AUTHOR

OBGOLF

19 April 2021

Profesional Berbicara Kevin C. Akbar

Stik pertama yang dipakai?

Umur 8 tahun, waktu saya nggak mau main golf, Papa sempat kasih stik. Mereknya: Ena. Karena (umurnya) 8 tahun, dikasih iron nomor 8. Baru dibelikan satu set club itu ketika minta stik ke Papa. Waktu itu, drivernya Nike karena Tiger Woods kan (waktu itu) lagi idola banget di golf. Fairway wood dan putternya juga Nike. Tapi ironnya Titleist.

Bagaimana rasanya pukul bola pertama kali?

Berat (stiknya), tapi senangnya pas kena (bola). Enak, dan seru aja lihat bola terbang di atas. Yang bikin senang itu ketika kena bolanya enak, terus bolanya terbang. Jadi, akhirnya terpicu agar kenanya selalu solid. Supaya bisa lihat terbang bola.

 

Latihannya di mana?

Waktu baru mulai, latihannya lebih banyak di driving range. Temani Papa juga, usai

pulang sekolah. Setelah tiga atau empat bulan, baru mulai turun lapangan. Lapangan pertama di Bogor (Bogor Golf Club). Lapangan tua banget, cuma sembilan hole. Di situ pertama kali turun lapangan.

 

Berapa skornya waktu turun ke lapangan pertama kali?

Wah, pertama kali main di lapangan, kayaknya skor pertama nggak di-inget deh. Karena masih coba-coba, dari mana-dari mana. Tapi inget banget pertama kali main di turnamen Pondok Cabe. Kelas D (9-10 tahun), kalau nggak salah. Main dari kuning, skor 89. Skor itu bagus banget. Tapi aku sih waktu itu ngerasa, 89 apa sih? Emang kenapa? Ternyata beberapa bulan kemudian main, nggak pernah break 90. Selalu 98, bahkan 100, 110. Oh ternyata 89 itu bagus juga ya. Tapi emang nggak tahu kenapa, waktu itu main memang lagi enak saja.

 

Apa yang dilakukan ketika mulai serius di golf?

Waktu mulai serius, hanya ingin bermain lebih baik saja setiap turnamen. Lebih baik, dan lebih baik. Papa pernah bilang patokannya skor saja. Nggak usah (berpikir) juara. Papa mematok skornya lebih baik. Misalnya main 85, juara kelima. Terus, next-nya main 82 tapi ternyata nggak juara, itu nggak apa-apa. Yang penting, skornya improve.

 

Plan-nya seperti apa waktu itu?

Waktu junior itu, belum kebayang seperti sekarang. Lalu, sudah dikasih tahu sama pelatih golf David (Milne) dan Lawrie waktu di timnas golf. Oke, kalau misalkan 10 tahun ke depan mau jadi seperti ini, berarti step by step-nya apa dulu. Mungkin dari scoring average-nya, atau mungkin main turnamen apa, ranking harus berapa, main berapa, harus begitu kan? Kalau dulu waktu junior, karena mungkin pengetahuannya belum banyak. Jadi, targetnya sih skornya selalu improve. Itu saja sih.

 

Ketika berkarier di amatir, kapan Kevin merasa itu puncak kariernya?

Menurut aku, 2018. Satu tahun sebelum turn pro. Karena—menurut aku—wawasan aku di golf sudah lumayan. Pengalamannya juga, main sana-sini. Itu menurut aku masa-masa amatir lagi bagus-bagusnya. Makanya tahun berikutnya aku confidence untuk masuk pro 2019.

 

Bagaimana bisa masuk tim nasional?

Aku masuk timnas itu 2012, satu tahun sebelum SEA Games Myanmar. 2012, aku dipanggil untuk masuk pelatnas. Waktu itu kalau nggak salah ada 12-13 orang (yang dipanggil). Papa waktu itu ngomong, cari pengalaman saja. David dan Lawrie juga bilang ambil hikmah dari apa yang mereka ajarin. Melihat belasan orang ini, mereka itu bagus-bagus banget. Ada Jordan (Surya Irawan), William (Sjaichuddin), Fahmi (Reza), yang baru juara di Nick Faldo Series-Indonesian Qualification) dan lagi bagus-bagusnya, Elki Kow, dan banyak senior aku yang jauh di atas aku.

Mungkin karena mainnya nggak ada beban. Dari belasan orang itu, aku bagus di top 3, top 5, top 3, top 5. Kayak gitu-gitulah, konsisten. Pertengahan 2013, ketika penentuan tim inti, aku ternyata waktu itu nomor 3. Terpilih masuk timnas untuk pertama kali.

Bagaimana rasanya masuk timnas?

Itu di luar ekspektasi. Tapi memang ada beberapa turnamen yang menjadi pertimbangan PGI untuk (seleksi) masuk tim inti nasional. Ketika sudah berjalan setengahnya, aku dan Papa lihat bahwa peringkat aku sudah masuk tim inti. Beberapa turnamen terakhir, sebelum pengumuman, Papa bilang ingat kita di sini  cuma nothing to lose saja. Ingat, kita cuma cari pengalaman saja. Nggak ada beban itu, eh bisa masuk tim inti. Senang banget sih. Pengalaman yang nggak bisa dibeli. Masuk timnas, main di SEA Games, main di Nomura Cup, dikirim ke mana-mana. Akhirnya bisa tambah pengalaman juga.

Pengalaman berkesan main di turnamen amatir?

Pada 2014, main di Asia Pacific (Amateur Championship). Itu pengalaman berharga banget. Turnamen Aspac itu kan nggak bisa daftar, tetapi by invitation doang. Bisa main dengan pemain-pemain top Asia Pacific, dari China, Jepang. Bisa belajar dari turnamen itu. Kita di-treat sebegitu mewahnya. Itu pengalaman yang amat berharga buat saya.

Di SEA Games, mana prestasi terbaik Kevin?

Prestasi terbaik pada 2015 dan 2017. 2015 di Singapura, kita dapat bronze untuk tim (putra). 2017 di Kuala Lumpur juga dapat perunggu (tim).  Pada 2015, timnya: aku,  Rizchy (Subakti), Fadhli (Rahman Soetarso), dan Tirto (Tamardi), sedangkan 2017, dengan Almay (Rayhan Yagutah), Jonathan (Wijono), dan Naraajie (Emerald Ramadhan Putra).

Pernah jenuh nggak sih di golf hingga kepikiran nggak mau main dulu?

Pernah merasakan itu, tapi nggak lama. Kalau jenuh, seminggu nggak main golf. ngumpul sama teman-teman. Jalan-jalan. Setelah itu, kangen lagi sama golf. Namanya golf pasti ada naik-turunnya. Prestasi kadang bagus, kadang turun. Kalau pas lagi down, apalagi kalau (sekelas) pemain timnas, lalu mainnya ternyata lebih jelek dari pemain non-timnas, pasti ada saja yang ramai ngomongin. Itu harus tahan-tahan banget kalau lagi down. Tapi memang hal-hal seperti itu pasti terjadi sih dan nggak perlu harus dikhawatirkan.  Yang penting tetap latihan saja, evaluasi apa yang kurang. Pasti setelah itu akan lebih baik lagi.

2019, Kevin resmi menjadi pemain pro. Apa pertimbangannya ketika memutuskan jadi pro?

Yang pertama sih, persaingan. Persaingan di pro pasti bisa membuat diri aku lebih baik lagi. Di pro kan banyak pemain bagus, seperti Danny Masrin, George (Gandranata), Rory (Hie), dan masih banyak pro Indonesia yang bagus. Mereka bisa memicu aku lebih bagus lagi. Yang kedua, kayaknya kalau mau serius di golf, cepat atau lambat harus turn pro juga, harus terjun ke dunia profesional. Ketiganya, selain sama Papa, aku juga ngobrol sama pelatih aku (David). Kata mereka, tunggu apa lagi? Kamu sudah lima tahun di amatir, main di SEA Games, main di turnamen lain. Untuk cari pengalaman lain, ya itu-itu saja. Kita coba sesuatu hal yang baru, yang bisa bikin golf kita lebih baik, ya turn pro. 

Bertanding di turnamen profesional dengan status baru (dari amatir ke pro). Merasa jetlag atau bagaimana?

Nggak ngerasain apa-apa sih. Itu tergantung kita mikir-nya juga sih. Kita sama-sama main 18 hole. Aku juga mikir-nya sama saja (amatir dan profesional). Cuma kebetulan kan ada hasilnya (uang untuk profesional). Sebelum dapat hasil, kita kan mesti main 18 hole dulu. Amatir main 18 hole, pro juga.  Kalau kita mikirnya beda, pasti hasilnya beda. Kalau mikirnya sama, hasilnya juga sama.

Apa evaluasi setelah setahun dengan status profesional?

Setahun touring, ternyata game saya mesti banyak diperbaiki. Tidak hanya dari sisi game, tetapi juga mental side. Turnamen profesional ka punya setting lapangan yang beda. Jadi lebih butuh pukulan yang dibentuk. Setting lapangan untuk profesional kan susah banget. Dari situ, aku punya kesimpulan: aku harus banyak belajar.

Berapa lama adaptasi dengan status baru profesional?

Nggak lama. Karena waktu di amatir kan sering main di turnamen-turnamen profesional, seperti Asian Tour, ADT, atau IGT. Jadi, adaptasinya nggak terlalu lama. Mungkin satu-dua turnamen awal aja sih.

Sejak pandemi Covid-19, ketika tidak ada turnamen profesional. Apa saja yang dikerjakan setahun terakhir ini?

Aku lebih fokus nge-gym. Untuk turnamen besar kan, tee off sedikitnya harus 290 yard carry. Sekarang sih aku 290 yard. Tapi kalau bisa lebih, dan tidak mengurangi akurasi, kenapa tidak? Malah lebih mudah. Kita bisa cari birdie di par 5 lebih banyak. Selain ngegym, kuliah juga. Kan kebetulan online. Ambil mata kuliah lebih banyak. Latihan golf, dan sharing-sharing ide di video YouTube (Golf.in).

Wah ada kesibukan bikin video juga. Bagaimana ceritanya?

Jadi ide awalnya, aku mau sharing hal-hal yang nggak diajari ama pelatih-pelatih kebanyakan. Misalnya, arah rumput seperti ini reaksi ke bolanya akan seperti apa. Dari fairway bunker, mengapa kita harus tambahin club. Kayak gitu. Pelatih-pelatih profesional kan nggak ngajarin begitu. Lebih ke pengalaman-pengalaman aku. Gimana aku baca break, gimana mental side-nya. Ternyata, setelah upload 1-2 video, mungkin karena pandemi juga sehingga banyak orang mulai main golf, banyak permintaan untuk yang basic kayak grip, setup, dan lain-lain.

Kabarnya, ngajar golf juga di lapangan?

Dari bikin YouTube ini, banyak teman Papa yang ingin main bareng. Ingin diajari di lapangan. Oh ya udah nggak apa-apa. Aku nggak masalah, aku bisa main di lapangan. Lalu kepikiran, kenapa nggak teaching on course saja? Aku kan bisa melatih sambil di lapangan tetapi bisa sambil latihan juga. Jadi kalau misalnya pandemi sudah mereda, feeling (bermain) aku nggak hilang. Jadi sebenarnya ide bagus juga sih teaching on course.

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE