AUTHOR

OBGOLF

23 June 2021

Traveler, Cyclist, & Golfer

Melalui sebuah platform konten di YouTube bernama Travel Secrets, nama Marianne Rumantir telah dikenal di dunia maya. Bersama Luna Maya, sebagai co-host, Marianne mampu mengemas hobi travelling-nya menjadi tontonan yang menarik perhatian banyak pemirsa. Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang entrepreneur yang kini memimpin Member.id, sebuah perusahaan teknologi penyedia program loyalitas pelanggan dan pemasaran, Marianne sedang rajin-rajinnya menekuni hobi baru: sepeda dan golf! Dua aktivitas baru ini pun memberikan pengayaan konten Travel Secrets yang kemudian berubah label menjadi TS Media. OB Golf mendapat kesempatan bertemu dengan wanita berusia 38 tahun ini untuk menggali kisah-kisahnya tersebut.

Sekarang ini Anda rupanya lagi rajin bersepeda.

Hobi (karena) pandemi. Saya biasanya hobi olah raga indoor. Karena gym dan tempat-tempat kelas olah raga pada tutup, gimana caranya bisa berolah raga. Akhirnya, dapat ajakan dari teman-teman untuk ikut bersepeda. Mulai Juli 2020 kemarin.

Apa yang membuat Anda tertarik bersepeda?

Kegiatan Outdoor. Teman baik saya, Sigi (Wimala, mantan model dan pemain film) yang sudah lama sepedaan selalu ngajak saya. Sayanya nggak mau. Pertama saya takut. Karena nggak biasa pakai road bike. Kedua, menurut saya, agak mahal. Sepedanya. Lalu, di-arrange sama brand sepeda. Dipinjami sepedanya. Trus saya suka banget. Malah disponsori. Jadi harus lanjut dong. Akhirnya, jadi suka banget.

Lihat di media sosial, Anda ikut komunitas sepeda Lipstick Riders. Apakah hobi sepeda ini juga suka dilakukan sendiri?

Sering. Saya malah kadang bersepeda berdua. Kalau rame-rame dengan Lipstick Riders tidak sesering yang orang pikir.

Dengan aktivitas outdoor, apa sebenarnya yang dicari?

Aku tuh tipe orang yang kalau berolah raga suka punya teman. Makanya sepeda cocok, golf cocok. Nge-gym bareng teman cocok. Karena menurut saya waktunya kan nggak banyak. Saya menggunakan waktu berolah raga juga untuk bersosialisasi. Itu saatnya saya bertemu teman-teman pas olah raga, catch up pas olah raga pagi-pagi. Karena berikutnya kan saya mesti kerja. Malam saya mending di rumah saja, bareng keluarga. The only time saya bisa bersosialiasi adalah melalui olah raga. Jadi banyak banget tuh yang bisa diambil: sosialiasinya, out door-nya, dan ketiga (dengan olah raga) saya suka berkeringat, cardio juga.

Tadi bilang golf. Ini juga olah raga yang mulai ditekuni?

Sebetulnya golf itu pertama kali dikenal mungkin waktu saya masih kuliah. Eh bukan… salah… SMA. Di-kenalin ayah saya. Jadi semua laki-laki di keluarga saya main golf. ayah saya, kakak saya, dan suami saya sudah golf dari dulu. Saya enggak pernah ikutan karena (kepikiran) dulu (golf) cenderung olah raga bapak-bapak. Dan saya (kalau) olah raga harus ada temannya. Jadi nggak ada teman cewek saya yang main golf juga. Itu sebabnya nggak ingin di-ikutin. Saya kan lama tinggal di luar negeri. Suami saya tiap weekend main golf. Dia belikan saya satu (set) golf club. Saya coba main dengan dia, beberapa kali driving. Main ke lapangan juga. Suka (golf). Cuma itu, karena nggak main sama teman-teman yang bikin happy, jadinya nggak diseriusi. Habis itu nggak main golf lama banget. Punya anak dan segala macam. Lalu, (keinginan golf) muncul lagi karena pandemi. Baru pick up golf lagi November tahun lalu setelah beberapa belas tahun nggak pegang lagi. Mulai (ke) driving range, mulai les, karena juga nggak mau malu-maluin ya.

Apa yang menarik dari golf ini?

Itu juga another out door. Menurut saya, ke lapangan golf itu kayak lagi liburan. Karena kan kayak escaping dari kota. Itu semua hijau. Kayak lagi tamasya. Dan kebetulan olah raga yang mengajarkan saya untuk menjadi lebih sabar. Harus selalu mau improve karena konsistensi is key.

Selain sepeda dan golf, Anda juga rupanya rajin vlogging soal travel.

Awalnya, itu adalah project hobi, passion project. Full time (pekerjaan) saya itu ada bergerak di bisnis loyalitas, yang issuing point dan segala macam. Bisnis konsultan dan teknologi. Bergerak di bidang royalty karena saya sendiri traveller yang suka banget ngumpulin poin.

Normally, I travel hack. Travel hack itu the art of collecting points and miles, so I can travel leisure for free. Jadi saya sering terbang, naik first class atau business class saya nggak bayar. Cuma bayar pakai poin. Jadi banyak tip ini yang saya share ke orang melalui sosial media, dan segala macam.

Vlogging travel ini kemudian jadi Travel Secrets (TS). Bagaimana bisa lahir TS ini?

Nah salah satu sahabat saya, si Luna (Maya). Sebenarnya kita sudah temenan lama banget, hampir 20 tahun. Banyak yang nggak tahu karena saya lama di luar negeri. Kita masih deket dari dulu. Kita memang sering travel bareng, cuma nggak pernah di-dokumentasiin. Sebenarnya ini (Travel Secrets) idenya Luna sih. Jadi, saya memang sudah pindah ke Jakarta dan lagi kerjain ini (bidang royalty). Dia tahu banget saya suka poin. Luna jadi suka (ngumpulin poin). Sekarang dia jadi point geeks juga.

“Wah ternyata selama ini saya bisa travel juga nggak harus bayar mahal-mahal. Karena pakai kartu kredit point dan segala macam.” Akhirnya, dia bilang sama aku, “Mar, elo nggak mau bikin YouTube Channel ama gua.” Hah, saya bingung, kok Luna yang suggest? Padahal dia kan sudah punya YouTube channel. Ngapain juga kita bikin lagi? “Nggak. Kita bikin angle-nya beda aja, melalui travel. Jadi elo bisa tuh share tips and tricks elo, secret-secret elo.” Akhirnya lahirlah dengan Travel Secret. Awalnya pengen vlogging saja tentang travel story-nya kita-lah dan tips-tips kita.

Berapa lama Travel Secrets ini berjalan?

Baru setahun lebih. Satu setengah tahun-lah. Jadi, yang tadinya kita mikir, sudahlah belum tentu ada yang nonton. Jadi iseng. Benar-benar super-amatir bangetlah. Pakai kamera kecil yang kita bawa-bawa sendiri, akhirnya improve sedikit. Eh ternyata ada yang nonton. Lumayan. Terus kita mulai-mulai cari sponsor, eh dapat sponsor. Akhirnya kita bikin…oh waktu itu sempat pandemi, kita nggak bisa travel. Padahal tiap bulan kita sudah punya plan nih. Akhirnya kita bilang oh udah deh ini content harus jalan dong. Kita bikin talk show yuk. Namanya TS Talk.

Bikinlah di rumah dia (Luna). (TS Talk) Ini audience-nya grow, sampai sponsor juga grow. Kita akhirnya dapat investor dan company ini kita gabung dengan company saya sekarang. Jadilah Travel Secrets dan sekarang TS Media. Karena kita juga nggak mau cover tentang travel lagi. Behaviour orang kan berubah karena travel ada limitation. Behaviour orang yang tadinya punya duit mau travel, sekarang punya duit untuk apa? Main sepeda. Main golf. Gitu kan? Atau makan, atau apa.... Jadi, Travel Secrets menjadi TS Media karena kita sekarang membuat program-program baru di luar travel, termasuk sport, hobby, lifestyle. Jadi yang tadinya iseng vlogging tentang travel sekarang menjadi media company.

Wah konten TS Media lebih berkembang ya….

Nah sekarang indahnya dengan hobi-hobi kita semua ini adalah kita bisa combine. Dulu setiap kali kita travel, mungkin nyari hotel, nyari destinasi, atau apa. Sekarang kalau kita travel, oke ada lapangan golf di mana. Jadi travel itu bisa sekalian cycling, bisa sekalian golf. jadi banyak tuh kontennya. Nggak cuma makan, kita bisa sport dan segala macam. Kita jadi excited ke mana-mana. Ke mana-mana bawa golf bag, ke mana-mana bawa bike box. Buat kita, seru jadinya. Nyobain  course-course baru. Jadi aktivitasnya lebih banyak dan tasnya jauh lebih ribet sekarang.

Apakah ada sinergi antara TS Media dan hobi golfnya?

Sebetulnya kita ada beberapa kali bikin content golf. kan kita juga setiap kali membuat program TS Media kadang bekerja sama dengan brand, dengan corporate sponsors. Kemarin itu kita sempat ke Bali, karena ada acara golf. kita bikin bersama TS. Sebetulnya kita lagi planning lagi bikin golf event by TS Media, by Lipstick Golfers dan beberapa brand. Hopefully it will happen in Q3. Jadi sekarang ini banyak sekali brand ingin kerja bareng karena melihat hobi-hobi kita, termasuk golf, karena ingin masuk ke dunia itu, ke komunitas itu. Karena this is all about influencing behavior. Kalau orang tahu kita pakai certain brand atau certain product while we are playing golf, of course itu kan bantu brand-nya. Ke depannya sih aku ingin kita bikin regular event kali ya dan regular program. Inginnya lebih banyak cewek main golf. lebih banyak teman lagi.

Kalau sepeda kan ada teman ngumpul kayak Lipstick Riders, bagaimana dengan di golf?

Untuk golf juga (ada teman main). Jadi awalnya mungkin berdua-bertiga, lama-lama oh ini ada cewek-cewek lagi nih. Sekarang ada Lipstick Golfers, jangan salah. Anak-anak sepeda kita yang ada di Lipstick Riders sekarang sudah banyak yang akhirnya main golf.  Komunitas kita kan cewek-cewek aktif, wanita-wanita sporty. Jadi emang dari dasarnya mereka ini sudah athletic build. Jadi dikasih sport baru, cepat. Jadi banyak banget Lipstick Riders sekarang jadi Lipstick Golfers juga. Seru, jadi ramai sekarang.

Golfnya sendiri sudah ada kemajuan? Mungkin bisa break….

Tadi saya sudah mikir, aduh kapan nih bisa break 100? Mungkin akhir 2021. Eh ternyata saya break 100 sekitar dua minggu yang lalu. Nggak nyangka juga sih. Kan golf itu mungkin semua orang juga tahu it’s an easy game, tapi very hard to play. Karena susah banget untuk konsisten. Mungkin itu tantangannya, keseruannya. Pertama kali saya main, of course I played very badly. Mukul bola, untuk kena itu cuma nemplok. Cuma sekarang I’m proud to say lumayan konsisten. At least (pukulan) driver saya selalu bagus. Short game kadang bagus, kadang nggak. Putting kadang bagus, kadang nggak. Jadi we try to improve one step at the time. Coach saya juga bilang satu-satu yang mesti di-benerin. Yang penting ada progress.

Mulai senang main golf, jadi keterusan doyan nonton tayangan golf juga?

Nah, justru sebelum rajin main golf, dulu saya suka nonton. Karena keluarga saya itu semua suka nonton golf, dan suka main golf. So I’m very familiar with players-players yang jago-jago-lah. Udah gitu saya dulu pernah kerja di bank, di mana pernah sponsori acara golf (Indonesia) Open (2006). I was in the golf course every day. Sebetulnya golf itu nggak jauh banget dari dunia aku, dari keluarga dan orang-orang sekitar. Cuma, baru sekarang benar-benar I actually play, and addicted. Jadi, baru main golf aja sudah kangen ingin main golf lagi.

Mungkin ada saran buat mereka yang mau main golf, tapi nggak tahu harus mulai dari mana.

Kalau aku bilang of course dari driving dulu. Nggak usah beli golf club. Kalau bisa pinjam dulu. Karena nggak tahu suka atau nggak. Beberapa teman saya nyoba. Nggak suka. Jadi jangan spend anything-lah. Kalau bisa pinjam aja dari teman. Coba driving dahulu, tanpa coach. Kalau suka baru ambil coach. Latihan-latihan (di driving range), baru turun lapangan. Cuma jangan terlalu lama juga driving. Kalau kelamaan, nggak tahu rasanya (main di lapangan). Sangat berbeda main di lapangan ama driving.

Saat main jelek, sempat merasa frustrasi nggak?

Frustrasi mungkin at that moment, kalau (pukul) bola lagi jelek, frustrasi. Cuma, saya sering belajar, saya sering dengar, dan akhirnya saya belajar, setiap habis pukul harus cepat move on. Kalau nggak move on-move on, sebal. Of course, kalau pukulannya jelek, sebal. Ya sudahlah, abis gitu mikir saya kan bukan profesional. Saya nggak mau jadi atlet. Kalau saya jago, saya jadi pro. Bener enggak? Jadi saya mikir sudahlah every swing is my practice (round).

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE