AUTHOR

OBGOLF

22 June 2020

TONY FINAU The First Tongan on PGA Tour

Nama lengkapnya adalah Milton Pouha Finau. Namun, dia lebih dikenal dengan Tony Finau (baca: Fii-naw). Dalam empat tahun terakhir Tony mulai dikenal di kompetisi terpadat dunia: PGA Tour, usai memenangi Puerto Rico Open, yang merupakan trofi pertamanya di Tour. Kemenangan pertama Tony ini menjadi tonggak baru dalam tradisi keluarga Tonga dan Samoa, salah satu suku dari lautan pasifik yang beremigrasi AS. Untuk olahraga, warga keturunan Tonga umumnya menjadi atlet-atlet sepakbola Amerika. Namun, Tony mengambil jalur yang berbeda. Melalui golf, ia berhasil menyejajarkan diri dengan para pegolf elite dunia, dan Tony kini adalah pegolf No. 16 dunia. Berikut perjalanan Tony dari bawah hingga menjadi salah satu pegolf dunia saat ini.

Siapa yang menginsiprasi Tony untuk mulai main golf?
Tiger Woods. Pada 1997 Tony yang saat itu berusia tujuh tahun menonton Tiger di TV. Tiger yang berusia 21 tahun kala itu menyabet Jaket Hijau pertamanya, yang juga merupakan gelar major pertamanya. Kemenangan Tiger ini mengangkat semangat dan motivasi Tony untuk bermain golf.
“Saya melihat seorang pemuda yang berwarna kulit sama dengan saya,” kata Tony, seperti dikutip newsday.com. “Saya lihat ia mengangkat kepalan tangannya, saya lihat ia mengenakan jaket hijau. Ia membuat permaina ini terlihat lebih keren. Saya melihat itu dan saya menyukainya. Mungkin saya bisa melakukannya satu saat, mungkin saya bisa main di Masters.”

Golf tidak ada dalam gen keluarga Finau. Golf ini pun merupakan olahraga yang mahal. Bagaimana ayah Tony mengatasinya?
Finau adalah seorang Tonga yang lebih familiar dengan sepakbola secara turun temurun, bukan seorang pegolf. Orang tuanya bukan orang berada. Namun, karena Tony dan adiknya ingin bermain golf. Sang ayah, Kelepi, melakukan beberapa inovasi, memotong stik-stik golf bekas agar bisa digunakan untuk junior, menyalin buku Golf My Way karya Jack Nicklaus yang dijadikan buku panduan dalam berlatih golf, dan menyulap garasi menjadi driving range mini dengan menyiapkan matras di dinding dan memasang karpet di lantai.

Kelepi menjadi pelatih Finau bersaudara. Apa yang Kelepi lakukan untuk mulai melatih?
Kelepi memiliki banyak pengetahuan olahraga secara umum, kecuali golf. Namun, ia memiliki naluri melatih yang alami. Sebelum memulai latihan, ia menempel selembar kertas yang berisi tiga peraturan di garasi untuk Tony dan adiknya, Kelepi Jr., yang biasa dipanggil Gipper:

  1.  Dengar.
  2.  Serius.
  3.  Jangan Menyerah. Ia juga menulis beberapa kalimat motivasi untuk mendorong Finau bersaudara.

Belajar dari ayah yang tidak paham golf, bagaimana Tony berlatih untuk meningkatkan kemampuan golfnya?
Tony dan Gipper lebih dahulu mengasah kemampuan chip mereka sebelum berlatih pukulan yang lain. “Kami menchip ribuan bola, mungkin jutaan,” kata Tony. “Kami belajar bagaimana menghasilkan suara yang tepat ketika membuat chip yang solid.” Kelepi rupanya menerapkan apa yang disarankan Nicklaus dalam bukunya, dalam permainan ini, hal yang pertama dipelajari adalah pukulan dari jarak 100 yards (91 meter). “Yang lebih gila, stik yang terakhir saya pelajari adalah driver,” tambah Tony.

Karena golf, Finau bersaudara memiliki kesempatan belajar di (SMU) East High School yang membuka luas pengalaman mereka dalam golf. Namun, sang ibu justru memasukkan keduanya ke West High yang tidak memiliki tim golf. Bagaimana hasilnya?
Keluarga Finau tinggal di lingkungan West High School. Ibu Tony, Ravena, ingin menjaga loyalitas mereka dengan lingkungan sekelilingnya. Tony pun masuk West High School, disusul Gippper setahun kemudian. Setahun berikutnya, West High, SMU tertua di Salt Lake City, menjadi juara golf di Negara bagian Utah untuk pertama kalinya dalam 114 tahun.

Tony beralih status, menjadi profesional, di usia 17 tahun. Mengapa dia memilih jadi pro dalam usia yang sangat muda?
Setahun setelah memenangi Utah State Amateur di usia 16 tahun, Tony sebenarnya mendapat tawaran beasiswa dari beberapa universitas untuk college golf, Stanford dan Brigham Young University, dan beberapa universitas lain yang ingin merekrut Tony dalam tim basket universitas. “Tetapi dengan beasiswa penuh, saya tahu saya tidak kuat secara finansial. Beasiswa tidak menanggung biaya kendaraan, pakaian, makanan, dan pulang kampung. Jadi, di 2007, umur 17 tahun, saya putuskan jadi pro,” jelas Tony.

Apa ada alasan lain yang juga mendorongnya jadi pro?
Tony menerima tawaran dari seorang pengusaha lokal untuk bertanding di sebuah program golf untuk TV di Las Vegas dengan hadiah US$2 juta untuk pemenang. Pengusaha itu memasang taruhan US$50,000 untuk Tony dalam event tersebut. Dan Tony berhasil lolos ke putaran final dan meraih hadiah $100,000, lalu mendapat kontrak dari sponsor Callaway. Ia mulai menatap PGA Tour.

Bagaimana perjalanan Tony di arena professional?
Setiap tahun, dari 2007 hingga 2011, ia gagal mendapatkan kartu PGA Tour di qualifying school. Tony pun bermain di eGolf Tour, Canadian Tour, dan Gateway Tour — kompetisi golf minor – agar dirinya tetap bisa berkompetisi.

Sebulan sebelum akhir 2011, Tony menepikan diri dari kompetisi selama tiga bulan. Apa yang terjadi?
Pada November 2011, sang ibu meninggal karena kecelakaan mobil. Di masa berkabung itu, Tony pun menghadapi beberapa masalah. Anak pertama belum lama lahir, dan beberapa bulan kemudian sang istri hamil lagi, tagihannya membengkak, dan dia belum punya status di tour. Akibat stres, Tony terkena sakit maag yang parah
dan harus masuk rumah sakit. Ia tidak bisa berjalan selama lima minggu, dan tidak bisa bermain golf selama delapan minggu.

Namun, Tony bisa bangkit dari keterpurukan. Apa yang membuat dia kembali bangkit?
Sang ibu. Tony berpikiran sang ibu pasti menginginkannya untuk tidak menyerah. Ia mesti bangkit. Tony pun memenangi turnamen mini-tour pertamanya setelah absen delapan minggu. Ia selalu mengenakan kaus hijau, yang merupakan warna favorit sang ibu dan juga menjadi motivasi dirinya bahwa dia pantas dengan jaket hijau, di putaran terakhir. “Saya tahu ia ada di sana. Saya tahu ia mengikuti saya,” katanya. Pada tahun berikutnya, 2013, Tony akhirnya berstatus anggota tetap di Web.com Tour, dan menyabet kartu PGA Tour di musim berikutnya. Tony merupakan keturunan Tongan dan Samoa yang berhasil mengukir prestasi ini.

Apa prestasi yang dicapai Tony dalam enam tahun terakhir ini?
Di musim rookie (2014), berada di Top 4, Tony berada di top-10 lima kali dalam 31 penampilannya dan meraih penghasilan US$2.1 million. Hingga April 2020, ia berhasil mengumpulkan US$18,170,309 dari hadiah uang dan menduduki posisi No. 16 dengan satu gelar juara PGA Tour.

Bagaimana kepribadian Tony di dalam dan luar lapangan golf?
Tony dikenal sebagai sosok yang ramah dan menyenangkan. Menurut Kelepi, personalitas Tony menurun dari sang ibu yang selalu berpikir bahwa tidak ada orang yang jahat. “Ia selalu menyapa setiap orang dan mereka pun menyambutnya. Mereka (Finau bersaudara) belajar banyak dari sang ibu yang mengajarkan mereka bagaimana untuk menghormati orang lain,” jelas Kelepi. Tidak mengherankan jika Tony berada di posisi ke- 2, setelah Jordan Spieth, dalam daftar “The Top 30 Nice Guys of the PGA Tour” versi Golf Digest yang membuat polling pada para pemain, kedi, media, ofisial golf, dan industry di dalamnya.

How did golf keep Finau brothers from bad influences?
Finau bersaudara tumbuh di lingkungan yang buruk. Ada bebarapa gang, yang mengedarkan narkoba atau melakukan kejahatan. Beberapa teman mereka bahkan ikut terpengaruh dalam pergaulan buruk tersebut. Golf telah menyelamatkan Finau bersaudara. Keinginan besar Tony untuk meningkatkan kemampuan golfnya telah menjauhkan perhatiannya dari lingkungan itu. Namun, hal yang berdampak besar adalah menghabiskan waktu di lapangan golf. Kelompok gang tidak nongkrong di lapangan golf. Jordan River Golf Course yang merupkan tempat Tony berlatih menjadi dinding pemisah antara dirinya dan elemen-elemen buruk itu. Finau bersaudara bahkan mendapat respek dari mereka setelah keduanya meraih sukses dari golf. “Mereka melihat kami memiliki nilai yang mewakili rakyat Polinesia,” kata Tony.

Tony memiliki ikatan kuat dengan Masters Tournament. Ia bahkan membuat semacam “sumpah” terhadap kiblat golf itu. Apa janji Tony itu?
Masters Tournament merupakan faktor penting yang memberikan motivasi diri positif baginya ketika menyaksikan penampilan Tiger di Augusta National, Georgia, 23 tahun yang lalu. Setelah belajar sejarah olahraga itu di Augusta, ia mulai menghormati makna kehadiran salah satu turnamen yang paling bergengsi di dunia. Karena itu, Tony berjanji bahwa dia tidak akan menginjakkan di Augusta kecuali atas usahanya sendiri. Tahun 2018, atas prestasinya di 2017, Tony mendapat invitation untuk bertanding di Augusta. Ia pun membalas dengan mencapai T10. Tahun lalu, Tony kembali ke Masters, dan bahkan bermain di grup terakhir bersama pemain favoritnya Tiger dan Franscesco Molinari. Tony berhasil mencapai T5 dalam turnamen yang dimenangi Tiger.

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE