AUTHOR

OBGOLF

16 February 2021

Ada Apa dengan Jordan?

Jordan Spieth adalah sebuah fenomena di kompetisi golf dunia. Itu setidaknya terjadi tiga tahun lalu ketika ia berhasil memenangi Open Championship yang merupakan major ketiganya. Namun, kini cerita keberhasilan Jordan telah menjadi masa lalu. Performanya makin menurun.  

Pada 2016, Jordan Spieth mengawali musim itu dengan status sebagai pegolf elite dunia. Dengan koleksi lima gelar PGA Tour di 2015, dua di antaranya adalah gelar major, Jordan dengan label pegolf No. 1 Dunia begitu percaya diri untuk melanjutkan hegemoninya di PGA Tour.

Sepuluh hari setelah tahun baru 2016, Jordan menggondol gelar pertama musim itu, titel ketujuh PGA Tour sejak memegang kartu Tour penuh pada 2013. Atas hasil ini, rookie terbaik PGA Tour pada 2013 ini pun diprediksi akan menjadi salah satu pegolf yang mampu mempertahankan kesuksesannya di kompetisi golf terpadat di dunia.

Lima tahun kemudian, kisah superior Jordan seakan menjadi cerita masa lalu. Musim 2021 ini, pegolf berusia 27 tahun ini berada di situasi yang berbeda. Menyandang pemain No. 86 Dunia, nama Jordan seakan tenggelam di antara generasi pemain-pemain muda yang kini muncul dan mampu bersaing dengan para seniornya.

Januari lalu, Jordan tidak tampil di Sentry Tournament of Champions, turnamen yang dimenanginya pada 2016 ketika masih bernama Hyundai Tournament of Champions. Dalam tiga tahun terakhir ini, Jordan tidak pernah berkiprah di turnamen yang hanya dihadiri para juara PGA Tour musim sebelumnya.

Setelah Juli 2017, usai menyabet trofi major Open Championship, lulusan Universtitas Texas ini tidak pernah menjuarai turnamen lagi. Grafik perfomanya terjun bebas. Jatuhnya terlalu cepat bagi pegolf yang menyabet 11 gelar juara dalam empat tahun pertama di PGA Tour. Skor 81 di U.S. Open tahun lalu menjadi titik nadir dari seluruh penampilan Jordan sepanjang karier profesional.

Dari peringkat pukulan tee-ke-green, ball striking Jordan memang mengalami kemunduran  dalam beberapa tahun terakhir. Setelah berada di peringkat 25 pada 2016, lalu posisi kedua pada 2017 dan ke-23 pada 2018 dalam pukulan tee-ke-green, Jordan turun juah ke peringkat ke-157 di 2019 dan ke-161 di 2020. Ketika bertanding di US Masters, Jordan yang juara Masters 2015 itu menduduki posisi No. 80 di dunia.

Ada apa dengan Jordan?

Jordan mengatakan puttingnya sebagai akar permasalahannya. Ketika berbicara di podcast milik No Laying Up tahun lalu, ia beralasan, “Alignment-nya keluar dari dari jalur karena mata saya tidak melihat ke mana sebenarnya putternya itu diarahkan, dan karena itu saya tidak dapat mempercayainya.”

Hal itu, tambah Jordan, berdampak pada swingnya yang lain. Ketika swingnya menjadi tidak konsisten, ia melakukan perubahan yang ternyata justru membuatnya ketidakkonsistennya makin parah.  

Penampilan Jordan dalam dua tahun terakhir memang menunjukkan ketidakkonsistenannya itu. Musim 2019, Jordan tampil dalam 23 turnamen yang tercatat di Official World Golf Ranking dengan hasil: empat kali finis Top 10 (satu di antaranya T3 di PGA Championship) dan empat kali missed cut (MC).

Musim 2020, permainan Jordan tidak mengalami peningkatan: bertanding di 17 turnamen dengan tiga kali finis Top 10 dan tiga kali missed cut. Di musim 2021 yang dimulai sejak September 2020, Jordan bahkan sudah gagal lolos cut tiga kali dalam enam kali penampilannya. Sementara, di masa jayanya pada 2016, Jordan hanya mengalami missed cut dua kali dalam satu musim, dan di 2017, ia hanya tiga kali MC.

Jordan sebenarnya tidak tinggal diam atas penurunan performanya. Sebagai upaya untuk memperbaiki swingnya, Jordan pun mengambil second opinion. Kabar yang beredar bahwa ia menghubungi pelatih legendaris Butch Harmon untuk melihat swingnya. Berita ini memang dibenarkan Butch, yang dihubungi Jordan pada Oktober tahun lalu.

Pelatih yang dikenal pernah menangani beberapa pegolf dan mantan pemain top dunia, seperti Tiger Woods, Phil Mickelson, Ernie Els, Greg Norman, dan Dustin Johnson ini telah mengamati permainan Jordan. Ia menilai perubahan swing Jordan masih oke.

“Saya pikir saya akan mengubah clubface-nya di puncak swingnya karena Anda tahu bagaimana jika terbuka karena dia memiliki grip tangan kiri yang lemah,” kata Butch dalam wawancara Radio PGA Tour SiriusXM. “Tetapi mereka (Jordan dan pelatih Cameron McCormick) telah bekerja baik dalam perubahan swing itu – clubface-nya bagus.”

Jordan mengakui bahwa ini merupakan proses bagi dirinya agar bisa tampil lebih lagi, dan ini tidak mudah. Perubahan (swing) ini memang berdampak pada keseluruhan permainan Jordan. Ia pun menyadari hal tersebut, yang tentunya mempengaruhi mental dan fisiknya.

"IQ golf saya, sejauh ini, jika Anda meminta saya untuk mengajarkan swing golf Anda, mungkin sama rendahnya dengan yang  lain, dan saya pikir itu adalah hal yang sangat bagus," kata Jordan dalam Podcast Subpar Golf.com. “Dan kemudian begitu Anda memulainya dari nol dan mulai menyelami hal-hal mekanis itu, Anda harus dididik dengan cara yang benar.”

Namun, di samping persoalan swing, banyak yang menilai bahwa Jordan pun mengalami masalah mental. Salah satunya adalah Gary Player yang melihat persoalan utama Jordan ada pada pola pikirnya.
“Satu hal yang memenangi sebuah turnamen golf adalah pikiran, dan kita bahkan belum mulai memahami soal ini. Ada hal-hal menakjubkan tentang golf… Swing (hanya) butuh satu detik, dan ada tiga juta buku yang menulis tentang itu (swing),” kata penyandang sembilan gelar major ini dalam interview dengan Sirius XM tahun lalu.” Menurut Gary, yang menawarkan diri untuk membantu Jordan, pemikiran yang terlalu berlebihan mengenai swing itu malah menyulitkan permainan Jordan.

Hal senada diungkapkan David Duval. Peraih 13 gelar juara PGA Tour ini meminta Jordan mengubah mindset soal golf. Menurut David, Jordan--dan pegolf pada umumnya—sebaiknya menjadikan golf sebagai olahraga reaksioner. Daripada berdiri terlalu lama untuk melihat bolak-balik antara target dan bola dengan club, David menyarankan sekali melihat target dan  langsung memukul.

Itu, kata David, seperti dikutip Golf.com, adalah "kesulitan yang dihadapi semua pegolf”. Persoalan Jordan ada dalam permainannya sendiri. Ia, kata mantan pegolf No. 1 Dunia pada 1999 ini, perlu berpikir lebih santai, melupakan swing dan cukup bermain golf saja.

“Anda memukul bola golf statis. Anda tidak bereaksi terhadap seseorang yang melayani Anda (seperti) dalam permainan tenis, "katanya. “Anda tidak bereaksi terhadap seseorang yang melempar bola kepada Anda (dalam sepakbola Amerika); seorang quarterback yang melempar bola ke arah Anda. Anda hanya perlu menciptakan dan membuat permainan (golf) ini reaksioner."

Usia Jordan yang baru mencapai angka 27 memang belum menutup kesempatannya untuk memutarbalikkan keadaan. Ia bisa berkaca pada pengalaman beberapa pegolf top dunia, seperti Brooks Koepka, Dustin Johnson, dan Justin Rose. Mereka bisa bangkit menuju kesuksesan ketika usia mereka sudah di atas 28 tahun.

Brooks, misalnya, mencapai takhta No. 1 Dunia pada 2018 setelah menyabet dua gelar major: U.S. Open dan PGA Championship. Uniknya, pegolf yang kini berusia 30 tahun itu bersinar justru ketika umurnya telah melewati angka 28.

Penantian Dustin ke tangga elite dunia bahkan lebih lama lagi. Berstatus profesional di usia 23 tahun, pegolf yang kini menjadi jawara di puncak Official World Ranking tampil gemilang ketika usianya sudah mencapai 34. Hingga saat ini, penampilannya pun tetap dominan di turnamen-turnamen yang diikutinya.

Sementara itu, Justin bisa menjadi pemain elite dunia karena konsistensi permainannya. Ketika usia tidak lagi muda, pegolf asal Inggris ini justru makin bijak saat tampil kompetitif. Hal itu membuatnya selalu stabil. Ia mampu menduduki singgasana No. 1 Dunia  dua tahun lalu ketika usianya sudah mencapai 38 tahun.

Publik masih menunggu Jordan kembali menunjukkan tajinya. Potensinya sebagai salah satu pegolf elite seperti lima tahun lalu masih ada. Namun, ia masih harus menyelesaikan persoalan dalam dirinya yang menghambat performanya. Seandainya Jordan bisa comeback lagi, kompetisi golf akan semakin sengit dan menyenangkan karena Jordan masih memiliki pesona sebagai salah satu unggulan yang perlu diperhitungkan.  

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE