AUTHOR

OBGOLF

06 October 2020

Dea Mahendra & Ika Woro Palupi

Kapan mulai kenal golf?

Dea (D): Kenal golf sejak usia 10 tahun. Sekarang saya hampir 30 tahun. Jadi sudah hampir 20 tahun (main golf). 

Woro (W): Saya kenal golf pada umur 9 tahun hingga sekarang. Jadi hampir sama dengan Dea.  

Siapa yang mengenalkan olahraga golf?

D: Ayah saya yang mengenalkan golf. Ia sangat menyukai golf setiap minggu, bahkan setiap hari. Sekali dalam sepekan saya suka diajak ke driving range di Jagorawi Golf. Di sana saya mulai berlatih, dan akhirnya saya dimasukkan ke Aspirasi Delapan (akademi golf).

W: Sama aku juga, Papaku (yang mengenalkan golf). Saat itu aku masih jadi atlet renang. Jadi, sebenarnya pindah ke golf itu karena pelarian. Saya capek banget di renang. Latihan renang itu gila banget, pagi-sore berulang-ulang. Lalu, Papa kan main golf tiap hari. Awalnya ikut latihan dengan Papa, mulai diseriusin. Lama-lama ditantang, bisa juara sekian, renangnya berhenti. Awalnya dari situ. 

Kesan pertama melakukan swing untuk pertama kali, menggunakan club yang real?

D: (Ketika mukul) Nggak kena bola. Kalaupun kena, topping. Kadang kena, kadang enggak.

W: Berat. Stik itu berat waktu pertama kali ngangkat club. Waktu itu kan masih kecil, pakai stik orangtua. Ketika sudah mulai serius, dikasih stik sesuai tinggi badan dan power saat itu. 

Pengalaman main ketika junior dan amatir?

D: pertama kali main di turnamen junior, saya finish di posisi ketiga. Oke, saya bisa melakukannya. Saya lanjutkan (aktivitas berlatih golf). Di amatir, saya ikut beberapa turnamen. Cuma karena nggak banyak, saya harus bertanding ke luar negeri, dan itu tidak murah. Jadi, tidak terlalu sering. Hanya beberapa turnamen saja. Itu tidak mudah karena menghabiskan waktu di perjalanan dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. 

W: Main di junior dan amatir tidak terlalu berbeda jauh. Ketika di amatir, angkatannya masih sama. Jadi pemainnya ya itu saja. Kecuali, di beberapa tahun terakhir banyak generasi baru di bawah saya. Sedangkan, pemain-pemain amatir yang seangkatan juga sudah beralih ke pro ataupun aktivitas lain sehingga makin sedikit. 

Di turnamen junior atau amatir, sempat main bareng nggak?

D: Sering banget. Kalau main sama Woro, ah gila. Rasanya seperti bakal banyak tertawa, banyak cerita lucu, dan saya harus menjaga permainan saya. Saya harus fokus. Ia akan heboh seperti biasanya. Saya sadar sekarang.

W: Aku juga kalau sama Dea juga kayak gitu. Nih orang kan serius nih (menunjuk Dea). Cuma dia itu nggak bisa diam-diam lama begitu. Kalau dia serius, ya sudah aku jauhi dulu. Sampai nanti dia ngajak becanda duluan. Ujung-ujungnya ya kita menikmati permainan saat itu. 

Untuk Dea, bagaimana pengalaman golf college membentuk permainan Dea dibandingkan sebelum kuliah?

Jadi, benar-benar membuka mata. Anda bertemu banyak orang dari berbagai belahan dunia, terutama dari Eropa. Saya kuliah di University of New Mexico (tahun ketiga hingga lulus) and Lander University (dua tahun pertama), banyak wanita Eropa yang mukulnya jauh-jauh. Mereka melakukan segalanya sendiri, dan saya banyak belajar dari mereka—permainan dan seberapa jauh pukulan mereka. Berlatih di gym. Mereka itu rajin ke gym sehingga kuat-kuat, dan makan makanan yang menyehatkan. Itu memotivasi saya agar bisa seperti mereka. Menjaga gaya hidup sehat.

Woro, ketika beberapa teman golf amatir memutuskan untuk golf college, Anda tetap memutuskan untuk kuliah di sini. Mengapa?

Aku sebenarnya mau ambil scholarship. Namun, saat itu keadaan tidak memungkinkan. Ada masalah internal keluarga yang sedang diselesaikan. Saya sendiri sudah dapat tiga tawaran scholarship dari tiga universitas. Salah satunya adalah besiswa 100 persen dari Lander University. 

Pengalaman paling berkesan selama bermain di amatir?

D: Di Malaysia, Melaka Open 2010, saya finis T1, sehingga harus playoff. Di playoff pertama, saya sebenarnya punya peluang menang. Bola saya di fairway hanya 100 yard ke hole, lawan saya di rough. Ketika ia pukul, bolanya masuk bunker. Saya sendiri melakukan pukulan yang ngeseng sehingga miss dari target. Akhirnya, saya bogey, dia pun bogey. Di hole berikutnya, ia menang dengan bogey.

W: Menang beregu putri di SEA Games 2011, dapat emas. Pengalaman kedua adalah hole in one di Queen Sirikit Cup 2012. Walau nggak juara, senang juga bisa hole in one di turnamen gede. Saya dapat voucher sebesar 1.000 dolar Singapura untuk beli peralatan golf. 

Kapan memutuskan menjadi pemain profesional?

D: Saya jadi pro pada 2016. Soalnya, saya sering main di turnamen amatir di AS, finis Top 10 dan Top 20. Jadi, saya pikir saya sudah siap. Ketika surat untuk legalitas sebagai pro sudah selesai, Juni 2016 saya resmi pemain pro.

W: Saya baru Agustus kemarin. Awal Agustus pengajuan surat untuk menjadi pemain pro. Agustus akhir resmi menjadi pro. 

Mengapa menjadi pro?

D: Ketika kecil, saya dan ayah menonton Annika Sorenstam di TV. Lalu, ayah bilang mungkin suatu saat kamu bisa main bareng dengan Annika. Meski Annika sudah pensiun, saya tetap ingin menjadi pemain pro. Saya ingin ayah bangga. Dan saya melakukan ini untuknya dan juga untuk saya sendiri.

W: Saya resign dari kantor pada Januari lalu. Bersamaan dengan Covid-19 ini, saya pun mesti berpikir untuk survive. Saya sudah tidak ada keinginan untuk bermain di amatir lagi. Dan saya punya pengalaman melatih orang dari dulu di bidang apa pun. Karena itu, saya percaya diri bahwa saya punya kemampuan untuk mengajar. Bagi saya, ngajarin orang itu bikin happy. 

Dea, sejak menjadi touring profesional, bagaimana pengalaman di arena ini?

Sejak menjadi pro pada Juni 2016, saya tampil cukup baik karena persiapannya sudah cukup banyak sejak kuliah. Pada 2017, saya bisa menempati posisi 13 di money list. Saya sudah bekerja keras untuk itu. Lalu, saya ikut LPGA Q School, tetapi gagal lolos di stage 2 dengan selisih 2 stroke. Saya pun memutuskan untuk kembali ke Asia, main di Thailand Tour. (Turnamen-turnamen) Mereka punya rangking dunia. Begitu pula dengan China dan Australian Tour. Jadi, sekarang saya berada di Jakarta. Pengalaman di Asian Tour, karena satu-satunya dari Indonesia, saya tinggal sekamar dengan pegolf-pegolf dari Negara lain. Namun, lebih sering dengan pegolf Jepang yang tidak fasih berbahasa Inggris. Perlu diketahui juga, menjadi touring pro itu sangat berat. Selain mendapatkan hadiah uangnya, kita juga harus melakukan apa pun sendiri, mengatur sendiri dari datang hingga bertanding. Pokoknya, secara mental dan fisik, kita harus siap. Apalagi, di AS, dari satu lokasi ke lokasi pertandingan lain, jaraknya cukup jauh dan melelahkan. Namun, yang menyenangkan, bertemu berbagai pegolf dari berbagai Negara. Dan ini cukup menghibur. Kalau di Asia, kita masih terbantu dengan transportasi, hotel dan sebagainya yang disediakan panitia penyelenggara. 

Woro, untuk menjadi pelatih kan, diperlukan pengetahuan mengajar dan kemampuan berkomunikasi. Bagaimana Woro menggali dua hal tersebut agar bisa mengajarkan keahlian golf kepada para murid?

Pertama, ambil pengetahuan dengan mulai buka YouTube. Cari materi-materi yang kita butuhkan untuk mengajar. Harus banyak tahu sumber-sumber pembelajaran. Kedua, saya mau ambil lisensi untuk teaching pro. Rencananya, Oktober ini akan ada pelatihan teaching di sini, dan saya berencana untuk ikut. Lalu, saya juga akan ikut lisensi TPI dari Titleist. Sebelum ke situ, saya sementara buka-buka Youtube untuk mengetahui karakter orang (calon murid) lebih dalam. 

Oh ya, Dea, bagaimana dengan dukungan sponsor?

Saat ini belum ada sponsor tetap dan penuh. Saya dibantu orang tua. Apparel disponsori oleh Svin Golf, club oleh Callaway US (30% ), serta bola dan Sarung tangan di sponsor oleh Titleist Indonesia.

Selama pandemi Covid-19, apa saja aktivitas Dea (touring pro) dan Woro (teaching pro)?

D: Pandemi ini memberi hikmah bagi saya. Selama tiga tahun terakhir ini, saya benar-benar memforsir fisik dan mental saya untuk bermain golf tanpa henti. Sekarang saya sadar bahwa saya punya masalah kesehatan. Jadi saya bisa fokus untuk fisik dan mental saya. Dua tahun terakhir, saya benar-benar kelelahan. Jika lolos cut, saya bahagia dan bisa tidur sepanjang hari setelah turnamen karena kelelahan. Saya pergi ke dokter, dan dibilang saya punya masalah di liver (hati). Beberapa bulan ini saya sudah lebih baik. Saya merasa lebih enteng dan kuat. Semoga ke depannya saya bisa menjaga asupan nutrisi lebih baik lagi. Selain golf, aku bekerja dengan Athletes USA Indonesia. Di sini, saya bertugas mencari student-athlete yang ingin mendapatkan beasiswa sport dari universitasuniversitas di US.

W: Selama pandemi, golf makin ramai. Atmosfer golf lagi hype banget. Saya kan baru pro ini Agustus kemarin. Belum promo ke mana-mana, tetapi saat ini jumlah murid yang dibimbing saya lebih dari 10 pegolf. Semuanya pendatang baru. Mereka ini umumnya mendapat info tentang saya dari info temannya yang sedang saya latih atau mereka lihat saya sedang melatih orang. Mereka ini posting di sosmed-nya masing-masing. Promonya (dari mereka) dapat, lalu direct selling juga sama. Saya merasa keputusan saya (menjadi teaching pro) ini dapat momen yang pas. 

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE