan bagi pelaku-pelaku wisata golf dalam menggerakkan operasional bisnisnya. “Setelah itu, kami akan melanjutkan dengan program sertifikasi CHSE bagi tempat-tempat wisata golf (dalam hal ini lapangan golf) sebagai pengakuan bahwa tempat tersebut aman dalam penerapan protokol kesehatan,” jelas Adella.

 

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE