AUTHOR

OBGOLF

23 June 2021

Pemuda Korea Bincang Karier di Indonesia

Minsub Sim adalah satu dari sedikit pegolf profesional luar yang berkarier di Tanah Air. Pegolf Korea berusia 26 tahun ini rupanya lebih nyaman mengembangkan potensi profesionalnya di Indonesia. Ia tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk balik ke Korea yang sebenarnya memiliki kompetisi golf lebih bagus. Namun, keinginan untuk stay di Indonesia lebih mantap. Lima tahun lalu, ia memutuskan jadi pemain profesional touring.  Ketika kompetisi golf profesional di Tanah Air terhenti, karier Minsub justru moncer sebagai teaching pro. Ia bahkan menjadi coach beberapa murid yang berprofesi sebagai selebritas. Kepada OB Golf, penyuka Korean hip hop ini bercerita banyak mengenai awal perkenalannya dengan golf, sosok ayah di matanya, kesan pertama saat bertemu selebritas Indonesia, dan pengalaman karier profesionalnya di Indonesia.

Bisa cerita awal main golf?

Saya mulai kenal golf ya…when I was a kid. My father was a professional tour golfer. Tetapi aku mulai main serius itu umur 14 tahun. Sebelumnya saya main (sepak) bola. Waktu itu Papa ajak main golf, tapi I didn’t have any interest at all. Malah bosan. Disuruh latihan golf, malah kabur ke lapangan sepak bola. Terus, ketangkap sama nenek saya. Namun, my father didn’t push me at that time. When I got bored, my father asked me to play golf. I was 14. Dan waktu itu, pas timing-nya saat saya mau pindah ke Indonesia. 2010. At that time, I got interested (main golf).

Mengapa kemudian pilih golf?

First thing I get bored with soccer. Jadi, saya (sudah) nggak mau main soccer. Then, my father asked me to play golf. Sebelumnya, saya punya bad thinking of golf. Nggak seru sama sekali. Buat apa (golf ini). Kalau sepak bola kan ramai-ramai (mainnya), kalau golf kan individual sport. Nggak ada berisiknya, nggak ada talking with friends. Tapi, pas saya pindah ke Indonesia, coba driving sedikit. (Rasanya) seru begitu. Then, my father asked me do you want to be professional golfer? I said, Yes.

Ketika berniat jadi pro, Anda mau pilih mana?

Touring. Tetapi, dari dulu saya suka ngajar. Sejak kecil. Papa saya waktu di militer juga ngajar, matematika, science, dan history. Mungkin (bakat mengajar) ada keturunan juga.

Mengapa tidak terpikir untuk balik ke Korea untuk mengembangkan golf di Korea?

Soalnya, saya terpikir dari awal, banyak teman saya yang habis balik ke Korea jadi agak rusak (golfnya). And I know me well, kalau di Korea no one can handle me like my father, my mother, or my grandmother. Kalau saya pindah ke Korea, dan nggak ada yang bisa tahan saya, pasti kabur ke mana-mana. Saya takut itu for my career. I’m really go out person. I’m the only child. Maunya di luar rumah terus.

Anda akhirnya memutuskan berkarier di sini. Tidak menyesal dengan keadaan kompetisi di sini yang tidak semeriah di sana (Korea)?

Saya pernah main di Korea ketika saya amatir. Waktu tanding di Korea, saya awalnya terpikir golf Indonesia tidak berkembang dibanding Korea. Aku kan aku latihannya di Indonesia, pas tandingnya di Korea, itu tidak terlalu berbeda. Kalau di Korea banyak doang (turnamennya).

Jadi awal (bertanding) ke Korea saya agak takut, kalau ini missed cut bagaimana… Tapi ketika tanding, saya lolos cut. Saya mikir wah ini nggak begitu beda juga, Korea sama Indonesia. Cuma Indonesia itu kurang players-nya.

Itu rupanya yang membuat Anda bertahan di Indonesia?

Kalau di Indonesia bisa (main) bagus, bisa ikut Asian Tour. Saya pernah ikut ADT dan Asian Tour event. I felt more comfortable at here. Kalau di Korea main golf, harus naik mobil 2-3 jam. (Lapangan golfnya) Not really in the center of city. Cost-nya termasuk mahal. Quality of course-nya di sini malah lebih bagus. Fasilitasnya much better in Indonesia. Di Korea, mau latihan short game, mesti bayar juga. Teman main golf saya lebih banyak di Indonesia karena I didn’t play golf when I was in Korea.

Siapa yang paling berjasa bisa membentuk Anda sekarang ini?

My father. For me, he is a coach and a father. My only coach is my father.  He sacrificed for me a lot. Tipikal orang tua Korea tahulah seperti apa. Galak. At that time, I really hated my father. Why I have to (do) this and this…. Sekarang saya mikir my father wanted me to do by your own. Baru saya mengerti, when I’m getting old, he helps me a lot to make me discipline. I understand what he wanted to tell. I respect him to make me like this.

Kapan Anda turn pro?

Saya turn pro 2016.  Umur 20.

Apa yang membuat Anda merasa sudah siap untuk jadi pro?

I played in professional tournaments a lot, as an amateur. Saya pernah hampir dapat low amateur (dan masuk Top 10). Di sini (Senayan Golf Club, 2014). Saya pun beberapa kali tembus Top 10. Saya rasa saya sudah siap. Then, I ikut qualifying school.

Sejak 2016, jadi pro, bagaimana pengalaman yang Anda rasakan hingga sekarang?

At that time, setiap bertanding pasti nervous. Jadi pas tanding dengan latihan, pasti beda. I can feel it that my swing was suck. Jadi saya berpikir saat latihan saya merasa seperti bertanding. My biggest ties (was) ranking 5th di Lotus Lakes (2017). Waktu itu, room mate saya Rinaldi. Dia pemain bagus. Saya bilang (ke dia), kalau besok main di bawah 2 over, saya bisa dapat nomor 5. Rinaldi bilang, harus Min Sub, pikir positif. Ternyata, I made it. Then, I know how to overcame my nervous.

Tahun berikutnya, saya ikut turnamen di Modern yang dimenangi Rory. Saya di T3. I have my first experience in contention. Saya deg-degan. Tetapi karena pernah dapat pengalaman seperti itu, masuk Top 10 or Top 5, at that time saya lebih santai. Sampai hole 5 (main 3-under) saya naik ke posisi dua. Habis itu saya lihat leaderboard. Berikutnya, saya bogey, bogey. Setelah itu, turun, turun…. Bagaimana ini? Benar, saya mestinya lihat buku saja (yardage book). Kalau lihat itu saja kan, saya tidak akan lihat yang lain-lain. Lihat leaderboard, jadinya makin deg-degan. Habis itu, saya hanya mikir my swing, my shot. Saya mulai buat birdie lagi. Bisa recover. I played even par. Saya bisa No. 3 (T3).

2019, saya dapat injured. Right shoulder. Main saya sedikit berkurang. 2020, saya berpikir bahwa saya bisa membuat sesuatu (untuk karier profesional). Eh, pandemi datang.

2020, Anda rutin melatih. Saya dengar beberapa murid Anda adalah selebritas. Bagaimana melatih mereka?

Saya memperlakukan mereka sama, sebagai murid saya. Semua murid saya sama. I really take care of them. I want to be friendlier. You as CEO, you as celebrity, I don’t care.

Anda punya beberapa selebritas yang menjadi murid Anda. Bagaimana mereka bisa tahu Anda?

I don’t know. My first student is Ayu (Dewi Kusumawati), model dan presenter kondang. I don’t know where she got my number. Saya (hanya) dengar dia awalnya ke Cilandak (driving range) dulu. Tanya ke bagian informasi, di sini katanya ada coach Korea yang muda. Lalu, mereka bilang Min Sub sudah pindah ke Senayan. Terus, Ayu ke Senayan. I—as a Korean—really don’t know about Indonesian artists. She came to me, wanted me as her coach. I said ok. ‘What’s your name?’ ‘Ayu’. Level, beginner. Saya (tetap) nggak tahu siapa dia.

Second session, dia bawa cameramen. Saya pikir oh dia YouTuber. Kebetulan, kalau jadi murid saya kan, mereka harus tulis student profile. Saya suruh dia nulis. Namanya Ayu Dewi. Lahir tahun kapan…. Pernah injury tidak. Saya heran dong, murid saya kok sampai bawa cameramen? Saya cari (nama dia) di Instagram. Hah…you’re artist! Kan ada mark warna biru itu. I was… wow!

Lalu, Luna Maya?

Luna. First time I met her, I was teaching Ayu. Terus, kata dia (Ayu), ada temannya mau datang. Waktu itu, someone entered Senayan (driving range), walking weird. Orang-orang sampai menengok (ke arah dia). Aku lihat kan. Maybe she has something. Terus, dia tiba-tiba duduk di samping Ayu. Dia bilang, “Hai”. “Halo (kata saya), temannya Ayu?” Terus, dia nonton Ayu mukul. Dia ingin coba. Dia nggak bisa mukul sama sekali. Saya ubah sedikit, dia langsung bisa pukul because she has talent. She is really sporty person. Daya tangkapnya cepat. Setelah kenanya bagus, dia tanya. “Aku mau les juga dong sama kamu.” At that time, aku rejected. “Cannot, I have fully schedule.” Terus, dia bilang sok sibuk. I was… “Look at my schedule, really full now.” Ok, she said, I waited for you. Please, let me know if you have a time.

Lalu, ada orang yang tanya, “Minsub, kamu tahu dia siapa?” “I don’t know.” “Emang siapa?” Terus dia bilang, “Artis, Luna Maya.” “Hah, Luna Maya?” Orang itu suruh aku cari nama Luna Maya di Instagram. Aku cari. Owh…

Apa pesan yang bisa disampaikan pada junior atau amatir yang ingin terus melanjutkan karier golfnya?

First thing you believe what you have to do. Keep progressing. Don’t give up. Golf itu kayak life, banyak up and down. Sometimes we can be good, sometimes we can be bad. Itu kan nggak ada waktu, atau kapan you might go down. Don’t be too disappointed to yourself, just keep your progress. Dan does other things too. Don’t be too focus on golf. Jadi sebagai teenager kamu bisa dapat pengalaman banyak dari luar golf. Dan kamu harus lepas stres. Do what your enjoy too.

Siapa pegolf favorit Anda? Dan mengapa dia?

Phil Mickelson because he really care about family. Saya pernah baca berita bahwa dia withdrew from US Open 2017 karena harus mementingkan keluarganya (usai menghadiri acara kelulusan, Phil tidak dapat mengejar tee time putaran pertama US Open, sehingga ia memutuskan untuk mundur). Ia juga suka tersenyum pada penonton, dan memiliki sikap yang baik.

 

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE