AUTHOR

OBGOLF

19 April 2021

Memburu Mahkota yang Hilang

Minggu sore itu, Justin Thomas memasuki tee hole 17 TPC Sawgrass. Keunggulan satu pukulan dari Lee Westwood yang bermain di grup belakangnya di puncak leaderboard tidak membuat Justin mengendurkan konsentrasi. Par 3 berjarak 137 yard (125 meter) ini memaksa setiap pegolf, termasuk Justin, berusaha keras untuk tidak kehilangan pukulan. Hole yang dikenal dengan Island Green ini memang menjadi “kuburan” bagi para peserta the PLAYERS Championship.

Di hole ini, target Justin hanya satu: menemukan area yang kering. Dengan tenang, pegolf berusia 27 tahun ini berhasil menempatkan bola di are green, dan bisa menyelesaikan hole dengan par. Di hole 18, ia pun menutup 72 hole dengan skor par. Ia cukup menunggu Lee yang berupaya untuk memaksa pertarungan. Sayang, bagi Lee, setelah bogey di 17, ia harus mengejar skor dengan dua pukulan. Lee hanya mampu menembus dengan satu birdie.

Justin pun berhasil memenangi turnamen termahal pertamanya ini dengan skor total 274 (14-di bawah-par). Keberhasilannya di TPC Sawgrass ini setidaknya menstabilkan semangat Justin yang sempat mengalami turbulensi kehidupan dalam beberapa bulan terakhir.

Ia sempat mendapat tekanan publik akibat melontarkan umpatan bernada homofobia dalam turnamen Sentry Tournament of Champions pada Januari lalu. Ini berdampak pada keputusan sepihak dari sponsor utama Polo Ralph Lauren—yang memutus kontrak dengan Justin. Ia sendiri telah meminta maaf kepada publik atas kecerobohannya itu.

Sebulan kemudian, sang kakek, Paul Thomas, wafat saat ia akan menjalani putaran akhir Waste Management Phoenix Open. Belum hilang masa dukanya. Tiga minggu kemudian, Justin kembali bersedih ketika mendengar kabar sahabat karibnya, Tiger Woods, mengalami kecelakaan mobil yang fatal.

Namun, penampilan Justin di the Players Championship 2021 seakan menunjukkan jati dirinya yang mampu bangkit mengatasi persoalan internal dalam dirinya dalam kompetisi termahal di dunia itu. Setelah selamat dari jebakan cut di putaran kedua, berkat dua birdie di tiga hole terakhir, Justin justru menutup dua putaran terakhir dengan 12-di bawah-par (64-68).

"Itu sangat banyak, dan itu membuat saya sangat tertekan secara mental," kata Thomas, usai kemenangannya, seperti dikutip Golf Digest. “Di waktu yang sama, memang seperti itu. Saya harus memikirkannya dan harus mengatasinya, dan jika saya ingin datang ke turnamen ini dan memiliki kesempatan untuk menang, saya harus menyedotnya dan mengatasinya.”

Selain menerima cek kemenangan senilai US$2,7 juta, posisi Justin naik ke Nomor 2 Dunia. Sejak turn pro pada 2013, ini merupakan prestasi kedua terbaiknya di Official World Golf Ranking  (OWGR). Ini kebangkitannya sepanjang karier lulusan Universitas Alabama sejak. Ia kini menempel ketat penguasa dunia Dustin Johnson (DJ) yang sudah menguasai takhta tersebut selama 32 minggu (hingga 4 April) dari 23 Agustus tahun lalu.

Kesempatan Justin ada di turnamen major yang akan berlangsung dua bulan ke depan ini, Masters Tournament pada April dan PGA Championship pada Mei. Peluang itu tetap ada, mengingat pada Masters 2020 pada November kemarin ia berhasil menduduki posisi keempat. Namun, DJ tetap berpeluang untuk memperpanjang masa berkuasanya di puncak OWGR karena ia adalah juara bertahan di Augusta National.

Satu hal yang mengganggu potensi DJ untuk mempertahankan gelar di Masters adalah mitos juara bertahan sulit untuk kembali menang. Sepanjang sejarah Masters dari 1934, hanya tiga pegolf yang bisa memecahkan mitos tersebut. Mereka adalah Jack Nicklaus (1965 dan 1966), Nick Faldo (1989 dan 1990), dan Tiger Woods (2001 dan 2002). Mitos ini telah bertahan selama 19 tahun!

Mungkinkah DJ bisa menjadi pemain keempat yang merusak mitos ini?

Peluang Justin sebenarnya lebih besar pada PGA Championship. Ia meraih major pertamanya saat memenangi PGA Championship 2017. Sayangnya, dua tahun terakhir, Justin tidak mampu menunjukkan sosoknya sebagai mantan juara PGA Championship. Setelah absen pada 2019, Justin hanya mampu menduduki posisi T37 di tahun berikutnya.

Penampilan Justin yang kurang meyakinkan ini memang membuatnya kadang lebih banyak diremehkan. Penyandang 14 gelar juara PGA Tour ini memiliki kecenderungan seperti mesin diesel: panas belakangan. The PLAYERS Championship menjadi bukti performa diesel Justin.

Setelah tampil susah payah di dua putaran pertama, dengan membukukan dua-di bawah-par (batas cut even par), Justin merangsek di putaran ketiga pertama dengan delapan-di bawah-par (64). Ia berhasil memotong selisih pukulan, dari tujuh pukulan (putaran kedua) menjadi tiga pukulan (putaran ketiga). Hingga akhirnya, Justin menjadi kampiun di turnamen berhadiah total US$15 juta ini.

Sejak memulai musim 2020-2021 ini, Justin telah menjalani 12 turnamen. Hingga WGC-Dell Technologies Match Play, sahabat karib Jordan Spieth ini mampu menembus top 10 lima kali, dan hanya mengalami dua kali missed cut.

Berada di posisi kedua, dan tinggal selangkah lagi menuju puncak, Justin tentunya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia ingin merasakan kembali takhta No. 1 Dunia. Mahkota bergengsi itu pernah dikenakannya dalam total waktu lima minggu, 13 Mei-9 Juni 2018 (empat minggu) dan 2-8 Agustus 2020 (satu minggu).

Satu hal yang mendorong keinginan kuatnya untuk menjadi yang terbaik di dunia adalah Jordan. Sahabat yang dikenal Justin sejak usia 13 tahun ini telah lebih dulu merasakan label pemain No. 1 Dunia, dengan total waktu 26 minggu. Kesuksesan Jordan selama beberapa tahun lalu selalu memotivasi Justin untuk terus bangkit, dan bisa eksis seperti saat ini.

Kini, misi Justin adalah meraih kembali mahkota No. 1-nya yang hilang. Peluang itu telah berada di depan mata.

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE