AUTHOR

OBGOLF

24 August 2021

Kelola Lapangan Naluri Pegolf

Sejak November tahun lalu, Francis Dehnhardt menahkodai Imperial Klub Golf. Mengelola lapangan golf bukan hal yang baru bagi pria berdarah Jerman ini. Pengalaman panjang di bidang hospitality industry membuat Francis bisa beradaptasi dengan hospitality di lapangan golf. Kelebihan lainnya, Francis merupakan pegolf berhandicap 10 yang sudah mengayunkan stik lebih dari 20. Berlatar seorang pegolf inilah, pria yang menjabat Area General Manager Arya Duta Hotel, Country Club, dan Imperial Klub Golf ini paham keinginan dan harapan para pegolf yang bisa dijadikan bahan untuk melakukan improvement demi kenyamanan para tamu di Imperial Klub Golf. Berikut perbincangan OB Golf dengan pegolf yang pernah memiliki handicap terendah di angka 7-8 ini.

Bisa diceritakan sedikit bagaimana Anda bisa berlabuh di lapangan golf?

Sebenarnya saya--dengan passion dan (latar belakang) pendidikan--seorang hotelier. Sekolah perhotelan di Swiss dan Bandung. Sekitar 1998-1999, saat bertugas di Batam, saya dapat kesempatan untuk me-manage suatu kompleks perhotelan dan lapangan golf. Di situ saya mulai mencoba main golf, dan betul-betul addicted. Saya senang main golf karena memang seorang golfer, bukan karena me-manage (lapangan golf). Karena pendidikan saya di hospitality industry, ada banyak persamaan dari sisi hospitality, service, grooming, kebersihan, dan thinking out of the box untuk membuat produk-produk lebih inovatif dan lebih unik. Sedikit perbedaan antara hotel dan lapangan golf. Jadi, saya adjust saja hotel management dengan golf course.

Sebagai pegolf yang juga bekerja di lapangan golf, apa yang bisa Anda lakukan dalam me-manage lapangan golf ini?

Satu sisi sebagai golfernya, saya ingin terapkan keinginan dan harapan—apa sih yang kita dapatkan dari lapangan golf. Saya juga mengakomodasi harapan-harapan seorang golfer. Sebagai seorang pegolf, apa sih yang kita harapkan dari lapangan? Lapangan, buggy-nya, changing room, makanan-minuman, dan harga. Dari ini semua, kita masukkan dalam satu bagian untuk di-manage agar lebih baik.

Pengalaman mengelola lapangan golf?

Tahun 2000 saya pernah memanage Paradise Bay Golf (sekarang Batam Hills Golf) di Batam. Lalu, di Bintan, sempat me-manage hotel serta lapangan golf Jack Nicklaus dan Ian Baker Finch, Bintan Lagoon, sebagai GM di sana.  Sekarang ini bergabung dengan Hotel Aryaduta, Country Club Aryaduta, Water Boom Aryaduta, dan Imperial Klub Golf. Jadi sebenarnya sudah 21 tahun terjun di hospitaliy industry/golf clubs.

Kiat-kita apa saja yang  Anda lakukan dalam menata hospitality industry di Imperial ini?

Kita ada fokus pada tiga hal untuk sekarang ini. Satu, fokus kita adalah speed of the green. Kita punya hashtag #oneofthefastestgreeninindonesia. Seorang pegolf pasti selalu senan--jika putting--speed of the green-nya itu licin. Mereka tetap akan marah, kalau terlalu cepat atau terlalu pelan. Namun, marahnya ini beda. Kalau terlalu pelan, mereka akan sungguh-sungguh marah. Tapi kalau terlalu licin, ini, “marah” dengan bahagia. “Gila, ini green licin banget.” Jadi kita selalu ingin kecepatan green itu di atas 10,5, dan kalau memungkinkan 10,8; 10,9; dan mentoknya di 11. We want to make one of the fastest green in Indonesia.

Hal kedua, kita training para caddie kita untuk melayani para pegolf dengan ekstra. Maksudnya, ekstra sopan, knowledge-nya juga ekstra lebih baik, mereka know how to jawab pemain ekstra jelas dan bagus. Kita training kan. Lalu, semasa pandemi ini, kita selalu utamakan kebersihan dan hygiene-nya. Supaya pemain ini merasa tenang dan nyaman. Kita juga jaga social distancing dan melakukan penyemprotan disinfektan. Ini selalu kita drill agar pemain nyaman dan puas.

Yang ketiga, perubahan menu makan di club house. Kita tahu pegolf ini kan orang-orang yang sering keliling. Mereka juga tahu mutu yang baik. Pada akhirnya mereka akan makan yang enak. Jadi, kita bikin satu menu yang compile the best Indonesian menu atau best western menu.  Kita bikin Top 10 menu, supaya pemain itu puas. Jadi bukan sekadar main golf puas, lapangannya bikin puas, caddie dan pelayanannya bikin puas, melainkan juga perutnya puas.

Sejak memimpin Imperial Klub Golf pada November tahun lalu, apa improvement yang Anda lakukan?

Saya kira kita bikin milestone. Ada beberapa. Pertama, ada perbaikan di driving range yang sedang dibangun sekarang. Kedua, membangun lima VIP rooms. Sejak pandemi ini kan kita nggak boleh ramai-ramai. Kalau bisa, beberapa orang saja. Mereka cenderung kumpul dengan teman-teman main yang masing-masing sudah diketahui negatif dalam satu ruangan sehingga lebih convenient. VIP rooms yang sedang kita bangun ini kelasnya bintang lima, interior, kamar mandi dan fasilitas lainnya. Yang ketiga, billing system. Kita maunya touchless, artinya saat check in, waktu terima di porter, pegolf akan terima kartu yang berfungsi untuk semua transaksi dan kegiatan di Imperial. Ini yang sedang kita upayakan berjalan dalam beberapa bulan ke depan. Keempat, kita bangun kios-kios di beberapa hole agar mereka bisa menikmati makan di sela-sela main dalam area terbuka.

Bicara soal Imperial, apa sih keunikan lapangan ini?

Imperial ini selesai (dibangun) pada 1993. Desainernya orang Skotlandia, Desmond Muirhead, yang biasa membangun link golf course. Link golf course ini adalah satu lapangan yang tidak memiliki banyak pohon. Namun, di sini, (konsepnya) diubah, dibuat suatu link golf course tetapi banyak pohon.  Sehingga kita tidak bisa sebut Imperial itu link golf course. Imperial itu adalah golf course sesuai dengan standar yang ada, normal golf course.

Desmond juga membuat tantangan di lapangan ini. Tidak ada yang namanya flat lie atau area yang datar. Selalu akan miring. Kontur di fairway uneven. Undulated fairway, undulated green. Di mana pun itu.

Lalu, setiap hole diberikan nama sesuai filosofi. Contohnya, signature hole kita, hole 5 par 3, yang diberi nama the Temple. Itu bentuknya seperti Candi Borobudur, kalau dilihat dari atas. Ada juga namanya Ratih, ladies hole. Kalau dari atas atau samping kita bisa lihat hole Ratih itu body shape of beautiful lady. First hole itu namanya Start Up, karena kita baru mulai (main). Desmond ini memberikan keunikan, nama dengan tema. Ini yang kita ingin pertahankan, namanya.

Ketika turun lapangan, apa yang biasanya Anda ingat?

First thing in my mind, to win. Biasa kalau main dengan teman-teman. To play as good as possible. Jangan terlalu kaku. Saya selalu ingatkan diri untuk slow swing, jangan mau fast atau hard swing. Jadi, golf course management harus betul-betul kita terapkan. Ada air di depan, out of bound di kiri atau kanan. Itu jangan jadi beban. Itu justru jadi informasi kita untuk main smart. Satu hal yang saya pelajari adalah swing lebih pelan, bola itu bisa lebih akurat dan lebih jauh. It’s not a matter of power, tetapi a matter of flow.

Dream pairing?

Lydia Ko. Dan dua Korean player, Sung-Hyun Park dan So-yeon Ryu.

Mengapa semuanya ladies?

Because I love to watch their swing. Men’s swing too fast. Kalau ladies, lebih gampang ditiru.

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE