AUTHOR

OBGOLF

13 October 2021

Menimba Pengalaman Golf di Bangku Kuliah

Pengalaman adalah guru terbaik. Kutipan dari seorang filsuf dan orator bernama Cicero ini benar adanya. Pengalaman menjadi bekal yang sangat penting dalam setiap kehidupan manusia. Dari pengalaman itu, manusia belajar agar menjadi lebih baik untuk ke depannya. 

Pengalaman ini pula yang dirasakan putra-putri kebangsaan Indonesia yang saat ini menjalani bangku kuliah di Amerika Serikat. Jose Suryadinata (University of Idaho), Patricia Sinolungan (University of North Texas), dan Timothius “Tirto” Tamardi (Appalachian State University) yang merupakan tiga dari sekian banyak putra-putri Indonesia bisa merasakan perguruan tinggi di sana dengan beasiswa dari jalur prestasi golf.

Golf telah membuka jalan mereka untuk menggali lebih banyak pengalaman golf di AS yang menjadi kiblat golf dunia. Masing-masing mendapatkan ilmu dan pengalaman tersebut dari perspektif yang berbeda-beda. Namun, satu hal yang sama adalah bahwa mereka telah berkembang menjadi sosok yang nantinya mapan dalam hal akademik dan kemampuan golfnya. Berikut kisah masing-masing:

JOSE SURYADINATA

Belajar Banyak Hal

Apa membuat Jose bisa tampil apik di 2021 ini?

Yang berubah dari saya, sebelum berangkat ke AS, saya ada enam bulan tertunda karena Covid-19. Waktu itu, saya banyak belajar untuk memperbaiki mental mindset. Saya menemukan mental approach yang efektif, digunakan untuk turnamen. Saya bisa perform permainan terbaik saya. Jadi saya bisa handle pressure lebih baik. Sebelumnya saya selalu terganggu sama pressure, tekanan eksternal dalam turnamen.

Sejak mulai main golf usia 4 tahun, kapan mulai berpikir untuk college golf?

Jadi rencananya waktu mulai main golf, mimpi besarnya bisa main di PGA Tour. Seiring perjalanan waktu, banyak pengalaman yang dijalani dan sadar bahwa nggak segampang itu (menjadi pemain PGA Tour). Jadi, saya sama orang tua set up plan yang lebih realistis secara talent dan finansial. Kita build rencana yang lebih masuk akal sekitar SMP Kelas 2 (untuk main di college golf). Instead of menjadi pemain PGA Tour, menggunakan golf sebagai sarana untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang lebih baik.

Apa tujuan di college golf ini?

Tujuan sekolah di AS itu bukan mau menjadi pemain PGA Tour, melainkan supaya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih bagus. Ambil jurusan corporate finance yang bagus. Mengapa saya ambil itu? Waktu SMP dan SMA, saya setiap kali latihan golf itu berkumpul sama orang-orang di dunia finance. Obrolannya soal dunia finance. Jadi, saya dalami, makin tertarik. Saya putuskan untuk ambil corporate finance. Ternyata di Universitas Idaho, jurusan itu masih bagus. Maunya kerja sebagai investment banker.

Mengalami culture shock?

Culture shock itu memang ada. Culture senioritas di sini sangat kental. Saya sebagai freshman. Kalau travelling (buat) turnamen, sebagai freshman, saya kebagian angkat-angkat atau unload koper. Pokoknya bagian yang susah-susah dan nggak enak dikasih ke saya. Saya sudah antisipasi. Saya harus earn respect sehingga saya bisa dibantu. Saya kan di sini mobilitasnya terbatas sekali. Saya tergantung sama orang. Jadi ke mana-mana harus minta tolong orang. Culture shock saya resapi betul-betul. Emang ada nggak enaknya. Tapi dalam perjalanan saya dapat respect mereka. Saya menjadi bagian mereka.

Apa hal yang paling berat di college golf?

Di Collegiate sport itu salah satu yang paling berat memang time management. Rutinitas itu dalam seminggu, tiga kali gym (jam 6-8 pagi). Masuk kelas (8-11.30). Terus, latihan (1-4 sore). Pulang, mengerjakan tugas-tugas. Nah, kalau ada turnamen kan itu artinya travelling. Kalau sudah travelling, susah sekali untuk keep up. Main 54 hole, 36 hole hari pertama dan 18 hole hari kedua. Practice, besoknya turnamen dua hari. Selesai turnamen, langsung packing dan pulang. Sampai kampus jam 1-2 pagi, jam 8 pagi sudah masuk kelas lagi. Jadi time management-nya memang berat.

Apa yang berbeda dengan turnamen di Indonesia?

Yang paling beda, operasional turnamennya. Kita mainnya 36 dan 18 hole dalam dua hari. Secara fisik dan mental lebih capek. Jadi 36 hole itu nggak pakai istirahat. Fisik mungkin bisa capek, kalau otak sudah capek, pukul sudah nggak bener. Habis main 36 hole, mesti kuliah, kerjain tugas. Besoknya main 18 hole lagi. Belum lagi kalau travelling di sini kan sendiri. Cari makan dan lain-lain. Unsur survival-nya muncul sendiri. Turnamen di Indonesia santai banget.

Bagaimana mengatasi kelelahan agar bisa survive main 36 hole?

Aku jaga pola makan. Biasanya kalau lupa makan, gula darah turun. Pasti nggak fokus. Saya terus berusaha untuk tetap makan. Selain itu, agar tidak stres (saat turnamen di lapangan), saya berusaha mengontrol apa yang bisa dikontrol. Fokus pada prosesnya. Itu strategi yang saya terapkan agar bisa bertahan 36 hole.

Jika dibuat dari skala perkembangan (sebelum masuk dan selama di Idaho), apa saja yang mengalami perkembangan cukup jauh?

Sisi mental saya bisa kasih angka 8. Setiap selesai turnamen saya berhasil mendapatkan sesuatu yang baru. Progress mental memang paling bagus. Mungkin karena saya hadapi semuanya sendiri sehingga membangun karakter dan mental. Course management saya bisa kasih angka 6-7. Padahal, pertama masuk sini course management saya goblok sekali.

 

PATRICIA SINOLUNGAN

Adaptability, Self Reliant, & Target Besar

Apa yang paling penting untuk college golf? Akademis atau golfnya?

Bukan yang paling bagus di golfnya atau akademiknya saja. Kalau demikian (cuma salah satu), apa gunanya college golf? Ada keseimbangan di antara keduanya. Karena itu yang dituntut untuk college golf. Coach golf selalu ingin atlet-atletnya bisa keep up kedua-duanya.

Apa yang dilakukan agar kuliah dan golfnya tetap terjaga?

Untuk golf, aku keep statistic. Aku main, lalu aku simpan score card-nya. Setiap selesai main aku analyze, fairwaynya berapa, GIR-nya berapa, miss-nya di mana. Dari situ aku bisa lihat apa yang perlu improvement. Aku fokus pada improvement itu. Satu per satu. Dari situ, nanti aku lihat apakah sudah improve atau belum ketika main. Apakah latihan aku efektif.

Untuk kuliah, banyak bantuan di kampus. Pihak fakultas sangat mudah dihubungi. Lebih sering interaksi dengan profesornya. Biasanya kita info bahwa kita student-athlete. Mereka sangat membantu dan sangat mengerti. Pokoknya kita harus proaktif dalam menghubungi mereka atau dalam kelas.

Sejak menjalani college golf dari 2019, apa hal-hal yang paling dirasakan?

Aku rasa tentunya, adaptability. Nggak ada yang pasti di college golf. Things change, weather changes, schedule bisa changes. Benar-benar harus bisa adaptable, bisa accept, improvise, dan move on. Di golf aku belajar untuk soft-reliant (mampu mengurusi/menjaga diri sendiri tanpa tergantung orang lain), untuk bisa mengidentifikasi sendiri apa yang harus aku improve, apa yang harus aku lakukan, untuk jadi lebih baik. Belajar untuk lebih baik dalam mengendalikan emosi. Belajar dari kesalahan.

Berapa anggota timnya?

Travelling team ada lima orang. Itu yang biasa berangkat ke turnamen. Secara keseluruhan, dalam semester ini, ada delapan orang. Semester depan, September kemarin, ada sembilan pegolf. Travelling team selalu berubah. Untuk masuk travelling team, kita ada kualifikasi. Jumlah pemainnya (untuk kualifikasi) bisa 3, 6, atau 8, tergantung coach-nya dan juga waktu yang ada sebelum turnamen itu.  Biasanya diambil empat skor terendah. Lalu satunya adalah coach’s pick.

Setelah menyelesaikan college golf, apa rencana berikutnya?

Karena Covid-19, aku dapat tambahan satu tahun (extra year) lagi.  Saat ini plan-nya selesaikan S1, lalu ambil extra year itu lagi untuk mulai S2 dan main college golf lagi di UNT. Mungkin tambahan waktu itu akan digunakan untuk persiapan ke LPGA. Aku akan mulai dari Tour bawah, seperti Symetra Tour (LPGA Development Tour). Step by step.

Melihat pegolf-pegolf Thailand yang kelihatan mudah sekali masuk LPGA. Apa yang membuat mereka terlihat begitu unggul?

Yang paling penting, score average. Pemain-pemain Thailand itu luar biasa. Scary low. Yang kedua, support dari sponsor-sponsor. Mereka tampaknya dari amatir sudah dapat support itu. Para pegolf Thailand sepertinya sudah punya jam terbang, maturity dalam navigating, golf courses, dalam tournament, and adaptability.

Apa saran-saran yang bisa di-sharing kepada adik-adik junior yang ingin menjalani college golf?

Work smarter, not just harder. Have fun. Play golf, dan biasakan compete antara satu sama lain. Main chipping competition, putting comp. Banyak ikut pertandingan. Dari situ, membangun competitive side-nya dan itu sangat membantu di college golf. juga keep up dengan akademik.

Apakah ada pengalaman menjadi kedi di turnamen profesional di sana?

Awal Juli kemarin aku bantu Lee Lopez, teman assistant coach aku. Aku bantu dia di turnamen LPGA Volunteers of America Classic, (Lee lolos cut dan finis di T63). Itu pengalaman yang cukup seru juga. Bisa sedekat itu dengan pemain-pemain LPGA dengan pengalaman-pengalaman mereka. Turun dan lihat sendiri kondisi lapangan LPGA yang sedang mereka mainin.

Kasih advice atau bawa bag aja?

Dia prefer baca line dan calculate sendiri. Aku cuma bawa bag, kasih minum dan makan. Observed.

 

TIRTO TAMARDI

Work Ethic, Adaptation, & Goal

Apa pengalaman yang didapat di U.S. Amateur Championship?

Lebih ke arah gimana kita harus handle off the course, mentalnya, dan segala macamnya. Jujur, secara nggak langsung, kita terpengaruh dengan suasana, penonton, hosting-nya mereka, pin location, rough-nya, dan segala macamnya. Kita kan sering latihan, tapi kan suasananya nggak ada yang bisa kita dapat dari turnamen sebesar itu. Itu pengalaman yang saya dapat, benar-benar terasa.

Selama menjalani college golf lebih dari tiga tahun ini, apa yang paling berkembang dari sisi Anda?

Menurut saya, yang nomor satu adalah work ethic. Work ethic orang-orang di sini sangat beda. Di Indonesia, kalau boleh jujur, kurang kompetisi. Kita juga kenal dengan lawan-lawan kita yang itu-itu saja. Di sini kita tidak tahu lawan kita siapa. Yang main golf itu ribuan. Jadi, bagaimana caranya persiapannya setiap kali main kita harus perform. Gimana caranya persiapan sebaik mungkin. Dibawa ke turnamen itu. Yang paling besar seperti itu (yang paling berkembang). Tahun pertama saya masih merasa syok, malas-malasan, ada alasan ini-itu, dan sebagainya. Tahun kedua dan tiga, saya ubah work ethic saya. Jadwal dan porsi latihan. Itu bisa dibilang membantu (dalam peningkatan) skor saya.

Bagaimana dengan course management-nya?

Course management-nya lebih ke adaptasi lapangan. Rumput-rumputnya beda semua. Sekarang kita ada di dataran tinggi. Lalu, turun ke Florida yang cuacanya lebih panas dan rumputnya lebih ke arah Bermuda, seperti di Indonesia. Terus, ke arah yang lebih tinggi, seperti Virgina, New York, dan New Jersey, beda lagi. Ada  Bent Grass. Jadi adaptasi, course management-nya harus lebih cepat. Semakin banyak main di lapangan-lapangan berbeda, kita tahu gimana caranya main di lapangan-lapangan seperti itu.

Usia berapa mulai berpikir untuk lebih serius di golf? Apa goal-nya untuk golf?

Impian saya dari dulu, menjadi salah satu pegolf profesional di PGA Tour. Dan itu masih menjadi target hingga saat ini, meski prosesnya masih jauh dan saya masih harus kerja keras segala macam. Umur 8 ikut turnamen, mungkin dari situ saya mulia berpikir harus lebih banyak latihan lagi. Kita juga punya bakat di sini. Kalau misalnya setop, sudah terlalu jauh mulainya. Ya, umur 8 itu kayaknya sudah mulai serius.

Aktivitas student-athlete di sana seperti apa?

Biasanya jam 6 pagi. Ini tergantung universitas dan golf coach-nya. Kalau saya, 6 am (pagi) Senin-Rabu-Jumat, ada team workout. Ada kelas jam 8-12.30. Lalu, untuk freshman (tahun pertama) atau mahasiswa tahun kedua (yang struggling), ada yang namanya study all hours. Untuk student-athlete, ada di satu ruangan di-kumpulin. Selama 50-60 menit, diwajibkan belajar. Pukul 12.30, makan siang. Kemudian latihan sampai sore. Malamnya mengerjakan tugas. Melakukan ulangan susulan. Kita juga harus pintar bagaimana untuk ngomong sama gurunya.

Tim coach di sana lebih berfungsi sebagai apa?

Beda-beda. Sebagai pemain, saya sudah ke mana-mana. Kita juga sudah tahu bagaimana cara kita main sebagai apa. Dari saya pribadi, lebih suka micro-managing. Jadi kalau kita perlu, kita tanya ke dia, kurang ini-itu. Jadi semacam tukar pendapat saja. Ada team mate saya yang lebih suka diskusi di lapangan. Jadi masing-masing pribadi pendekatannya beda.

Berapa jumlah mahasiswa Indonesia di sana?

Saya satu-satunya yang dari Indonesia. Saya sih harapannya, ada mahasiswa Indonesia berikutnya yang bisa study di sini (untuk college golf) sehingga tidak terputus di saya. Di sini olah raga yang besar kan American Football, basket ball, dan baseball. Main di Conference, sebelum saya dan teman-teman masuk, kita berada di dua terakhir seperti itu. Setelah masuk di sini, kita (ada) di nomor 6 dari 11 tim di Conference. Karena itu,  Saya pribadi berharap bisa membantu universitas ini lebih besar (di golf).

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE