AUTHOR

OBGOLF

23 June 2021

Kembali ke Lingkaran Juara

Dua turnamen besar di Asia telah menempatkan dua wajah lama kembali dalam sorotan. Masing-masing telah menunggu dalam waktu yang cukup lama untuk bisa kembali dalam lingkaran juara. Satu hal yang bisa diambil sebagai pelajaran dari sini adalah jangan pernah menyerah. Performa buruk, dan mungkin juga cedera, tidak mematahkan semangan para pemain ini meski haru menunggu lama untuk bisa kembali berada di puncak leaderboard. Mereka yakin bisa mewujudkannya dan mereka berhasil melakukannya. Inilah kisah para juara “baru” ini:

Akhir Penantian 1.015 Hari

Ariya adalah salah satu pegolf wanita terbaik dunia. Ia pernah bertakhta di kursi No. 1 Dunia dengan total 23 minggu, berada di posisi ke-9 dari daftar pegolf wanita yang menduduki peringkat No. 1 Dunia. Namun, dua tahun terakhir ini, namanya seperti tenggelam di tengah kegemilangan para pemain muda.

Posisinya pun terlempar dari 20 besar dunia. Bahkan, sebelum tampil di Honda LPGA Thailand pada 3-6 Mei 2021, Ariya adalah pegolf No. 34 Dunia—peringkat terendah yang pernah disandang pegolf No. 1 Dunia di musim 2018 dan 2019 ini. Namun, masa krisis itu telah berakhir di Siam Country Club, Chonburi.  

Ariya menuntaskan penantiannya dengan permainan gemilang di putaran akhir Honda LPGA Thailand 2021. Gelar LPGA Tour setelah 1.015 hari diraih pegolf berusia 25 tahun ini dengan sembilan birdie tanpa satu bogey pun. Unggul satu pukulan (22-di bawah-par) dari junior senegaranya, Atthaya Thitikul, Ariya mengangkat trofi ke-11 di LPGA sejak 2015. Kali ini, gelar juaranya diukir di tanah airnya sendiri.

“Rasanya sangat menyenangkan. Tidak hanya sebagai pemain Thailand yang menang, tetapi juga saya punya masa-masa yang berat dalam dua tahun terakhir,” kata Ariya. “Saya tidak tahu berapa kali saya bilang ke pelatih mental saya, ‘Tahu nggak, saya ingin istirahat, sudah cukup. Saya ingin berhenti sementara.”

Namun, keinginan (berhenti) itu pudar ketika Ariya berhadapan dengan anak-anak, yang merupakan bagian program dari sponsornya dalam memberikan inspirasi tentang golf kepada para junior.

“Setiap saya melihat anak-anak dan saya ingin memberikan mereka inspirasi. Jadi saya merasa jangan menyerah. Lakukan yang terbaik. Mencoba lebih keras. Terus mencoba. Satu hari kamu akan mendapatkannya,” demikian Ariya menyemangati diri.

Thailand tidak hanya merayakan keberhasilan pegolf mereka, tetapi juga bersuka cita dengan regenerasi para pegolf wanitanya. Patty Tavanatakit dan Atthaya telah siap mengibarkan bendera kebanggaan Negeri Gajah Putih di arena internasional. Patty yang baru saja menyandang gelar major di ANA Inspiration April lalu telah memberikan sinyal bahwa dirinya bisa menjadi harapan baru Thailand selain Jutanugarn bersaudara (Moriya dan Ariya).

Di Honda LPGA Thailand lalu, Patty sempat memimpin leaderboard selama 54 hole. Pegolf berusia 21 tahun itu memang harus puas di T3 ketika putaran keempat turnamen berhadiah total US$1,6 juta itu berakhir.

Patty tidaklah sendiri. Atthaya yang berusia dua tahun lebih muda pun telah menunjukkan kematangannya bak pemain senior. Remaja fenomenal yang telah beberapa kali menampilkan “keajaiban” untuk gadis seusianya dalam raihan prestasinya ini pun tidak mau kehilangan pesona di hadapan publik sendiri. Meski hanya menduduki posisi kedua di akhir turnamen, pegolf berusia 19 tahun ini telah siap melebarkan sayap di arena profesional internasional.

Honda LPGA Thailand kali ini terasa menjadi turnamen nasional negara tersebut. Tiga pemain kebanggaan mereka berada di tiga besar klasemen akhir. Satu di antaranya bahkan menjadi juara untuk pertama kalinya sejak turnamen ini memulai debutnya pada 2006.

Dominasi Korea di Singapura

Pegolf Korea Selatan kembali menjadi penguasa HSBC Women’s World Championship 2021. Hyo Joo menjadi pegolf keenam dari Negeri Ginseng ini yang memenangi turnamen di Sentosa Golf Club, Singapura, yang berlangsung pada 29 April-2 Mei ini. Melalui permainan impresif di hari terakhir, Hyo Joo langsung merebut posisi posisi No. 1 di leaderboard dengan perolehan total skor 271 (-17).

Meski demikian, ia tidak serta-merta memastikan diri sebagai pemenang. Hyo Joo harus menunggu selama 30 menit ketika grup terakhir—khususnya Hannah Green yang berada di grup keempat belakangnya—masih berpeluang untuk menggeser posisinya. Sempat mengambil alih posisi pimpinan leaderboard di hole 16, Hannah yang berasal dari Australia ini terpuruk ketika membuat dua bogey di dua hole terakhir sehingga harus puas di posisi kedua dengan -16.

Atas hasil ini, Hyo Joo meraih gelar keempatnya di LPGA Tour. Ia menyabet gelar ketiganya pada Januari 2016.

“Menang setelah sekian lama, rasanya seperti menang pertama kali. Ini terasa seperti mimpi,” kata Hyo Joo, yang mengakhiri 1.918 hari tanpa gelar juara.

Keberhasilan Hyo Joo ini melanjutkan dominasi Korea di HSBC Women’s World Championship yang dihadiri para pegolf elite dunia yang 12 di antaranya adalah para pegolf Top 20 Dunia, termasuk pegolf No. 1 Dunia Jin Young Ko. Tahun lalu, Sung Hyung Park dari Korea Selatan juga memenangi gelar yang sama. Hyo Joo menjadi pemain kelima (setelah Ji Yai Shin, Inbee Park, Ha Na Jang, dan Sung Hyung) yang menjuarai HSBC Women’s World Championship sejak turnamen yang kini berhadiah total US$1,6 juta ini dimulai pada 2008.

“Target saya tahun ini adalah menang, dan saya senang saya sudah mencapainya. Saat bermain di KLPGA tahun lalu, saya mengasah keterampilan dan ingin menyesuaikannya tahun ini di LPGA, dan saya sangat senang bahwa hasil ini telah berakhir (positif).”

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE