AUTHOR

OBGOLF

21 June 2020

U.S. Open Tujuh Momen Terbaik

Tahun ini U.S. Open awalnya diagendakan berlangsung pada 18-21 Juni di Winged Foot, Westchester County, New York. Namun, karena pandemi COVID-19 yang menghantam Amerika Serikat, dan New York merupakan salah satu kota yang mengalami terjangan paling hebat, turnamen besar yang diselenggarakan USGA akhirnya bergeser ke 14-20 September. Sambil menunggu perhelatan akbar tersebut di Winged Foot, mari kita menengok ke belakang beberapa momen terbaik turnamen yang pertama kali digelar pada 1895 dan akan menjadi penyelenggaraan ke-119 tahun ini.

1950 di Merion & 1951 di Oakland Hills

Ben Hogan baru saja kembali kembali ke US Open setelah selamat dari sebuah kecelakaan fatal 16 bulan yang lalu. Bermain dengan kaki yang diperban, pegolf berusia 37 tahun itu berhasil menyelesaikan dua putt bernilai par setelah aksi luar biasanya pada pukulan kedua dengan 1-iron yang mendaratkan bola di green, 12 meter ke hole. Skor par di hole 18 tersebut mengamankan tiket Hogan ke playoff 18 hole. Bertarung dengan George Fazio dan Lloyd Mangrum dalam satu putaran, Hogan memenangi playoff usai mengalahkan Mangrum dengan empat pukulan dan Fazio dengan enam pukulan untuk menyabet gelar ketiga US Open. Tahun berikutnya, Hogan kembali meraih kemenangan back-to-back. Ini merupakan gelar kedua US Open yang dimenangi secara berturut-turut dan juga gelar ketujuh major Hogan. Mampu menaklukkan South Course di Oakland Hills yang dijuluki “Sang Monster”, dan memiliki reputasi sebagai salah satu lapangan tersulit di dunia, Hogan mengomentarinya yang kemudian menjadi populer quote: “I’m glad I brought this course – this monster – to its knees (Saya senang berhasil membuat lapangan ini bertekuk lutut).”

1960 di Cherry Hills

Perhelatan ke-60 U.S. Open menjadi pertarungan para legenda dari tiga generasi: Ben Hogan yang berambisi mengukir gelar kelima U.S. Open-nya, raja golf yang sedang ngetop Arnold Palmer dan amatir berbakat Jack Nicklaus. Mereka berada di antara para peserta yang berjibaku di 36 hole terakhir, yang dimainkan pada Sabtu. Setelah putaran ketiga berakhir, Mike Souchak yang merupakan penguasa sementara leaderboard menjaga dominasinya di puncak dengan skor total -5, unggul tiga pukulan atas Hogan and Nicklaus. Sementara itu, Palmer tertinggal tujuh pukulan dari pemuncak leaderboard.
Namun, Palmer berhasil mengejar ketertinggalannya dengan mencetak enam-under-par (65) di putaran terakhir. Pegolf berusia 31 tahun itu menduduki puncak leaderboard. Pegolf amatir Nicklaus yang baru berusia 20 tahun ini menempati posisi runner up, kalah dua pukulan dari Palmer, sedangkan Hogan yang berusia 47-tahun sempat tied saat bersiap di tee 17th justru membuat bogey dan triple bogey di dua hole terakhir, dan harus puas di posisi T9. Ada kabar bahwa Palmer “menggila” di hari terakhir karena komentar penulis golf Bob Drum dalam sebuah percakapan yang justru “memanasi” semangat Palmer untuk menang.

1973 di Oakmont

John Schlee, Jerry Heard, juara US Open 1963 Julius Boros, dan juara US Open 1960 Arnold Palmer berbagi tempat di puncak leaderboard usai 54 hole. Namun, Johnny Miller menyabet gelar juara di putaran akhir pada Minggu. Tertinggal enam pukulan saat masuk putaran final, Miller yang saat itu berusia 25 tahun bisa menyamakan posisi di puncak bersama Palmer, Boros, dan Tom Weiskopf. Ia membukukan birdie di empat hole pertama, dan menambahkan empat tambahan birdie lagi, dikurangi satu bogey. Namun, Miller memimpin di hole 15 setelah mencetak birdie. Miller membukukan rekor skor harian US Open 63 (delapan-under-par) dan harus menunggu lebih dari sejam jika ada pemain di belakangnya yang menyamai skor totalnya (5-under). Favorit tuan rumah, Palmer, terpeleset dari daftar calon juara akibat tiga bogey berturut-turut, dan harus mengakhiri permainannya di posoi T4, tied dengan Jack Nicklaus dan Lee Trevino.

1982 di Pebble Beach

Jack Nicklaus sedang menyaksikan di TV yang berada di tenda skor. Ia melihat Tom Watson memukul bola dengan dua iron ke rough kiri, belakang green di hole 17 par 3. Watson masih tied di puncak dengan Nicklaus dengan skor empat-under-par. Nicklaus berkeyakinan bahwa dia punya kesempatan bagus untuk playoff dengan Watson. Dari posisi bola Watson, ada dua skenario: par atau paling buruk bogey. Namun, Watson bakal habis-habisan di hole terakhir jika ia membuat bogey di 17. Kedi Watson, Bruce Edwards, menyarankan untuk mendekatkan bola ke hole agar bisa par. Namun, Watson tidak ingin par. "Dekatin saja? Nggaklah, Saya maunya masuk,” kata Watson. Watson men-chip bola. Bola itu mengenai tiang bendera lalu masuk. Masuk! Watson menunjuk Edward, kemudian berlari kegirangan di green, merayakan satu momen terbaik dalam sejarah golf. Watson menambah satu birdie lagi di hole penutup, dan menang atas Nicklaus dengan keunggulan dua pukulan.

1999 di Pinehurst

Pergelaran ke-99 U.S. Open berlangsung di Pinehurst Resort Course untuk pertama kalinya. Ini merupakan satu dari turnamen-turnamen yang selalu dikenang dalam sejarah US Open. Payne Stewart menyabet gelar kedua US Open-nya.
Memulai putaran final, Stewart membuntuti Tiger Woods dengan dua pukulan. Kemudian, Phil Mickelson menyodok ke posisi atas, unggul satu pukulan atas Stewart. Namun, Stewart kembali berbagi tempat dengan Mickelson setelah ia membuat bogey di hole 16. Stewart mengambil alih kendali leaderboard usai membukukan birdie, sedangkan Mickelson hanya par di 17. Stewart yang berusia 42 tahun itu mengunci kemenangan dengan putt par dari jarak 5,5 meter berhasil masuk hole di hole terakhir. Stewart melakukan selebrasi kemenangannya dengan tinju di udara dan satu kaki menendang ke belakang. Empat bulan kemudian Stewart tewas dalam sebuah peristiwa pesawat jatuh. Kini patung selebrasi khas Stewart berdiri di belakang green hole 18 green Pinehurst Resort, venue US Open 1999.

2008 di Torrey Pines

Jika pada 2000 Tiger tampil dominan ketika menjuarai US Open, pada 2008 pegolf berusia 33 tahun kembali menyabet gelar dengan penampilan yang dramatis. Tiger yang baru saja menjalani operasi lutut arthroscopic beberapa bulan sebelumnya harus bermain dengan kondisi cedera kaki kiri yang parah sepanjang empat putaran itu. Namun, Tiger berhasil mengatasinya hingga putaran akhir. Dengan kondisi tulang kering yang mengalami fracture, Tiger memaksa Rocco Mediate untuk playoff setelah berhasil memasukkan birdie dari jarak 3,5 meter di hole 18. Keduanya bertarung dalam playoff 18 hole, dan kedudukan sama hingga akhir playoff. Akhirnya diputuskan untuk bertarung dalam playoff sudden death di hole 7 par 4. Kali ini, Tiger berhasil memenangi playoff tersebut.
“Saya pikir ini merupakan salah satu penampilan terbaik (saya),” kata Tiger seperti dikutip Golf Digest. “Karena saya harus menghadapi semuanya.” Beberapa hari kemudian, Tiger masuk RS untuk operasi ACL pada lututnya.

 

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE