AUTHOR

OBGOLF

21 September 2020

Rinaldi Adiyandono

Ketika memutuskan ke pro, apa pertimbangan Rinaldi sendiri?

Goal-nya kan (ketika amatir), main di turnamen amatir nasional dan internasional. Pertimbangan lainnya, kalau main di amatir saja, terutama hanya di lingkup Indonesia, saya nggak mungkin berkembang. Selesai PON 2012, Papa bilang saya kan dapat medali (SEA Games 2011 dan PON 2012), ini sudah saatnya masuk pro. Karena itu, saya memberanikan diri untuk masuk profesional. Saya pun mengumumkan diri sebagai pemain pro pada November 2012. 

Lalu, bagaimana pengalaman bertanding di pro selama delapan tahun terakhir ini?

Overall, saya ingin menang lebih banyak. Namun, menang di profesional kan nggak gampang. Karena itu, dengan koleksi tiga gelar, termasuk gelar di Grand Final IGT 2014, saya sudah cukup senang. Ditambah lagi, bisa menduduki runner up serta top 5 dan top 10 beberapa kali, saya cukup puas. Bahkan, kemenangan terakhir pada 2019 lalu bisa diukir saat saya mulai sibuk melatih (mengajar) golf. Jadi, cukup puas dengan performance saya.

Beberapa tahun lalu Rinaldi pernah cedera. Bagaimana kondisi saat ini?

Di musim 2018 dan 2019, saya tidak terganggu dengan cedera itu. Namun, saya masih merasakan dampaknya pada kondisi psikis saya. Bagaimana mengembalikan kepercayaan diri saya.

Jika sebelum cedera tidak pernah berpikir macam-macam ketika bertanding, sekarang jadi berpikir bisa lagi nggak ya?

Karena itu, kemenangan tahun lalu itu di luar dugaan saya. Saya datang dengan ekspektasi yang tidak berlebih. Saya hanya ingin bermain yang terbaik dan have fun saja. Kebetulan, saya dikasih jalan untuk menang lagi.

Apa cedera yang dialami Rinaldi waktu itu?

Cederanya di lower back pada 2016. Parah-parahnya, saya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saya pun melakukan treatment untuk cedera ini. Sebelum mengalami cedera, saya memang sedang banyak kegiatan mengajar golf. Yang saya ingat terakhir kali sebelum cedera, saya mengangkat beban sangat berat ke bagasi mobil saya waktu itu. Beban itu berisi stik-stik plastik yang dipakai berlatih di sebuah sekolah di Bintaro. Besoknya saya tidak bisa bangun.

Apa yang dirasakan waktu itu?

Lower back-nya terasa sangat kaku. Saya tidak turun ke lapangan hingga tiga bulan. Awal-awal cedera saya tidak bisa putting. Badan bungkuk sedikit saja susah. Saya harus benar-benar tegak.

Kapan Rinaldi ke turnamen setelah cedera?

Pasca-cedera, saya pertama kali di IGT Rawamangun pada Agustus 2016. Ketika balik ke lapangan, hal yang pertama saya lakukan adalah berusaha mengembalikan kepercayaan diri.

Bagaimana rencana untuk go-international?

Keinginan saya untuk itu sudah lewat. Dua tahun lalu saya masih punya keinginan itu. Tapi saya merasa umur saya sudah lewat. Selain touring, Rinaldi rupanya juga melatih golf melalui RAD Golf Swing.

Bisa diceritakan bagaimana Rinaldi buat RAD Golf Swing?

Saya awalnya mengajar teman-teman dekat. Lalu, saya membagi waktu (50-50) antara touring dan mengajar golf, yaitu melatih junior-junior di Karawaci. Namun, saya merasa itu bukan passion saya. Saya lebih cocok melatih orang yang sudah bisa main dan orang dewasa. Kalaupun saya melatih junior, itu lebih selektif. Saya memilih junior yang serius main golf. Ketika mulai mengajar golf, saya belum punya nama. Saya berpikir, kalau mau “jualan”, namanya apa ya. Terinspirasi dari sebuah akun pelatih golf yang enak dibaca dan simple, saya pilih RAD (dari nama saya: Rinaldi Adiyandono) yang kebetulan selalu saya sebagai inisial dari karya saya sejak kecil. RAD juga bermakna lain dari tiga nama depan dari mama, kakek dan papa saya. Rad juga bisa kependekan dari radical. Namun, bagi saya, Rad itu kedengaran keren saja.

Sebagai pelatih, apa metode yang diterapkan Rinaldi?

Saya tidak mengajarkan swing yang sama. Murid-murid saya dibebaskan untuk menggunakan swing yang mereka punya. Saya hanya mengajarkan bagaimana mereka bisa bermain labih bagus. Selama ini kebanyakan pelatih terlalu fokus pada swing sehingga mereka lupa bahwa di lapangan itu kita mengejar skor bukan swing. Jadi, kalau kita mengejar swing bagus, kapan kita dapatkan skor yang bagus?

Untuk golf ini, Rinaldi juga punya aktivitas yang dikenal Indo Free Style. Apa Indo Free Style itu?

Indo Free Style itu punya sejarah dengan karier touring saya. 2013 itu adalah tahun pertama saya full bermain sebagai profesional. Saya finish di posisi 26 (Order of Merit). Jelek sekali. Di amatir saya bisa finish Top 10, ternyata di profesional tidak semudah itu. Seiring perjalanan karier di pro, saya perlu sesuatu untuk melepaskan stres. Jujur saja, saya merasakan tekanan itu karena hasil (di profesional) tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Saya buat Indo Free Style, bareng dengan teman golf saya sejak junior, Andre Atmadji. Tidak lama makin banyak yang kenal dengan Indo Free Style. Kepercayaan diri saya mulai naik. Saya bisa memenangi gelar pertama profesional di turnamen Panasonic pada 2014.

Bahkan, Golf Channel pada 2015 pernah meliput Indo Free Style.

Golf Channel itu punya program yang mengambil trick shots yang bagus di golf. Waktu itu saya ditelepon teman yang bilang elo (Indo Free Style) ada di Golf Channel. Saya menganggap biasa karena saya pikir Golf Channel Indonesia (ketika itu). Namun, teman saya bilang Golf Channel AS. Saya juga tidak tahu ketika diambil gambar oleh mereka. Saya merasa beruntung karena masuk liputan mereka. Selain Golf Channel, Indo Free Style juga pernah diliput sama Nickelodeon dan MTV.

Ketika Covid-19 ini menjadi pandemi sejak Februari lalu, bagaimana Rinaldi mengisi kegiatan golf?

Sebelumnya saya membagi dua: touring dan melatih. Sejak Covid-19 ini, saya hanya mengajar karena tidak ada turnamen satu pun. Saya pun memanfaatkan lebih banyak sosial media untuk postingan berbayar. Sekarang saya bisa dibilang golf professional/influencer.

Lalu, bagaimana menggali skill kepelatihan Rinaldi?

Sebelum PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) kemarin, saya sempat ke Thailand untuk mengejar sertifikat melatih. Saya mengikuti seminar dua hari yang dibawakan Mike Adams (PGA National Teacher of the Year 2016 dan anggota World Golf Teachers Hall of Fame). Ia terkenal dengan teori Bioswing Dynamic. Saya kini menyandang sertifikat pelatih level 1.

Rupanya dunia kepelatihan sudah makin didalami. Ada kemungkinan meninggalkan dunia touring?

Saya tidak meninggalkan turnamen. Karena touring membesarkan nama saya. Cuma mungkin saya akan lebih jarang mainnya. Saya tetap punya impian: akan mencoba untuk ikut seleksi dalam Monday qualifying di sebuah turnamen besar. Mau coba juga sih, bagaimana rasanya main seperti itu.

Bagaimana perjalanan Rinaldi sendiri di golf amatir sejak mengenal olahraga ini pada 2000?

Saya sebenarnya kurang menonjol di golf ketika junior. Permainan golf saya mulai mengalami peningkatan ketika berlatih dengan alm. Ronald Singh yang berjasa bisa mengubah skor saya dari 80-an ke 70-an. Namun, ketika bertemu David Milne pada 2011 (menjelang SEA Games), saya mengalami peningkatan dalam permainan golf—bisa main di bawah par. Lalu, pada 2012, dengan bisa sendiri, saya berlatih lagi dengan David dan bisa main under lebih banyak lagi.

Bagaimana Rinaldi bisa meningkat hingga seperti ini?

Api dalam diri saya. Ketika masih sekolah, saya memang bukan sosok olahragawan sehingga sering dianggap remeh. Perlakuan ini menumbuhkan “dendam” dalam diri saya, yang menjadi motivasi lebih saya untuk membuktikan diri bahwa saya bisa. Karena itu, ketika saya punya kemampuan, “dendam” ini menjadi api untuk tampil lebih baik. Ketika menjelang PON 2008, saya tidak terpilih untuk masuk tim DKI karena suatu hal yang bersifat politis, bukan karena saya tidak mampu. Ini pun menjadi trigger bagi diri saya sendiri ketika tampil di turnamen. Karena itu, saat saya menang (dengan menyabet tiga gelar profesional), “dendam” ini merupakan killer instinct saya untuk meraih kemenangan tersebut.

Selama berkarier di pro dalam delapan tahun terakhir ini. Apa saja pengalaman berkesan bagi Rinaldi?

Bermain dalam turnamen beregu di IGT-PGM Championship itu berkesan bagi saya. Bisa bertanding di level Asian Tour dan ADT, dan juga bermain dengan pemainpemain ternama yang dulu hanya bisa lihat di televisi itu pun tidak terlupakan bagi saya. Namun, ketika menang di (Indonesian Golf) Tour, saya merasakan sesuatu kegembiraan yang tidak mungkin dikalahkan dengan pengalaman lain. Dulu bisanya cuma mimpi saja karena di amatir tidak pernah menang di kategori individu. Akhirnya saya menang di individu ketika menjadi pemain profesional.

DAFTAR PRESTASI

Sirkuit Profesional Nasional : Lowest Amateur 4 kali

SEA Games 2011 : Perak (tim dengan George Gandranata, Ian Andrew, dan Suprapto)

PON 2012 : 2 Emas (tim dan foursome--dengan William Sjaichudin) Perunggu (mix foursome—dengan Juriah)

PON 2012 Putra Cup 2011 & 2012 : Posisi ketiga (tim)

Panasonic Open Indonesia 2014:

Juara Grand Final IGT 2014 : Juara

Ciputra Golfpreneur 2015 : Best Indonesian Pro

PAGI Pro Series 1 2019 : Juara  

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE