AUTHOR

OBGOLF

06 October 2020

Alit Jiwandana

Namanya adalah I Nyoman Pasek Jiwandana. Namun, ia lebih dikenal dengan Alit Jiwandana. Nama Alit ini kemudian identik dengan Main Golf Yuk (MGY), akun golfnya di media sosial. Melalui MGY ini, Alit yang merupakan sarjana lulusan Universitas Parahyangan Bandung ini secara tidak langsung mengubah persepsi golf sebagai olahraga yang sulit dijangkau, khususnya buat mereka yang awam terhadap olahraga ini. Bermula dari akun di Twitter untuk mengajak orang main golf bareng, MGY telah merangkul mereka yang baru kenal golf ataupun nggak pede main golf untuk menikmati olahraga ini lewat atmosfer yang ditebarkan MGY. Berikut bincangbincang ringan dengan Alit soal perjalanan golfnya dari mulai kenal olahraga hingga akhirnya menjadi seorang golf influencer.  

Bisa diceritakan, bagaimana awal kenal golf?

Kenal golf itu dari kecil ketika umur 6 tahun. Punya ayah karyawan asuransi yang menjalani golf sebagai “kewajiban” pekerjaan, saya pun diperkenalkan ke olahraga itu, menemani papa driving. 

Mulai serius?

Di usia 11 tahun. Satu kali saya driving hingga tiga hari berturut-turut dalam seminggu. Lalu, saya minta Papa untuk ikut les golf. Waktu itu memang permintaan yang nggak umum. Kan biasanya anak seumuran saya (waktu itu pasti) minta les sepakbola, renang, ataupun piano. Mama pun mencarikan tempat buat berlatih golf. Ketemu di Pondok Indah Golf. Ada dua pilihan: Pondok Indah Golf Academy atau Aspirasi Delapan. Akhirnya, dipilih Aspirasi Delapan (AS 8). Dari umur 11, pada 2001, saya mulai kenal golf lebih dalam hingga nyemplung ke sirkuit golf junior.  

Sejak itu, ada perubahan cara pandang nggak terhadap apa pun?

Saya melihat sisi positifnya banyak. Contoh, saya di usia yang masih sangat muda biasa main dengan teman-teman papa yang usianya jauh di atas. Jadi ketika ketemu bapak-bapak atau para senior, dah nggak minder lagi. Mungkin nggak nyambung. Tapi, pada akhirnya terbiasa tenang ketika ngobrol dengan orang yang lebih tua atau mature dengan segala macam obrolannya. Kita mungkin belum ngerti. Tapi akhirnya kita terpacu untuk mengejar informasi-informasi tersebut. Jadi, kalau main sama orang yang lebih senior, kita bisa ngejar obrolan mereka. Itu sisi positif yang sederhana. Dari sisi yang lain, disiplin. Kita menyiapkan waktu yang efektif kalau mau ngejar jadwal main pagi. Itu sebenarnya membentuk karakter kita sampai sekarang.  

Jadi, golf telah membuka jalan Anda menjadi seorang atlet?

Yang pasti, AS 8 sebagai akademi golf ini memperkenalkan kita adanya sirkuit junior. Jadi, saran saya untuk teman-teman yang punya keponakan atau adik-adik yang mau menekuni golf, coba ikut salah satu sekolah golf supaya nanti dikenalkan dengan sirkuit tersebut, pertandingan atau komunitas golf. Itu saya pertama kali nyemplung ke pertandingan-pertandingan yang sifatnya prestasi, bukan fun tournament. Dari awal yang mainnya jelek banget, 100-an, terus 90-an, tetapi pelatih bilang, Tenang, ini masih berproses. Sampai akhirnya teman-teman yang dulunya lebih jago sudah mulai terkejar. 2005-2006 sudah ada panggilan dari Negara, untuk mewakili ke turnamen-turnamen internasional. Mungkin kalau nggak ikut AS 8 atau akademi golf, nggak tahu sama sekali ada pertandingan-pertndingan seperti itu dan ada kesempatan untuk bela Negara atau main PON. Dari 2003, umur 13 tahun sudah ikut turnamen prestasi itu. 

Golf tampaknya sudah jadi jalan hidup….

Saya merasa sudah “ditakdirkan” untuk jatuh cinta golf dari awal. Dari 2001, yang latihan tiga kali berturut-turut, tiba-tiba minta les golf. Bagi saya, yang masih kelas 5 SD, itu sudah aneh banget karena golf bukan olahraga tim. Olahraga yang sifatnya kita ngulik sendiri dan kita menang sendiri. Kecanduan terhadap golf ini berasa banget. Contoh, waktu di AS 8, latihan jam 3-5 sore. Mama selalu terlambat jemput. Jam setengah 7 malam, jam 7 malam. Kelamaan menunggu, saya balik lagi ke driving range dan mencari bola-bola sisa buat latihan mukul. Akhirnya, pelatih dan pengurus AS 8 menyadari kebiasaan saya ini. Mereka mengumpulkan bola-bola sisa itu untuk saya. Aneh kan? Mungkin itu jalannya buat saya. 

Sudah bagus di amatir, mengapa tidak berlanjut ke level selanjutnya?

Pada 2008, saya dapat beasiswa dari Ancora Sports. Kita mesti tinggal di mes Damai Indah Golf-BSD Course. Latihan setiap hari. Menjalani program berlatih, mukul, gym, dan turun lapangan. Ternyata, saya sadar bahwa saya bukan orang yang suka menjalani satu rutinitas saja. Rasanya jenuh banget. Saya tidak bisa menghadapi kejenuhan itu dengan baik. Contoh nyatanya begini, sebelum masuk Ancora, saya masin 76 (empat-di atas par). Ketika di Ancora selama enam bulan, skor rata-rata saya 83 (11-di atas-par). Nggak pernah tembus kepala 7. Aneh kan? Dengan setiap hari latihan, setiap hari mukul, ngegym dan makan dijaga, kok malah jelek? Oh ternyata ada faktor X, saya sadar ini yang saya tidak punya dari teman-teman lain. 

Lalu, bagaimana?

Saya berhenti dari sana, dan memutuskan untuk kuliah saja. Saya sempat tidak main golf enam bulan, saking jenuhnya. Ketika balik lagi ke golf, saya menganggapnya sebagai hiburan dan hobi, tambah teman dan relasi. Eh, main bagus. Bisa masuk tim PON 2012 dan 2016.  

Kini, lewat golf, Anda jadi influencer dengan akun Main Golf Yuk di medsos. Waktu itu, bagaimana bisa bisa mengarah ke sana?

Jadi, Main Golf Yuk (MGY), jujur, saya tidak menyangka bisa sebesar ini. Pada 2009, saya kuliah di Bandung. Saya kehilangan teman-teman main golf yang saya kenal. Awalnya, saya buat account MGY di Twitter buat nambah teman golf di Bandung di 2011. Syukur-syukur dengan adanya Twitter yang lagi booming saat itu kita bisa kopi darat golf. Benar sih, ketemu teman-teman di perguruan-perguruan tinggi lain. Oh, ternyata yang main golf itu ada. Cuma nggak kelihatan di radar. Akhirnya, MGY jadi platform mereka untuk cari teman (main golf). 2013, kita sudah bikin main bareng. Kopdar golf. terkumpullah jaringan baru. Ada ombak baru di golf, yang dulunya didominasi orang-orang tua. Kini ada anak-anak muda yang bergerak dari platform sosial media. 

Platform Main Golf Yuk ini seperti apa?

Sampai sekarang nggak ada formula khusus. MGY mesti begini, begitu. Tidak ada. Karena hobi, jadi nggak ada beban. Semua mengalir saja. Saya hanya mengetik dan mem-posting apa yang ada di otak saya. Jadi tidak pernah ada konsep, ini mesti begini dan ini mesti begitu. 

Bagaimana perkembangan MGY sejak dari Twitter?

Ketika di Twitter, MGY lumayan berkembang. Follower-nya bisa sampai 1.400-an. Kecil sih. Tapi spesifik anak golf semua. Di Instagram, lebih banyak (5.500-an), mungkin karena orang Indonesia suka hal-hal yang ada visualnya (gambar dan video). Yang mengejutkan, di YouTube, MGY di YouTube ada sejak 2018, dari subcriber-nya sedikit sekali. Nah, Mei-Juni, setelah kolaborasi dengan YouTuber otomotif, tidak disangka subscriber melesat (hingga lebih dari 3.400-an). Intinya, untuk saat ini, kita mesti kolaborasi. Kita kalau mau main sendiri, nggak akan bisa. 

Siapa saja pengelola MGY ini?

Saya sendiri. Yang lucu begini, saya nggak punya background videographer. Fotografi juga nggak. Kalau nulis, saya bisa. Istri saya fotografer dan videographer. Di awal2 MGY bikin video-blogging (vlog), istri yang editin semua. Karena dia banyak kerjaan, akhirnya saya minta diajari untuk ngedit. Saya diajari dari nol. Saya sampai bikin note untuk menghafal semua proses editing hingga akhirnya saya bisa mengedit sendiri. 

Kini, golf kelihatan lebih hidup karena MGY.

Dalam dua bulan terakhir, MGY itu terbantu dengan wave golf yang lagi besarbesarnya. Sebetulnya ini bukan karena MGY, melainkan karena Covid-19. Golf sebagai salah satu olahraga paling aman di Indonesia. Tidak mengherankan jika driving range tiba-tiba bisa full. 

Bagaimana suka dukanya mengemas golf ini menjadi sebuah tayangan sosmed yang bisa diterima khalayak di saat golf ini masih dalam stigma yang eksklusif di Negara kita?

Stigma bahwa golf itu mahal, golf itu tua, golf itu kaku, rasanya tidak perlu dipatahkan. Cukup dikasih lihat ada sisi lainnya. Sisi eksklusivitas golf, etikanya mengenakan kaus berkerah, itu mesti dijaga. Tapi pembawaannya kan lebih casual. Ketika awal-awal MGY tayang, banyak stigma negative. Tetapi setelah beberapa lama persepsi berubah, menjadi positif. Banyak yang berterima kasih atas tayangantayangan MGY.  

Bagaimana pencapaian Main Golf Yuk hingga saat ini?

Untungnya, MGY tidak membuat tolak ukur atas keberhasilan sekarang. Hasil yang terjadi saat ini ya hanya bisa disyukuri saja. Ketika membuat MGY, saya tidak membuat acuan sama sekali. Saya hanya berpikir market golf masih kecil, yuk samasama kita bikin marketnya. Kalau marketnya sudah terbentuk, kita sama-sama bisa mendapatkan profit.

Untuk ke depannya, apa rencana Alit dengan MGY ini?

Rencana terdekat, saya dengan Angga (Puradiredja, vokalis Maliq & D'Essentials yang juga co-host MGY) sudah partneran sejak 2012. Kita sudah pasang target kalau sudah tembus 1.000 subscriber, kita bakal main golf keliling Indonesia. Ngasih tahu orang di seluruh dunia, minimal teman-teman kita sendiri, main golf di sini itu surganya. 

Selain media, MGY juga mengembangkan diri ke aksesori golf. Apa saja?

Saya bersama dua teman membuat aksesori golf. Namanya Golf Macher. Ada golf marker, bag tag, dan sebagainya. Golf Macher ini kan spesialisasinya di bidang perlogaman. Nah, kita expand ke personalizing golf club, terutama putter dan wedge. Di luar negeri, sudah banyak yang melakukan ini. Putter dibuat jadi warna hitam atau emas. Nanti tulisannya dicat warna hijau atau macam-macam Karena punya tim yang mumpuni melakukan itu, muncullah brand Macheron Golf. Karena itu, tidak berapa lagi kita akan meluncurkan perusahaan yang fokus dalam pembuatan aksesori-aksesori golf. Kita pun melakukan turnamen kecil-kecilan yang spesifik untuk anak-anak muda, batas usia 17-40 tahun.

Sekarang ada sarung tangan MGY juga.

Ide glove ini menarik sebenarnya. Saya sedang ngobrol ama teman, anak sepeda. “Lit, gw lihat insta stories beberapa teman gw, ngepost Main Golf Yuk (MGY). Kayaknya MGY sudah mulai kedengaran sama orang. Berarti industrinya kan sudah kebentuk. Elo coba bikin merchandise-nya aja.” Maka, saya buat saung tangan ini. Ini sarung tangan MGY, bisa dibeli di MGY Merch. Kita bikin intetitas yang berbeda, ada MGY sebagai media dan MGY sebagai merchandise. Tadinya kita belum mau rilis karena baru dapat produsen sarung tangan. Jadi, dagangannya baru ini saja. Mestinya kan kita ada baju, topi, golf bag atau yang lainnya. Jadi, ibaratnya jika buka toko, mesti sudah ada isinya. Namun, ketika kasih sample ke beberapa teman, mereka buat insta story-nya. Jadi, mau nggak mau mesti buka toko dong supaya momennya nggak keburu hilang.

Kesibukan Anda di luar MGY?

Saya bekerja di sebuah perusahaan musik. Angga Puradireja itu bos saya kalau di kantor. Saya kerja di kantor Maliq D’essentials. Saya diminta bantu di bidang talent management sebagai manajer. Selain itu, saya juga personal manager-nya Angga di luar Maliq

Anda mendapat kesempatan main di Jack Nicklaus International Invitational. Bagaimana rasanya bisa tampil ke sana?

Saya ikut Jack Nicklaus Indonesia Invitational pada 2018. Main di BSD, singkat cerita menang. Berpartner dengan Andre Atmadji, saya pun berangkat ke AS, ikut Jack Nicklaus International Invitational di Ohio. Bagi saya, ini hadiah yang tidak bisa dinilai harganya, spektakuler. Buat seorang Alit Jiwandana, jalan ke AS itu adalah hal yang mustahil. Lalu, dapat kesempatan main di sana dan nonton langsung PGA Tour. Buat saya, ini satu kegilaan yang menyenangkan. Dan lebih gila lagi, istri saya sedang hamil tua tetapi dia tetap kasih restu untuk saya agar berangkat. 

Bagaimana pengalaman di sana?

Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Yang pasti, benar-benar luar biasa. Lapangan di AS benar-benar bagus, rapi dan licin. Saya bisa ngobrol dengan Jack Nicklaus, salah satu legenda golf dunia. Lalu, yang heboh itu bisa bertemu langsung dengan Tiger Woods, yang dulu cuma bisa lihat di poster atau televisi. Masih merinding kalau membayangkan momen itu. Karena di tahun kita datang ke sana, Tiger itu baru comeback (ke PGA Tour). Saya baru sadar nonton golf di sana itu kayak nonton bola di GBK. Ramai banget. Apalagi, saat Tiger main, yang nonton luar biasa. Suara riuh orang itu terdengar sampai beberapa ratus meter ke belakang. Ini memang benarbenar pengalaman luar biasa. 

A D V E R T I S E   W I T H   U S

For more information to learn about our advertising opportunities, please complete the following form:

FIND OUT MORE