AUTHOR

OBGOLF

02 February 2017

(ID) 11 Tahun Pengalaman di Golf

Meski lebih dikenal sebagai pengusaha, Edwin Abeng merupakan salah satu pegolf amatir yang rutin mengikuti turnamen-turnamen kompetitif. Menyandang handicap single, pria berusia 35 tahun ini tidak gentar untuk bersaing dengan para pegolf profesional nasional. “Saya selalu berusaha untuk main di turnamen-turnamen kompetitif. Bermain di ajang seperti ini menawarkan berbagai tantangan dan tantangan-tantangan ini mempertajam pikiran kita.  Ini mendorong kita untuk lebih kreatif dalam memecahkan masalah dan bertujuan untuk meminimalkan kesalahan-kesalahan,” jelas Edwin, yang sudah bermain golf sejak 2006.

Uniknya, 11 tahun lalu, perkenalan Edwin dengan golf disebabkan karena sang ayah ingin mengubah kebiasaan buruk Edwin, sulit bangun pagi. “Ayah saya minta tolong temannya untuk mengajari saya main golf karena olahraga ini menekankan disiplin, dan (biasanya) dimainkan pada pagi hari. Jadi, suka atau tidak saya harus bangun pagi. Karena golf, saya terbiasa bangun pagi,” kenangnya.

Namun, ia justru keranjingan terhadap golf. Tiga tahun setelah mengenal golf, handicap-nya menjadi single. Berikut perbincangan menarik antara Komisaris Tason Holding dan OB Golf mengenai aktivitas golfnya di sebuah sore yang cerah.

Apa pelajaran yang menarik dari olahraga ini?

Saya melihat golf itu sebagai a life itself. Golf adalah olahraga melawan diri sendiri. Lalu, kita belajar kedisiplinan dan juga menambah pengetahuan mengenai rules. Di samping, persahabatan dengan orang-orang baru pun bertambah, yang terkadang berlanjut pada urusan bisnis. Di lapangan, kita juga mempelajari sifat-sifat playing partner kita, yang positif ataupun negatif. Jadi, golf itu sebenarnya mencerminkan kehidupan.

Anda hanya memerlukan waktu tiga tahun untuk memiliki handicap single. Apa kuncinya?

Saya memiliki dasar sebagai atlet. Sebelum terjun ke golf, saya adalah atlet junior untuk tenis. Karena itu, saya sudah punya sense of athleticism, competitive edge, dan muscle recognition yang bisa dihafalkan. Di tenis, kita sudah paham gerakan forehand ya seperti itu. Kalau kita main golf, otomatis kita bakal paham bahwa gerakan swing ya seperti itu. Jadi, bekas atlet itu memberikan advantage saat mulai mengenal main golf. Bagi pegolf non-athletic, muscle-nya umumnya belum terbentuk. Jadi, ketika mulai main golf, muscle-nya pasti kaget.

Ketika saya mulai main golf, athletic muscle saya masih ada tetapi saya perlu foundation of the golf basic. Karena itu, saya berlatih pada pelatih pro, yang mengajarkan foundation dan basic golf, serta pengetahuan dari peraturan-peraturan golf itu. Tiga tahun pertama main golf, saya sudah mencapai handicap single.

Bisa cerita sedikit pengalaman Anda sebagai atlet tenis?

Saya main tenis di usia 12 tahun ke bawah, ikut sirkuit di seluruh Indonesia. Saya pernah beberapa kali menjadi juara. Lalu, saya dikirim ayah ke luar negeri, sekolah di Nick Bollettieri Tennis Academy in Florida. Sekolah sambil berlatih tenis, pukul 7-12.30 saya sekolah dan 13.30-18.00 saya tenis. Kegiatan itu saya lakukan selama lima hari dalam seminggu. Tenis ini menjadi jalan bagi saya untuk mendapatkan beasiswa saat kuliah. Saya berhasil mendapatkan athletic scholarship, dan kuliah di University of Texas. Saat kuliah, saya dihadapkan pada dua pilihan: melanjutkan kuliah atau menjadi petenis pro. Teman-teman kuliah saya yang menjadi petenis pro di antaranya adalah Andre Agassi dan Jim Courier. Kamar saya bahkan bersebelahan dengan Agassi. Kami sempat berinteraksi sebagai teman kuliah.

Lalu, mengapa beralih ke golf?

Tenis itu kan membutuhkan fisik yang luar biasa. Training-nya: 3 jam fitness, 1 jam drill, dan 2 jam latih tanding (matchplay). Itu membutuhkan tenaga yang luar biasa. Selain masalah susah bangun pagi, saya pun berpikir jangka panjang (golf) ini bagus untuk saya. Semakin bertambah umur saya, tidak mungkin saya terus main tenis. Saya harus berpikir olahraga apa yang bisa saya lakukan dari sekarang, dan ketika usia tua saya masih bisa menjalaninya. Golf juga membutuhkan persiapan fisik, tetapi tidak sekeras tenis.

Alasan lainnya, saya sulit untuk bersaing dengan para pegolf AS dan Eropa. Selain fisik mereka lebih besar, tenaga mereka itu overpower bagi kita.

Nah, golf tidak seperti itu, butuh tinggi badan dan power. Golf itu mengutamakan course management, teori short game dan lain-lain.

Kini, Anda melihat golf Anda lebih ke mana?

Bersama teman, saya anggap golf sebagai sebuah rekreasi. Tetapi, saya juga suka mengikuti turnamen-turnamen amatir kompetitif dan pro-am. Jika ada kemajuan, saya berpikir untuk turn pro saat senior nanti. Kalau sekarang turn pro, rasanya tidak bisa karena umur saya sudah sangat terlambat untuk bisa bersaing dengan pegolf-pegolf muda.

Apa yang mendorong Anda sehingga mau main di turnamen-turnamen kompetitif?

Saya ingin mengukur sejauh mana kemampuan saya. Jika saya mampu, dan dapat piala, alhamdulillah. Saya hanya ingin tahu apa saya bisa lolos cut. Jika sudah mampu lolos cut, saya targetkan berada di posisi berapa.

Pelajaran apa yang Anda dapatkan bertanding dalam turnamen-turnamen seperti itu?

Saya mendapatkan banyak pelajaran dari para pro. Saya bisa “mencuri” ilmu mereka, atau bertanya bagaimana mereka bisa melakukan pukulan seperti itu. Ilmu (golf) saya pun bertambah.

Selama 10 tahun ini bagaimana Anda menilai permainan Anda?

Handicap saya berada di antara 4-6. Handicap terendah saya ya 4. Me-maintain handicap single ini bukan pekerjaan yang mudah. Saya melihat progress permainan saya semakin baik. Cara mengukurnya itu bukan pada skor yang saya buat, melainkan bagaimana saya meminimalisasi kesalahan-kesalahan saya. Misalnya, saya punya kekurangan di short game. Nah, bisakah saya mengatasi kelemahan short game saya ini? Itu cara saya mengukurnya.

Saya memiliki kelemahan pada pukulan driver. Namun, saya menutup kelemahan itu lewat konsistensi dengan akurasi. Ini saya lakukan pada jarak di bawah 100 meter.

Keunggulan saya ada pada pukulan putting. Teman-teman saya mengakui itu. Saya belajar khusus untuk putting di Leadbetter Golf Academy. Programnya bernama AimPoint, yang mengajarkan saya bagaimana membaca green dengan benar. Saya serius pelajari itu. Itu sebabnya putting game saya bagus. 

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE